wa kenekes
CATTINGAN : Herman Kopel mendapatkan wa dari Kemenkes bahwa dia positif kemudian ditindaklanjuti Puskesmas Sukamaju Baru Kota Depok. IST
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM –  Seorang warga Kota Makassar, Herman Kopel menjadi korban salah penginputan data pasien Covid-19, di Kota Depok. Saat berada di Kabupaten Bogor, dia mendapatkan pesan bahwa dia terkonfimasi positif Covid-19 dari akun Whatsapp resmi milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Saya dari Makassar, tanggal 8 Februari swab terakhir saya itu sebelum terbang dan negatif,” kata Herman Kopel kepada Harian Radar Depok, Kamis (24/2).

Herman menerangkan, saat itu dia sedang berada di Kabupaten Bogor untuk mengikuti kegiatan Bawaslu di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya. Kemudian, dia membeli kartu perdana yang akan dia gunakan disana.

Tak berselang lama setelah nomor itu aktif, dia kaget mendapatkan pesan dari Kemenkes tersebut. Menurutnya, dia tidak pernah mencantumkan nomor itu terkait pendataan mengenai, hasil swab dan vaksinasi Covid-19. “Sepulang dari Kiarasari, WA dari Kemenkes masuk di HP saya kalau pemilik nomor ini positif Covid 19. Saya kaget kok divonis positif,” ujarnya.

Baca Juga  400 PNS Jawa Barat Akan 'Digeser' Karena Kehadiran Teknologi

Esok harinya, terang dia, ada pesan masuk kembali. Kali ini, dari Tracer asal Puskesmas Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Kota Depok yang akan melakukan pelacakan.  Lalu, Herman membaca kembali pesan tersebut. Ternyata, dalam pesan tersebut yang tercantum bukanlah nama dia. Melainkan, nama seorang perempuan lengak dengan nomor NIKnya. “Saya bilang salah nomor kali, saya dipanggil Mbak, saya jawab saya Daeng dari Makassar. Pihak puskesmas juga kaget kenapa bisa,” urainya.

Dengan tegas, dia mempertanyakan, sistem kerja Kemenkes yang dinilainya dapat mengganggu nilai dari sebuah privasi. “Lah kenapa ini sistem penanganan Covid Kemenkes seperti ini,” keluhnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Puskesmas Sukamaju Baru, Zulfa Yuliza menjelaskan, pihaknya memasukan nomor handphone tersebut berdasarkan yang telah diberikan oleh yang bersangkutan. “Kemungkinan waktu data masuk, ada nomor HP yang gak  ada. Jadi, tracer kami cari nomor HP ke satgas, kami dapat nomor itu dari satgas di RW,” bebernya.

Baca Juga  Imam Budi Hartono Titip Pesan untuk Anggota Paskibraka Depok, Ini Katanya

Kendati demikian, dia membantah, jika kesalahan penginputan data tersebut ada pada Satgas Covid-19 ditingkat RW yang memberikan nomor handphone tersebut. “Ga ada yang salah, RW gak input data,” singkat Zulfa.

Lebih dalam, zulfa memaparkan, terkadang ada pasien yang tidak akurat dalam memberikan nomor handphone atau telpon seperti nomor lama yang sudah tidak aktif, ada juga yang memberikan nomor milik kerabat, kantor, anak dan lain sebagainya. “Ketika kita tracing ternyata tidak sesuai, habis itu kita akan konfirmasi ke satgas sesuai alamat,” terangnya.

Kemungkinan, sebut dia, Satgas setempat tidak mengetahui nomor telepon pasien yang baru. Sehingga, memberikan nomor lama tersebut. “Ternyata nomor itu sudah lama tidak di pake atau tidak aktif lagi. habis itu mungkin nomor itu sama konter aktif lagi. jadi di beli sama pak daeng (Herman),” tandas Zulfa. (ger/rd)

Baca Juga  Ratna Sarumpaet Gagal ke Chile

Jurnalis : Gerard Soeharly 

Editor : Fahmi Akbar