ptm depok
BELAJAR : Siswa SMPN 14 Depok sedang melaksanakan PTM Terbatas di ruang kelasnya, Senin (3/1). PEBRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Emak-emak yang biasa pusing mengajarkan anak saat belajar daring, pekan depan akan terbebas. Kota Depok memastikan 10 Januari 2022, siap menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Selama sepekan Depok kini mempercepat vaksinasi bagi peserta didik.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, pembelajaran Tatap muka 100 persen sudah disepakati oleh SKB 4 Menteri. Bahkan, di SKB 4 Menteri ada ketentuan yang mengatakan tidak memperkenankan kepala daerah membuat syarat baru. “Artinya ini penuh kewenangan dari kementerian empat menteri, kita tidak bisa laksanakan. Cara antisipasinya, saya bilang untuk mempercepat vaksinasi peserta didik,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Senin (3/1).

Idris menjelaskan, dalam SKB 4 Menteri tidak ada syarat  vaksinasi peserta didik. Namun, yang ada hanyalah syarat vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan yang di haruskan mencapai 80 persen. Di Depok sudah mencapai 90 persen. Menurutnya, yang menjadi masalah adalah, vaksin anak di Kota Depok yang masih menginjak 62 persen.

“Ini yang menjadi masalah, anak didik kita baru 62 persen, sementara besok belajarnya tanggal 10 Januari. Makanya saya minta dipercepat paling tidak 70 atau 80 persen. Mudah-mudahan bisa 100 persen,” jelasnya.

Vaksinasi pelajar SMP sudah selesai dilaksanakan. Rata-rata pelajar SMP sudah mencapai vaksinasi diatas 80 sampai 90 persen, bahkan beberapa sekolah sudah 100 persen.   PTM 100 Persen, kata Idris, akan dilaksanakan oleh seluruh jenjang pendidikan. Ini juga dilakukan kolaborasi dengan  Provinsi untuk Jenjang SMA. “Pelaksanaan PTM tanpa pengecualian, jadi semua jenjang termasuk SMA nanti akan kolaborasi dengan provinsi,”  ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Wijayanto menyebut, karena salah satu syarat sudah terpenuhi yaitu Kota Depok sudah memasuki level 1,  PTM sudah dipersiapkan hanya menunggu keputusan Walikota.  “Kami sudah siap, hanya memang kita kembalikan ke Walikota,” singkatnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Mary Lizawati mengungkapkan, sampai Minggu (2/1) capaian vaksinasi anak sudah mencapai 60,19 % atau 119.009 anak. Target sasaran vaksinasi anak 197.714 anak. “Kami yakin hingga akhir pekan ini sudah memenuhi target,” jelasnya.

Terpisah, Kepala SDN Anyelir 1, Sri Suparni menambahkan, pihak sekolah sudah siap untuk dilaksanakan PTM 100 persen. Vaksinasi di sekolah tersbeut juga sudah mencapai 90 persen.

“Hampir seluruh siswa sudah vaksinasi. Namun, tidak semua siswa mengikuti vaksin di sekolah, melainkan di luiar. Sekolah pastinya siap untuk melaksanakan PTM 100 persen,” terangnya.

Kepala SMPN 14 Depok, Hehen Hendra mengatakan, pihaknya telah menyiapkan beberapa skema jika memang diterapkannya PTM 100 Persen. Dimana salah satunya adalah terus mengupayakan seluruh siswanya tervaksin Covid-19.

Sekarang ini, dari 896 siswa di SMPN 14 Depok, sudah 724 siswa atau 85 persen yang tervaksin. Sampai sekarang pun, SMPN 14 Depok terus mengupayakan tercapainya 100 persen siswa tervaksin. “Kami sebagai SMPN, tentunya akan menjalankan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Kota Depok,” ucapnya kepada Radar Depok.

Hehen menuturkan, tidak hanya itu pihaknya juga akan mendata siswa-siswa yang habis melaksanakan perjalanan jauh. Jadi, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran dari orang tua siswa untuk saling menjaga, baik itu diri sendiri ataupun orang lain. “Nantinya juga akan ada scan barcode aplikasi peduli lindungi saat orang bertamu ke SMPN 14 Depok. Jadi, untuk menerapkan protokol kesehatan lebih maksimal,” jelasnya.

Sekarang ini, di SMPN 14 Depok menerapkan PTM Terbatas. Dimana, hanya 50 persen saja tiap ruang kelas terisinya. Oleh karena itu, setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar di sekolah, sepekan dua hari. Itu demi mencegah terjadinya kerumunan di sekolah. “Setiap bulannya dilakukan rotasi jadwal sekolah. Jadi, misalnya ada siswa yang ke sekolahnya tiap Senin dan Rabu, di bulan berikutnya maka dipindah menjadi Selasa dan Kamis. Jadi, agar adil semua siswa merasakan sekolah di beberapa hari,” tuturnya.(van/peb/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani 

Editor : Fahmi Akbar