TERENDAM : Jalan M Nasir RW6 Kelurahan Cilodong, Kota Depok terdampak banjir sekira 50 rumah dari tiga RT : 1,2 dan 3 kebanjiran setinggi pinggang orang dewasa, Senin (25/4).  IVANNA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Warga Depok tetap waspada ya. Cuaca ektrem masih mengancam hari ini. Sebelumnya Senin (25/4) malam, hujan deras yang mengguyur Kota Depok mengakibatkan sejumlah jalan dan pemukiman terendam banjir. Terparah, di Jalan M Nasir RW6 Kelurahan Cilodong, Kecamatan Cilodong Kota Depok. Sekira 50 rumah dari tiga RT : 1,2 dan 3 kebanjiran setinggi pinggang orang dewasa.

“Tiga RT di RW6 yang terdampak banjir, memang suka banjir tapi tidak pernah separah ini. Mungkin juga dampaknya bisa dari pembangunan perumahan,” ujar warga RT1/6, Rusli Suryana Putra kepada Harian Radar Depok, Senin (25/4).

Menurutnya, sebelum adanya pembangunan, air yang berasal dari kali mengalir ke empang. Namun saat adanya proyek pembangunan, seluruh saluran hanya mengarah satu titik yaitu ke arah rumah warga. “Air yang biasanya mengalir ke setiap empang sekarang hanya satu titik yaitu kesini (arah rumah warga) itu yang membuat bantalan kali itu jebol,” bebernya.

Dia bersama warga setempat sudah melapor kepada lurah, camat dan dinas terkait. Namun, lurah setempat belum merespon adanya peristiwa banjir yang menimpa warganya. Kendati demikian, Rusli meminta kepada Pemerintah Kota Depok untuk memperbaiki bantalan-bantalan saluran yang jebol, agar tidak menyebabkan banjir yang cukup parah. “Saya minta dikokohkan saja, seperti saluran dan turap-turap itu bantalannya suka jebol,” terangnya.

Sementara, Ketua RW6 Cilodong, Asep Gumelar menjelaskan, penyebab lain banjir adanya salah satu kali yang jebol sehingga membuat luapan air mengalir kerumah warga. Ada sekira 50 rumah di tiga RT yang terdampak banjir. “Ada kali dekat runah warga yang jebol, sehingga membuat air meluap dan masuk kerumah warga,” katanya.

Meskipun warga menyebut penyebab utamanya adalah proyek perumahan, dia belum mengetahui adanya perizinan pada pembangunan tersebut. Bahkan, belum ada nama perumahan pada pembangunan tersebut. “Kalau nama belum ada, tapi kalau perizinan selama ini belum ada laporan,” ungkapnya.

Ditempat yang sama, Anggota Tagana Kota Depok, Amirudin menjelaskan, pihaknya melakukan evakuasi dengan mencari penyebab dari banjir ini. Menurutnya, penyebab dari banjir ini adanya infrastruktur dari drainese. Dengan volume air yang tinggi dan aluran sungai yang dangkal membuat air meluap dan menyebabkan banjir.

“Sebenarnya kali-kali ini sudah ditata, mungkin karena ada yang jebol kemudian adanya penyempitan dari kaki sehingga membuat air keluar. Tapi misalkan itu tidak terjadi penyempitan akan normal saja,” jelasnya.

Lanjut Amirudin, pihaknya masih mewaspadai drainase pada pembangunan proyek tersebut. Tagana sudah melakukan evakuasi apabila warga yang membutuhkan bantuan, pihaknya akan memberikan bantuan logistik. Sampai saat ini Tagana belum menemukan adanya kerusakan pada rumah warga yang terdampak banjir. “Kita akan persiapkan bantuan logistik apabila warga memang membutuhkan bantuan, dari rumah-rumah yang terdampak banjir ini,” ucapnya.

Menimpali hal ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok, Citra Indah Yulianty mengungkapkan, belum mengetahui akibat dari banjir tersebut. Penyebab akan diketahui jika air banjir sudah surut. “Belum tahu penyempitan atau tidak, pas surut baru keliatan,” kata Citra.

Dia juga harus mencari tahu masalah perizinan pada proyek pembangunan tersebut. Untuk saat ini pihaknya mementingkan keselamatan warga. “Terkait perizinan juga harus ditanyakan dulu ke perizinan. Yang penting sekarang kita penyelamatan warga,” tandasnya.

Sementara, BMKG memperkirakan Selasa (26/4), sebanyak 27 wilayah berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Adapun 27 wilayah tersebut di antaranya Aceh, Riau, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Gorontalo dan Maluku.

Mengutip laman resmi BMKG, Bibit Siklon Tropis 98S terpantau di Samudra Hindia selatan barat daya Bengkulu (14.2LS, 100.4BT) dengan kecepatan angin maksimum 30 knot dan tekanan udara minimum 997,2 hPa. Sistem ini bergerak ke arah barat daya dan memiliki potensi untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada pada kategori menengah.

Kemudian, sistem ini menginduksi daerah peningkatan kecepatan angin >25 knot (low level jet) di Samudra Hindia selatan Lampung-Banten. Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut di sekitar wilayah bibit siklon tropis, low level jet dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

Sementara Sirkulasi Siklonik terpantau di pesisir barat Aceh, Laut Maluku dan di perairan sebelah timur Sulawesi Tenggara. Lalu membentuk daerah konvergensi memanjang dari Sumatera Utara hingga Aceh, di Maluku Utara, dari Laut Sulawesi hingga Sulawesi Utara, dan di Sulawesi bagian tengah.

Daerah Konvergensi lainnya terpantau memanjang dari Sumatera Barat hingga Riau, dari Bengkulu hingga Jambi, di Sumatera Selatan, dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat, di Kalimantan Barat, dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Timur, di Kalimantan Utara dan di Papua.

Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah pusat tekanan rendah, sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut. (van/rd)

Jurnalis : Ivanna Yustiani 

Editor : Fahmi Akbar