Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dengan tegas meminta Anggota DPR RI Arteria Dahlan untuk menyatakaan permintaan maaf kepada masyarakat sunda karena telah mencederai hati orang sunda.

“Jadi saya meminta Arteria Dahlan sebaiknya meminta maaf kepada masyarakat Sunda di nusantara ini. Tapi kalau tidak dilakukan, pasti akan bereskalasi, karena sebenarnya orang Sunda itu pemaaf. Jadi saya berharap permintaan maaf dilakukan,” tegas Kang Emil sapaannya.

Menurut Ridwan, kalau sampai dicopot itu merupakan hal yang berlebihan, sebab tidak ada dasar hukum yang mengatur itu.

“Tapi kalau bentuknya meminta untuk diberhentikan jabatan menurut saya terlalu berlebihan. Tidak ada dasar hukum yang jelas mengatur itu,” ungkapnya.

Kang Emil sangat menyesalkan perbuatan yang dilontarkan Anggota DPR RI tersebut, karena bahasa sunda yang telah ada ribuan tahun itu, sebagai bentuk kekayaan di nusantara.

Dilokasi terpisah, salah satu Budayawan Kota Depok, Ahmad Sastra Prayuanada mengapresiasi langkah tegas yang dilakukan orang nomor satu Jawa Barat tersebut.

“Jelas saya sangat mendukung Gubernur Jawa Barat itu, karena hal itu sebagai bentuk kemajemukan yang harus dipelihara dan dilestarikan,” katanya kepada Radar Depok, Kamis (20/1).

Pria yang juga menjabat Ketua Yayasan Jelajah Bumi Nusantara ini juga meminta pada Arteria Dahlan agar bijak dalam menghadapi permasalahan tersebut.

“Saya minta Arteria Dahlan agar bersikap bijak terhadap permasalahan ini. Kalau bisa permasalahan ini diselesaikan dengan baik dan di dalam internal saja. Tidak perlu meluas ke media sosial, yang nantinya dampaknya akan meluas,” ucapnya.

Perlu diketahui, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bereaksi setelah Anggota DPR RI Arteria Dahlan melarang salah satu Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) menggunakan bahasa sunda dalam rapat yang digelar bersama Wakil Rakyat di Gedung Parlemen.

Kejadian tersebut juga menfundang reaksi seluruh masyarakat sunda yang berada di Nusantara, pasalnya hal tersebut dinilai mengandung unsur sara. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya