demo
DEMO DANA BOS : Suasana saat LSM KAPOK melakukan aksi demo di depan Kantor Kejaksaan Negeri Depok terkait dugaan korupsi Dana BOS. ARNET/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Buntut dari tidak puasnya gerakan Kejaksaan Negeri Kota Depok atas dugaan korupsi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMA Negeri Kota Depok, LSM Komite Aksi Pemberantasan Organ Korupsi (Kapok) menyambangi kantor Kejaksaan Kota Depok.

Koordinator LSM KAPOK Kota Depok, Kasno menerangkan, kedatangannya dengan beberapa lapisan masyarakat atas ketidakpuasan kinerja Kejaksaan dalam menangani laporan dugaan korupsi dana BOS di SMA Negeri tahun 2019 – 2020.

“Kami mendesak Kejaksaan dalam hal ini bidang Pidana Khusus untuk memberitahukan progres laporan kami,” tegasnya kepada Radar Depok.

Dalam aksi demo yang digelar di luar Kantor Kejaksaan ini, massa aksi membakar sebanyak delapan ban mobil. Bahkan, memotong ayam di lokasi bentuk kekecewaan massa. Kantor Kejari Depok pun menyepul asap hitam.

Beruntung, petugas keamanan Kejaksaan bersama TNI Polri yang lakukan pengamanan bergerak dengan cepat memadamkan api dari ban sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.

Menurut Kasno, berjalan lambatnya laporan dana BOS karena ada oknum di bidang Pidana Khusus Kejaksaan sehingga tak kunjung ada progres yang diinginkan masyarakat.

Hal ini membuat LSM tersebut berencana akan melanjutkan laporan tersebut ke Jaksa Pengawas (Jamwas) Kejaksaan Agung, agar oknum yang bermain dalam dana BOS dapat ditertibkan.

“Kita akan teruskan laporan ini ke Jamwas Kejagung biar ditertibkan,” tegas Kasno.

Dilokasi terpisah, salah satu aktifis Kota Depok yang tergabung dalam Presidium Aktifis Depok (PAD), Herry Prasetyo meminta, agar Kejaksaan tetap fokus dalam menangani setiap kasus biar mendapatkan hasil yang maksimal.

“Kalau saya pikir jangan terpengaruh ya, tetap fokus dan profesional. Kita percaya Kejaksaan,” katanya.

Menurut pria yang biasa disapa Hersong, menambahkan, seharusnya yang di desak itu perkara korupsi damkar karena telah terbukti Tersangkanya.

“Seharunya itu yang harus di desak. Karena tersangkanya sudah ada, bahkan bertambah tersangkanya, jadi 3 orang,” tandas Hersong. (rd/arn)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Junior Williandro