PRODUKSI : Pekerja di pabrik kerupuk kaleng dengan merek Pasundan di kawasan Target, Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya sedang menggoreng kerupuk meski dalam kondisi melambungnya harga minyak, Kamis (24/3). GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Imbas naiknya harga minyak goreng (Migor), mulai merasuk pelengkap saat makan. Kamis (24/3), sejumlah pabrik kerupuk di Kota Depok siap menaikan harga jual di warung dan tempat makan. Hal ini dipilih demi bertahan hidup diterpa banyaknya kerugian selama migor melambung.

Pengusaha Kerupuk kaleng merek Pasundan, Abdul Holik mengaku, berencana menaikan harga kerupuk di pasaran, jika harga minyak goreng tak kunjung turun. Sebab, pabriknya terancam gulung tikar alias mengalami kerugian. “Rencananya akan dinaikan, kalau minyak harganya turun kemungkinan kita tidak akan menaikan harganya,” ungkapnya kepada Harian Radar Depok, Kamis (24/3).

Selain minyak goreng, beberapa bahan pokok untuk membuatan kerupuk seperti tepung, terigu dan sagu bahkan, gas yang digunakan untuk menggoreng juga ikut naik. “Sangat mempengaruhi ya , tidak ada yang tersisa. Hanya cape nya doang sekarang mah,” tegas Holik.

Siasatnya, beber Holik, pihaknya terpaksa mengecilkan ukuran kerupuk di pasaran dengan mengurangi diameternya menjadi 8 Centimeter (Cm). Yang sebelumnya, berukuran 10 Cm. “Yah siasatnya kita kecilin kerupuknya, tidak ada pengruangan jumlah produksi atau minyak gorengnya,” ujarnya.

Dalam sehari, terang dia, pabrik kerupuknya membutuhkan setidaknya 80 kg minyak untuk menjalankan proses produksi kerupuk.

Senada, pengusaha kerupuk kaleng dengan merek SHD, Desril menyebutkan, pihaknya tidak mendapatkan keuntungan sejak harga minyak goreng melambung tinggi. Keuntungan produksi hanya berputar pada pembelian minyak goreng yang sehari membutuhkan sekitar 16 Kg. “Harga kerupuk di kita sekarang masih standar. Tapi akan kita adakan pertemuan dulu untuk menaikan harga, karena harga minyak goreng belum juga turun,” ucapnya.

Dia mengatakan, beberapa bahan pokok untuk pembuatan kerupuk juga ikut naik jelang bulan suci ramadan. Karena itu, kerugian tengah mengancam pabrik tersebut. Sebab, belum ada langkah antisipasi yang dilakukan pihaknya agar tidak menelan kerugian. “Untungnya hanya kecil untuk beli minyak aja, jadi keuntungan hanya untuk beli minyak. Kesedot kesana semua istilahnya,” tutur Desril.

Sejauh ini, jelas Desril, pihaknya belum melakulan siasat apapun dalam menghadapi fenomena melambung tingginya harga minyak goreng. “Kemungikinan kalau kita naikan, harga per kepingnya akan jadi Rp2 ribu,” imbuhnya.

Sementara itu, pengusahan kerupuk kulit dengan merek Chaniago, Heri juga mengutarakan keluhan yang sama. Harga minyak goreng menjadi tinggi berbarengan dengan bahan pokok lainnya. Seperti harga daging yang secara otomatis akan mempengaruhi kenaikan harga terhadap kulit sapi dan kerbau. “Siasatnya, kita beralih ke minyak curah sebelumnya pakai minyak yang kemasan,” terang dia.

Kendati demikian, beber dia, harga minyak curah naik menjadi Rp20 ribu per Kilogram (Kg) terhitung, 24 Maret 2022. Sehingga, pihaknya semakin menjerit dengan keadaan tersebut. “Bukan hanya dari minyak saja ya, harga kulit, harga daging juga ikut naik,” Heri.

Karena itu, Heri kini sedang dirundung dilema antara menaikan harga kerupuk atau tidak. Karena, ada dua ancaman yang menghantui yaitu antara kehilangan pelanggan atau mengalami kerugian. “Yah rencana sih ada kalau harga minyak naik terus. Paling kita naiknya hanya sekitar 10 persen tapi masih wacana aja sih,” tandasnya. (ger/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Fahmi Akbar