epidemologi
Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Profesor Tri Yunis Miko Wahyono

RADARDEPOK.COM – Mulai 25 Februari 2022 mendatang, Belanda akan mencabut hampir semua aturan pembatasan selama pandemi Covid-19. Upaya berdamai dengan Covid-19 ini diambil usai jumlah kasus dan rawat inap di negara tersebut sudah menurun. Menurut data dari situs web Masks4All ada 43 negara yang tidak mewajibkan warganya memakai masker untuk mencegah penyebaran Covid-19. Meski demikian, di antara negara-negara tersebut ada yang penduduknya tetap sukarela memakai masker walau tidak diwajibkan.

Adanya kabar tersebut, Ahli Epidemiologi dari  Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI),  Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, pemerintah maupun masyarakat jangan terpengaruh oleh kabar tersebut. Pasalnya, negara Denmark dan Belanda menurutnya tidak melakukan penanggulangan yang baik, sejak masuknya wabah Covid-19 ke negera tersebut. “Jangan mengkuti contoh yang tidak baik, jangan ditiru,” kata Tri kepada Harian Radar Depok, Rabu (16/2).

Tri menerangkan, pe-labelan ‘bersahabat dengan Covid-19’ itu telah memiliki pergeseran makna. Yaitu, dengan secara tidak langsung telah menyesatkan masyarakat untuk tidak mengenakan masker saat pandemi ini. “Jadi harus benar-benar dipahami arti bersahabat dengan Covid-19 itu seperti apa, bukan berarti kita tidak lagi memakai masker” ujarnya.

Dia menganalogikan, seperti persahabatan antara manusia dengan beruang. Saat berinteraksi dengan hewan mematikan itu bukan berarti manusia mendekatinya tanpa pelindung diri. Sebab, tanpa perbekalan apapun dari manusia itu, maka beruang tersebut dapat mendatangkan melapetaka. “Mungkin yang dimaksud itu adalah mereka sudah terbiasa dengan pandemi ini, sehingga dapat menjalankan aktivitas seperti biasa lagi. Tetapi tetap menerapkan Prokes,” terang Tri.

Lebih lanjut, Tri memberikan contoh, Amerika Serikat sempat mendeklarasikan diri untuk untuk tidak lagi mengenakan masker bagi warga negaranya. Namun, tak berselang lama kasus Covid-19 di negara itu kembali melonjak tinggi. Sehingga, mereka kembali menggunakan mmasker sebagai langkah mencegahan penularan virus mematikan tersebut.

“Amerika juga sempat seperti itu, namun kasus disana semakin naik. Akhirnya, mereka kembali jalan yang benar,” ungkapnya.

Dari kacamata epidemiologi, beber Tri, masih ada kemungkinan mutasi virus Korona setelah Omicron. Untuk itu, dia meminnta agar pemerintah dan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. “Pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berdasarkan penelitian pandemi ini masih berkepanjangan. Jadi kita harus tetap waspada dalam menelaaah setiap informasi terkait dengan Covid-19,” tegasnya.

Menteri Kesehatan Belanda mengatakan beberapa aturan akan diubah, seperti jam buka bar, restoran, hingga kelab malam kembali seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Selain itu, aturan jaga jarak dan pemakaian masker tidak akan lagi diwajibkan di sebagian besar tempat di sana.

“Negara akan terbuka lagi. Kami akan kembali ke waktu penutupan normal yang kami miliki sebelum Corona. Sedangkan jaga jarak dan pemakaian masker tidak lagi diwajibkan di sebagian besar tempat,” kata Menteri Kesehatan Belanda Ernst Kuipers yang dikutip dari AFP, Rabu (16/2/2022).

“Masker hanya diwajibkan di transportasi umum dan di bandara. Jaga jarak dan pakai masker tetap masuk akal, tapi tidak ada kewajiban,” lanjutnya.

Kuipers mengisyaratkan bahwa dirinya ingin membawa masyarakat kembali hidup normal seperti sebelum pandemi. Namun, ia tetap memperingatkan bahwa pandemi belum berakhir dan mengajak warganya untuk tetap berhati-hati. “Kita tampaknya berada di atas puncak, tapi pandemi itu belum berakhir. Kita boleh optimis tapi kita juga harus realistis,” bebernya.

Presiden Cassis mengingatkan, pandemi COVID-19 belum usai tetapi akan ada fase baru di mana masyarakat akan hidup berdampingan dengan virus Korona. Lebih dari 90 persen populasi Swiss yang berjumlah 8,6 juta jiwa, telah mendapatkan perlindungan dari virus. Baik mereka yang baru pulih dari COVID-19 atau telah menerima suntikan vaksin. “Meski angka positif COVID-19 masih tinggi, belum ada kelebihan kapasitas di ICU malah mengalami penurunan,” demikian pernyataan pemerintah Swiss.

Pada Januari lalu, pemerintah Inggris mencabut pembatasan virus Corona usai kasus Omicron diklaim menurun. Program booster disebut berhasil mengurangi gejala berat dan rawat inap pasien Covid-19. Warga Inggris tak lagi diwajibkan memakai masker untuk masuk ke tempat-tempat umum. Selain itu, pemerintah juga telah mencabut aturan bekerja dari rumah atau WFH dan panduan untuk memakai masker di ruang kelas.

“Saat kita belajar untuk hidup dengan COVID, kita perlu melihat dengan jelas bahwa virus ini tidak akan hilang,” kata Sekertaris Kesehatan Sajid Javid, dikutip dari CNA, Kamis (27/1/2022).

Meski pemerintah telah mencabut aturan memakai masker, beberapa toko dan transportasi umum masih meminta warga mengenakannya. Walikota London Sadiq Khan masker masih akan diperlukan di bus dan kereta bawah tanah ibu kota.

Setelah Inggris, Denmark mengucapkan selamat tinggal ke masker dan kartu kesehatan Covid-19. Negara itu menjadi negara Uni Eropa pertama yang mencabut semua pembatasan pandemi meski mengalami rekor kasus Corona terutama varian Omicron. Tidak hanya itu, pembatasan jam operasional di bar dan restoran juga ditiadakan. Klub malam juga sudah dibuka kembali. “Dengan Omicron tidak lagi menjadi penyakit parah bagi yang divaksinasi, kami percaya masuk akal untuk mencabut pembatasan,” papar ahli epidemiologi Universitas Roskilde Lone Simonsen dikutip dari laman France24, Rabu (2/2/2022).(ger/JPC/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Fahmi Akbar