masjid peninggalan zaman penjajahan
ILUSTRASI

RADARDEPOK.COM – Surat edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan musala, menuai kontra. Salah satu poin penting yang diatur dalam edaran itu yakni volume pengeras suara atau toa masjid paling besar 100 dB atau desibel dengan suara tidak sumbang. Diprotes Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok.

Ketua Umum MUI Kota Depok, Achmad Dimyati Badruzzaman menegaskan, ingin penggunaan pengeras suara di masjid tetap normal. Ini agar masyarakat yang beraktivitas diluar tetap dapat mendengar suara adzan. “Harusnya pengeras suara itu dibiarkan saja, karena itu fungsinya untuk mengetahui waktu salat,” ucapnya kepada Harian Radar Depok, Senin (21/1).

Menurutnya,  pengeras suara memang harus dilihat dari kondisi sekitar. Jika kawasan yang memang minoritasnya non muslim, baiknya pengeras suara tersebut digunakan dengan volume yang rendah. Namun, pria yang pernah mengisi khutbah di Amerika Serikat ini menyarankan, agar pengeras suara adzan tidak dibatasi. Karena Indonesia merupakan warga yang mayoritasnya umat muslim.

“Kalau saya melihat situasi dan kondisi. Kita tinggal di Indonesia yang mayoritas Islam, saya tidak setuju jika itu dibatasi. Kalau minoritas Islam ya tidak apa-apa untuk menghargai yang lain,” tegasnya.

Sementara, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, Asnawi mengatakan,  setuju dan mendukung dengan surat edaran yang sudah ditetapkan Menteri Agama. “Sebagai bawahan, saya mengikuti dengan kebijakan tersebut,” ujarnya kepada Radar Depok, Senin (21/2).

Asnawi yakin pada surat edaran tersebut sebagai upaya meningkatkan ketentraman, ketertiban dan keharmonisan antar warga. Pasti SE itu ada positifnya dari pada negatifnya. “Ini demi keharmonisan bersama,” singkatnya.

Perlu diketahui, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.
Salah satu poin penting yang diatur dalam edaran itu yakni volume pengeras suara masjid paling besar 100 dB atau desibel dengan suara tidak sumbang.

“Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel),” demikian poin 2c dalam SE Menag, Senin (21/2).

“Suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu diperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara yang disiarkan memenuhi persyaratan: a. bagus atau tidak sumbang; dan b. pelafazan secara baik dan benar,” poin 4 SE Menag.

Yaqut menyebut, penggunaan pengeras suara di masjid dan musala merupakan kebutuhan bagi umat Islam sebagai salah satu media syiar Islam di tengah masyarakat. Pada saat bersamaan masyarakat Indonesia juga beragam secara agama, keyakinan, latar belakang sehingga perlu upaya merawat persaudaraan dan harmoni sosial. “Pedoman diterbitkan sebagai upaya meningkatkan ketenteraman, ketertiban, dan keharmonisan antarwarga masyarakat,” ujarnya.

Yaqut mengatakan, edaran ini turut ditujukan kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Islam, dan Takmir/Pengurus Masjid dan Musala di seluruh Indonesia. Sebagai tembusan, edaran ini juga ditujukan kepada seluruh Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia. “Pedoman ini agar menjadi pedoman dalam penggunaan pengeras suara di masjid dan musala bagi pengelola (takmir) masjid dan musala dan pihak terkait lainnya,” kata Yaqut.

Salah satu poin edaran itu mengatur sebelum azan Subuh, pembacaan Alquran atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 menit. Lalu, pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan pengeras suara dalam.

Sementara sebelum azan Salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Salat Jumat, pembacaan Alquran atau selawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 menit. Sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan pengeras suara dalam.

Khusus untuk Salat Jumat, penyampaian pengumuman mengenai petugas Jum’at, hasil infak sedekah, pelaksanaan khutbah Jumat Salat, zikir, dan doa, menggunakan pengeras suara dalam. “Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel),” bunyi salah satu poin edaran tersebut.(van/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani

Editor : Fahmi Akbar