DIADILI : Lettu Chb HS, sedang mengikuti persidangan militer atas dakwaan tindakan penyekapan dan penganiayaan seorang pengusaha beranama Handiana, di The Hotel Margo.FOTO:INDRA/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Kasus penyekapan dan penganiaan yang dialami seorang pengusaha di Depok, Atet Handiyana Juliandri berbuntut panjang. Sebab, satu orang oknum Perwira TNI Angkatan Darat sudah dihadapkan ke muka Pengadilan Militer II-08 Jakarta, sebagai terdakwa dalam kasus ini.

Dalam sidang perdana yang digelar pada Kamis (27/01), beragendakan pembacaan dakwaan dari Oditur Militer atau jaksa penuntut umum dalam peradilan pidana militer, dengan menghadirkan Lettu Chb. (HS) dalam sidang.

Selaku oditur, Letkol Chk. Upen Jaya Kusuma mendakwa Lettu Chb. HS terlibat melakukan penyekapan Handiyana di The Hotel Margo pada 25 – 27 Agustus 2021.

“Telah melakukan tindak pidana, barang siapa dengan sengaja melawan hukum, merampas kemerdekaan seseorang,” kata Letkol Upen saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (27/1).

Letkol Upen mengatakan,  bukan hanya Lettu Chb HS yang terlibat dalam penyekapan dan penganiayaan terhadap Handiyana, melainkan ada beberapa warga sipil lain yang telah ditetapkan jadi tersangka oleh penyidik Satreskrim Polres Metro Depok. Akibat penyekapan disertai penganiayaan selama tiga hari, Handiyana mengalami trauma dan kerugian materi karena sejumlah harta benda dan uang tunai dirampas.

“Bahwa saksi satu juga mengalami kerugian moril dan material, sampai mengalami shock dan trauma. Sedangkan kerugian materi berupa uang uang sebesar Rp6 miliar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, akibat perbuatannya ini, Lettu Chb HS didakwa tiga pasal berlapis, meliputi dua pasal KUHP, yaitu Pasal 333 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan satu pasal terkait Keputusan Panglima TNI. Letkol Upen meminta ketua majelis hakim Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Letkol Chk Rizki Gunturrida, dengan hakim anggota Mayor Chk Subiyatno dan Kapten Chk Nurdin Rukka, agar mengadili perkara.

“Menuntut bahwa agar perkara di dalam surat dakwaan tersebut diperiksa dan diadili di persidangan Pengadilan Militer II-08 Jakarta,” tuturnya.

Atas dakwaan tersebut, terdakwa Lettu Chb HS dan tim penasihat hukumnya menyatakan bakal mengajukan eksepsi atau keberatan pada sidang lanjutan yang dijadwalkan Kamis (3/2).

Sementara itu, korban penyekapan  menyampaikan terima kasih atas proses hukum yang dilakukan Puspom TNI, Oditurat Militer, dan Pengadilan Militer.

“Jelas di sini komitmen dari pimpinan TNI untuk melindungi warga masyarakat. Saya hanya minta keadilan yang seadil-adilnya sebagai warga negara atas peristiwa yang dialami dari oknum TNI ini,” kata Handiyana, saat dikonfirmasi Jumat (28/1).

Dia menjelaskan, oknum anggota TNI AD dan warga sipil lain menyekapnya merupakan orang suruhan dari seorang warga sipil yang memiliki masalah sengketa perusahaan dengannya. Namun, warga sipil yang merupakan perempuan dan diduga jadi otak pelaku tindak penyekapan tersebut hingga kini belum ditetapkan jadi tersangka oleh penyidik Satreskrim Polres Metro Depok.

“Cuma sampai sekarang tidak ada yang jelas  ini arahnya mau apa, jadi tersangka atau jadi saksi, sementara proses hukum di militer di TNI sudah berjalan,” tuturnya.

Handiyana membeberkan, selain belum ditetapkannya otak pelaku sebagai tersangka, salah satu yang menjadi sorotannya adalah tindakan Satreskrim Polrestro Depok yang sudah menangkap beberapa pelaku sipil namun kemudian melepaskannya Kembali.

“Ada dua orang yang ditangkap tangan di hotel, kemudian tiga hari kemudian mereka dilepaskan lagi dan ditangguhkan penahanannya oleh Polrestro Depok,” bebernya.

Dia menambahkan, sampai saat ini seluruh orang sipil yang ditetapkan tersangka tidak ada yang ditahan. Semuanya masih bebas berkeliaran. Untuk itu dia meminta Polrestro Depok untuk serius mengusut kasus ini.

“Sampai sekarang belum ada kelanjutan laporan penyekapan saya,” pungkasnya.(rd/dra)

Jurnalis : Indra Siregar

Editor : Febrina