MASUKAN BARANG : Seorang penumpang bus sedang memasukkan barangnya ke dalam bus yang akan mengantarkannya mudik ke kampung halaman di Terminal Jatijajar, Selasa (19/4). INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Masyarakat Depok rupanya sudah tak sabar ingin pulang kampung dan merayakan Idul Fitri 1443 Hijiriah. Berdasarkan pantauan di Terminal Jatijajar, Kecamatan Tapos, Selasa (19/4). Selama dua hari terjadi peningkatan penumpang sampai 1.400 yang mudik. Akibat tingginya animo mudik, penumpang kudu rela merogoh kocek dalam-dalam saat beli tiket bus.

Kasubag TU Terminal Jatijajar, Dudi mengatakan, jika dilihat dari data aktivitas penumpang pada Minggu dan Senin (17–18/4) ada kenaikan jumlah penumpang yang signifikan. Kenaikan aktivitas di terminal mencapai 80 persen. Jika biasanya maksimal itu paling ramai di sini 300-400 penumpang per hari. Pada Minggu dan Senin ada 1.400 penumpang yang berangkat dari sini.

Dia mengakui, seluruh penumpang yang datang ke Terminal Jatijajar di bulan Ramadan ini adalah pemudik Depok yang ingin kembali ke kampung halamannya, sebelum datangnya lebaran.  “Diperkirakan puncak arus mudik di sini terjadi di H-5 Lebaran, atau di masa libur dan cuti bersama. Jika berkaca dari dua tahun lalu, paling sedikit ada 1.000 pemudik yang berangkat dari sini per harinya,” ucap Dudi kepada Harian Radar Depok, Selasa (19/4).

Dia menyebutkan, di Terminal Jatijajar ada 39 Perusahaan Otobus (PO)  Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), yang melayani rute perjalanan ke dua pulau di Indonesia, yaitu Jawa dan Sumatera. “AKAP di sini jurusan pulau Jawa dan Sumatera. Tapi secara persentase 70 persen itu jurusan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sisanya baru ke beberapa provinsi yang ada di pualu Sumatera,” tuturnya.

Untuk mencegah munculnya klaster penularan Covid-19 di lingkungan terminal Jatijajar. Pihaknya menyiapkan aplikasi Pedulilindungi dan juga petugas pengawas protokol kesehatan. Selain itu, di sana juga disediakan layanan vaksinasi booster bagi calon pemudik yang hendak berangkat ke kampung halaman.

“Layanan booster kita adakan dengan menggandeng Polsek Cimanggis. Pelayanan booster dibuka sampai  30 April. Maka itu, warga Depok sudah banyak yang mendaftar jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, barulah pada saat mau berangkat mudik dibooster di sini,” bebernya.

Dia mengakui, menjelang Ramadan ini mayoritas PO sudah menaikan tarif bus. Akan tetapi pihaknya tidak mempunyai kewenangan mengatur kenaikan harga tarif tiket bus, terkecuali untuk bus kelas ekonomi. “Di sini semua bus eksekutif ke atas, ekonomi di sini gak ada makanya kita gak bisa intervensi. Kalau ekonomi dari Kementerian Perhubungan sudah ada tarif dasarnya ditentukan,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Penjaga Loket PO ANS jurusan Padang Sumatera Barat, Miyatun mengatakan, PO ANS baru akan menaikkan harga tiket bus  pada 20 April sebesar Rp100 ribu. Kenaikan tersebut masih bisa bertambah pada puncak musim mudik di tanggal  23 April. “Tiket eksekutif sebelumnya Rp350 ribu naik jadi Rp 450 ribu, kalau royal class Rp 450 ribu naik jadi 550 ribu. Untuk Royal Class diperkirakan akan naik sampai Rp 800 ribu pada tanggal  23 April,” bebernya.

Sementara itu, Penjaga Loket PO AGRAMAS, Slamet Raharjo menambahkan, pihaknya juga  sudah menaikkan harga tiket bus sejak 8 April lalu. PO Bus yang melayani perjalanan ke Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini menaikkan hampir 100 persen. “Kelas VIP AC biasa 8-13 April Rp180 ribu, 14-18 April Rp 230 ribu, 23April – 1 Mei 450 ribu,” tegasnya.

Perlu diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menindak operator bus yang menaikkan harga tiket bus selama periode mudik Lebaran. Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi mengatakan, untuk melakukan penindakkan, Kemenhub akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Jika oknum operator tersebut tertangkap menaikkan harga tiket bus melebihi batas atas, maka pemerintah akan memberikan surat peringatan (SP) hingga mencabut izin usahanya.

“Tentu akan kami tindak. Saya sudah sampaikan oknum yang memainkan harga tiket itu kan operator ada SP1 SP2 hingga cabut izinnya kalau operatornya tidak jelas. Kalau itu perusahaannya baru (pemain baru) saya minta polisi bertindak,” ujarnya setelah acara Media Briefing, belum lama ini.

Di sisi lain, dia juga meminta agar masyarakat tidak membeli tiket bus dari calo. Saat ini juga banyak penawaran tiket bus pariwisata dan travel ilegal dengan tarif lebih mahal. Pasalnya, bus ini tidak terjamin keamanannya karena kendaraannya tidak dilakukan pengecekkan berkala dan tidak memiliki izin dari kantor pengawasan.

“Saya sudah sampaikan kemarin kepada petugas bus pariwisata. Janganlah demikian karena sangat merusak tatanan dan efek keselamatan pun tidak terjamin. Maka kami mengimbau untuk jangan gampang tergiur penawaran-penawaran mudik,” tegasnya.

Oleh karenanya, Kemenhub telah menyediakan portal SPIONAM untuk mempermudah masyarakat mengecek secara mandiri validitas angkutan umum yang akan digunakan.

Dalam SPIONAM dapat diperiksa keabsahan angkutan barang, angkutan orang dalam trayek, maupun angkutan orang tidak dalam trayek apakah kendaraan tersebut telah terdaftar atau tidak. Caranya dengan menuju laman situs http://spionam.dephub.go.id/. Kemudian pilih menu cek kendaraan dan masukkan nomor polisi kendaraan yang akan diperiksa. Atau dapat juga memilih menu cek perusahaan dengan memasukkan nama perusahaan bus yang akan dicek. Apabila nomor polisi kendaraan ataupun nama PO-nya tidak ditemukan dalam SPIONAM, maka kendaraan tersebut tidak memiliki izin atau belum terdaftar di Kemenhub. Maka sebaiknya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, dianjurkan bagi masyarakat untuk memilih armada lain yang sudah terdaftar.

Terpisah, menjelang mudik lebaran Dinas Perhubungan (Dishub) bersama dengan Polres Metro Depok, akan mendirikan pos pemantauan dan pengamanan di beberapa titik di Kota Depok.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok Eko Herwiyanto mengungkapkan, ada sembilan pos pemantauan yang akan didirikan pihaknya untuk mengamankan mudik lebaran tahun ini. “Di antaranya di kawasan Juanda Margonda, akses pintu Tol Cisalak, Simpangan, Cinere, Bambu Kuning, Simpang Sengon, Terminal Jatijajar, dan ada beberapa titik lainnya,” kata Eko kepada Harian Radar Depok, Selasa (19/4).

Mantan Camat Cinere ini menyebut, pos pengamanan itu nantinya akan dijaga oleh anggota gabungan untuk pemantauan arus mudik lebaran. “Titik-titik tersebut dipilih karena lokasinya memang strategis,” jelasnya.

Teknis nanti di lapangan, pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Polres Metro Depok. Tidak hanya itu, Dishub Depok juga menyediakan pos pemantau untuk mengawasi kepadatan lalu lintas selama mudik lebaran. “Kami memiliki pos pemantau untuk melihat traffic yang berlokasi di Kantor Dishub Kota Depok,” tutup Eko.(dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar 

Editor : Fahmi Akbar