minyak ludes
LUDES : Pegawai Indomart, Indra saat menunjukan kondisi rak minyak sayur yang habis di lokasi Indomart Jalan Raya Kartini, Rabu (19/1). ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Masyarakat telah membanjiri berbagai lokasi retail Alfa Mart maupun Indomart, Rabu (19/1). Enak-emak rela mengantre, bahkan mencari mini market hanya ingin mendapatkan minyak goreng murah. Hasilnya, dalam waktu tiga jam minyak goreng seharga RP14 ribu itu laris manis terjual.

Salah satu pegawai Indomart di Jalan Kartini Raya, Indra J mengatakan, dalam waktu tiga jam minyak sayur telah habis diborong masyarakat. “Langsung habis, stok pun ludes,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, Rabu (19/1).

Ia menjelaskan, sejak minimarket buka pukul 09:00 WIB, masyaralat telah ramai untuk mendapatkan minyak sayur dengan harga murah. Semua merek dan jenis hanya Rp14 ribu/liter.

Tapi, kata Indra, setiap masyarakat dibatasi pembeliannya. Maksimal hanya diperbolehkan membeli sebanyak dua kemasan, baik satu liter maupun dua liter. Hal ini agar semuanya kebagian dan adil. Seluruh merek jenis minyak dipatok harga sama, untuk 1 liter sebesar Rp14 ribu, dan yang kemasan dua liter dihargai Rp28 ribu. Harga tersebut sudah ditetapkan dari pemerintah.

Indra menjabarkan, sebelum disubsidi pemerintah, harga minyak perdua liter mencapai Rp40 ribu, lalu untuk yang 1 liter bisa mencapai Rp20 sampai Rp22 ribu.

Karena disubsidi dari pemerintah, stok minyak sayur di minimarket habis tanpa sisa. Tapi kemungkinan akan disuplai kembali, namun belum tahu kapan waktu pastinya. “Kemungkinan besok baru dikirim lagi. Tapi kami pun tidak tahu persis kapan tepatnya stok datang lagi,” lanjutnya.

Sementara, nasib kurang beruntung dialami Agen Husni di Pasar Depok Jaya. Ia menerangkan, kalau minyak subsidi dari pemerintah seharga Rp14 ribu/liter belum sampai di los dagangannya. Sehingga harga minyak yang dijual masih sama dengan sebelumnya, untuk 1 liternya seharga Rp20 ribu sampai Rp22 ribu. Lalu, untuk kemasan 2 liter masih seharga Rp40 ribu.

“Biar adil, kami disubsidi juga jadi semua rata. Tidak hanya di supermarket doang. Walau di pasar kayak gini kan, yang belanja juga banyak bukan cuma di indomart saja,” kata Husni saat dikonfirmasi.

Ia membeberkan, kenapa harga minyak di dagangannya masih mahal. Itu karena distributornya masih tinggi, sehingga harga yang dijual ke pasaran masih tinggi juga. Bahkan yang diketahuinya, terkait harga minyak sayur mahal karena pemerintah juga eksport minyak. Jadi, misalnya kalau di luar negeri berani membayar minyak lebih mahal pasti akan diprioritaskan terlebih dahulu. “Baru sisanya ke kita. Nah jadi stoknya menipis, mungkin pengaruh harga jadi mahal. Stok di saya juga tidak banyak,” bebernya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak telah terjadi sejak Covid-19. Namun kenaikannya secara bertahap, misalnya minyak merek Sunco dalam satu minggu bisa dua kali naik harganya. “Naik sudah setahunan kali ya, kurang lebih. Kalau tidak salah pas covid. Naiknya bertahap dalam satu minggu,” tegasnya.

Terpisah, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, minyak goreng murah ini diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga serta usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. “Masyarakat dihimbau untuk tidak perlu melakukan panic buying atau belanja secara berlebih-lebihan karena pemerintah sudah menjamin bahwa pasokan dan stok minyak goreng dengan harga Rp14.000 per liter dipastikan akan mencukupi kebutuhan masyarakat,”  ungkapnya, Rabu (19/1).

Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah mempersiapkan dana senilai Rp7,6 triliun yang digunakan untuk membiayai penyediaan minyak goreng bagi masyarakat sebesar 250 juta liter perbulannya. “Saya sangat mengapresiasi kepada 34 produsen minyak goreng yang telah menyampaikan komitmennya untuk turut berpartisipasi dalam penyediaan minyak goreng satu harga untuk seluruh masyarakat Indonesia” tutur Muhammad Luthfi.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan kewajiban pencatatan ekspor yang mulai berlaku pada 24 Januari 2022. Pencatatan bagi pelaku usaha yang akan melakukan ekspor Palm olein maupun CPO dimaksudkan untuk memantau ketersediaan minyak goreng di dalam negeri. Melalui kebijakan ini, diharapkan masyarakat dapat memperoleh minyak goreng dengan harga terjangkau, dan produsen juga tidak dirugikan.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar