Jubir Satgas Covid Dadang
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana.

RADARDEPOK.COM – Covid-19 di Kota Depok mulai mengamuk. Tak tanggung-tanggung, kenaikan yang terpapar virus mematikan ini mencapai 100 persen. Rabu (26/1), dari data Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, ada 449 penambahan kasus aktif. Atas ganasnya virus, kini positivity rate naik drastis dari 1,03 ke 4,3.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana menjelaskan, kenaikan kasus yang semakin hari semakin besar. Ini dipicu dari pergerakan masyarakat di wilayah Jabodetabek, sehingga berdampak pada wilayah lainya, seperti kabupaten dan kota. “Sangat mungkin Depok menjadi level 3, karena positivity rate kita naiknya cukup drastis dari 1,03 ke 4,3,” jelasnya, Rabu (26/1).

Dalam dua minggu terakhir, kata Dadang, kasus di Depok semakin meningkat. Namun, pusat perbelanjaan, sekolah, dan pelayanan umum lainnya masih belum ada pembatasan pergerakan masyarakat. Sebab, Depok masih menggunakan peraturan PPKM level 2, yang kemungkinan akan berakhir pada 31 Januari 2022 mendatang.

Sebenarnya, sambung Dadang, di dasboard Kementerian Kesehatan saat ini, Depok berada di level 3. Tapi di Departemen Dalam Negeri, Depok masih diumumkan di PPKM level 2.

Bila Depok masuk dalam PPKM level 3 akan kembali pada peraturan yang membatasi 50 persen pergerakan masyarakat.  Misalnya, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kapasitas 50 persen. Lalu pusat perbelanjaan itu dibatasi kembali. “Anak-anak tidak bisa masuk lagi. Itukan aturan-aturan di PPKM level 3,” ungkapnya.

Peningkatan kasus yang drastis di Kota Depok juga belum terdekteksi virus varian Delta atau Omicron. Depok, masih dalam tahap penelitian di pemerintah pusat yang memakan waktu selama satu pekan. Whole Genom Sequencing (WGS) adalah alat pemeriksaan untuk varian Delta dan Omicron.

“Kalau untuk varian kita masih nunggu hasil yang saat ini kita kirim sampelnya ke pusat. Kalau alat meneliti delta dan omicron itu kan kurang lebih semingguan baru keluar hasilnya,” beber Dadang.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Mary Liziawati juga membenarkan, untuk mendapatkan hasil pasti virus varian Delta atau Omicron harus menanti uji tes yang cukup panjang. “Kita tidak bisa pastikan, jika sedang banyak sampel yang diperiksa. Harus antre, bisa dua pekan,” katanya kepada Harian Radar Depok, Rabu (26/1).

Mengantisipasi kasus peningkatan, pemerintah bersama pihak lainnya terus mengejar cakupan vaksinasi dosis 2 untuk anak dan booster dewasa. Sampai mempersiapkan tempat isolasi terpusat (isoter).

Terkait Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur, kata Mary, sampai saat ini masih aman. Hal ini karena Dinkes juga meningkatkan BOR disamping peningkatan kasus yang meningkat. “Adanya peningkatan kasus, BOR juga ada peningkatan. Walaupun sebagian besar kasus isolasi mandiri di rumah,” paparnya.

Dia menyampaikan, BOR ruang isolasi di RS rujukan pasien Covid-19 sebesar 18,71 persen, pertanggal 25 Januari 2022. Dengan rincian, dari 465 tempat tidur tersedia, yang terisi ada 87 tempat tidur.

Selanjutnya, kata Mary, untuk keterisian tempat tidur di ICU Covid-19 disediakan sebanyak 88 tempat tidur yang tersebar di 24 RS, dan telah terisi sebanyak 4 tempat tidur.  Diketahui ada 24 RS di Kota Depok, 21 RS ditetapkan menjadi rujukan covid 19, baik swasta maupun pemerintah. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar