kurikulum baru sekolah
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Ada tiga kurikulum yang dikeluarkan Kemendikbud Ristek. Itu adalah Kurikulum 2013 yang disederhanakan atau kerap disebut Kurikulum Darurat, dan yang terbaru Kurikulum Penggerak atau Kurikulum Prototipe. Sekolah diberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengadopsi satu di antara tiga pilihan kurikulum pada 2022.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbud Ristek, Zulfikri mengatakan, ada sejumlah keuntungan bagi sekolah jika menggunakan Kurikulum Prototipe.

Salah satunya, dengan Kurikulum Prototipe guru tidak dikejar-kejar target materi pembelajaran yang padat. Guru lebih fokus pada materi esensial yang berorientasi pada kebutuhan dan penguatan karakter siswa, metode pembelajarannya lebih bervariasi. Kemudian, situasi belajar lebih menyenangkan bagi guru dan siswa, serta guru diberi kesempatan untuk mengeksplor potensi siswa lewat berbagai inovasi pembelajaran.

“Kurikulum Prototipe berbasis kompetensi statusnya semacam model. Model untuk pilihan di mana guru dan murid tidak merasa terlalu terbebani. Penyempurnaan dari kurikulum darurat, di kurikulum prototipe ini (strukturnya) lebih ditata selain disederhanakan juga,” jelas Zulfikri.

Baca Juga : Padahal Sudah Menang di PTUN dan MA, Status RT di Depok Tetap Dicabut

Namun, sebelum mengadopsi Kurikulum Prototipe, Zulfikri ingin sekolah untuk memahami secara mendalam konsep kurikulum tersebut.

“Karena ini pemulihan, dilakukan pengurangan materi dari Kurikulum 2013 yang padat dan dipilih materi yang esensial. Sehingga guru punya waktu memulihkan proses pembelajaran itu dan melakukan inovasi pembelajaran yang fokus kepada anak berdasarkan konteks, kebutuhan, dan potensi anak yang beragam,” jelasnya.

Zulfikri mengatakan, dengan semakin meningkatnya layanan pembelajaran di sekolah maka anak akan tumbuh dan berkembang sesuai potensi, dan hilangnya pembelajaran (learning loss) pun bisa diatasi.

“Kalau menggunakan kurikulum yang padat materi sementara PTM dilakukan secara terbatas, itu tidak mungkin (akan mencapai kualitas belajar yang diharapkan). Sehingga (kurikulumnya) perlu disederhanakan,” terangnya.

Tingkatkan Capaian Belajar

Kemendikbud Ristek juga mengaku telah melakukan pengawasan dan evaluasi penerapan kurikulum darurat yang disebut dapat mengurangi dampak learning loss akibat pandemi secara signifikan.

Studi Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menunjukkan bahwa siswa pengguna kurikulum darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosio-ekonominya.

Bila kenaikan hasil belajar itu direfleksikan ke proyeksi learning loss numerasi dan literasi, penggunaan kurikulum darurat dapat mengurangi dampak pandemi sebesar 73 persen (literasi) dan 86 persen (numerasi).

“Saat penerapan kurikulum darurat, terjadi mitigasi 73 persen dari learning loss. Dan ini dilanjutkan dengan kurikulum prototipe pemulihan pembelajaran yang menjadi dasar untuk pengembangan Kurikulum Prototipe. Selama dua tahun, yaitu tahun 2022 sampai dengan 2024 sekolah dapat menerapkan kurikulum prototipe ini. Untuk kemudian akan kita evaluasi kembali,” tutur Zulfikri. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya