LANCAR : Sejumlah kendaraan roda empat masih bisa ngebut di Tol Cijago Kota Depok, sebelum penerapan e-tilang pada 1 April 2022 mendatang. DANA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Pengendara roda empat Kota Depok yang doyan kebut-kebutan harus tahu ini. Mulai 1 April 2022 mendatang, pengendara yang memacu ‘gerobaknya’ sampai 120 kilometer per jam bakal kena tilang. Tak tanggung-tanggung, penerapan tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) dan Weight in Motion (WIM) tersebut di mulai sedari Tol Jabodetabek hingga Trans-Jawa.

Seorang pengendara roda empat Kota Depok, Milo Rijadi mengaku setuju dengan adanya tilang elektronik untuk para pengendara yang membawa kendaraan di atas kecepatan 120km/jam.

“Karena saya juga pengendara mobil, saya setuju dengan adanya tilang elektronik. Agar mereka (para pengendara) sadar keselamatan itu penting pada saat membawa kendaraan dan mengurangi kecelakaan lalu lintas,” ucap pria asal Kecamatan Sukmajaya ini.

Pengendara lainnya yang tinggal di Kelurahan Pancoranmas, Rizki Adiva menambahkan, tilang elektronik sangat berguna bagi keselamatan diri sendiri dan pengendara lainnya. Beberapa kali melihat pengendara kebut-kebutan di jalan tol. Kemunculan tilang elektronik ini sangat berguna, karena tidak akan ada lagi pengendara yang berkendara di atas 120km/jam.

“Semoga masyarakat mengikuti aturan yang sudah dibuat,” tegas pria yang kerja di Jakarta itu.

Sementara, Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan mengatakan, adanya tilang elektronik  akan mengurangi pelanggaran lalu lintas. Tak hanya itu, tilang elektronik ini dapat juga mengurangi tindakan pungli antara aparat kepolisian kepada pengendara.

Azas ingin, tilang elektronik ini disosialisasikan kepada masyarakat perihal proses e-tilang hingga denda yang diberikan pada penilangan tersebut. “Saya pikir memang itu baiknya, agar para pengendara dapat mengontrol diri saat berkendara,” jelasnya.

Ia menyarankan,  e-tilang di Kota Depok dan Jakarta dapat dilakukan sesuai aturannya dan tidak ada aparat kepolisian yang melakukan pungli terhadap pengendara. Sementara, titik yang perlu dilakukan e-tilang yaitu di Tol Jagorawi yang masih terjadi penlinangan dari aparat kepada pengendara. “Menurut saya Jagorawi juga butuh dilakukan e-tilang karena masih ada aparat yang tiba-tiba sembarangan menilang dan meminta uang,” bebernya.

Sementara, tilang elektronik ini juga efektif bagi keselamatan pengendara dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas. “Karena kecelakaaan lalu lintas di awali  dengan pelanggaran lalu lintas, maka dari itu saya setuju dengan adanya tilang elektronik ini,” katanya.

Terpisah, Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Aan Suhanan mengatakan, truk ODOL ini akan terdeteksi dengan sistem Weigh in Motion (WIM) yang terpasang di beberapa titik di jalan tol. Kemudian untuk pelanggaran batas kecepatan akan terdeteksi menggunakan speed camera.

“Kamera ETLE akan bekerja selama 24 jam untuk mengawasi semua pelanggaran yang terjadi. Dipasang juga di titik rawan kecelakaan,” kata Aan, dikutip dari laman NTMC Polri.

Korlantas Polri akan bekerja sama dengan PT Jasa Marga untuk penggunaan WIM dan speed camera ini. Kamera ETLE ini akan tersebar delapan unit di Jabodetabek dan Bandung, 22 unit di jalan tol Trans-Jawa dari Jakarta ke Kertosono, dan satu unit di luar Pulau Jawa.

Sementara untuk WIM, saat ini sudah terpasang di tujuh titik, yakni Tol Jagorawi, JOR Seksi E, Jakarta-Tangerang, Padaleunyi, Semarang seksi A-B-C, Ngawi-Kertosono, dan Surabaya-Gempol. Kemudian ada lima speed camera yang tersebar dari Jawa Timur sampai Jakarta.

“Jadi pelanggaran ODOL akan langsung ter-capture WIM dan kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120 kilometer per jam akan tertangkap speed camera sebelum nantinya diverifikasi dan dikirimkan surat tilang agar pelanggar membayar denda,” kata Aan.

Saat ini Korlantas Polri masih melakukan tahap sosialisasi untuk tilang elektronik di jalan tol sampai dengan 30 Maret 2022. Setelah penerapannya mulai 1 April 2022, pelanggar akan langsung dikenakan sanksi tilang dan denda.(van/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani 

Editor : Fahmi Akbar