Diskusi : Tim Konversi Motor Listrik Izzata dibawah naungan Yayasan Nurussyamsi sedang mendengarkan arahan dari Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono. NURHIDAYATI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Era globalisasi menjadikan manusia terus berinovasi. Tak terkecuali dengan istansi pendidikan, SMK Izzata dibawah naungan Yayasan Nurussyamsi di Kota Depok, yang tampil dengan percaya diri memerkan hasil rekayasa otomotifnya konversi motor listrik.

Laporan : Nurhidayati Fauna, Kota Depok

Kreativitas tanpa batas patut disemat tim konversi motor listrik besutan SMK Izzata. Geudng sekolah di Jalan Pitara Kelurahan Cipayung/Kecamatan Cipayung, berwarna putih sepi dipenuhi siswanya. Maklum, hari ini (Kemarin) sedang ada uji kompetensi secara online. Masuk ke ruang Tata Usaha (TU), ada guru yang sedang asik mengerjakan tugasnya. Sebut saja Oneal Ibrahim. Pria ini merupakan salah satu yang menginisiasi hadirinya motor listrik.

Berawal dari salah satu anak dari staf yang bekerja di SMK Izzata, Oneal Ibrahim. Berangan-angan membuat teknologi di sepeda motor tanpa harus menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya. Mimpi tersebut tercipta dari pertemanan yang sehat antara Oneal dengan salah satu mantan Chief Technology Officer (CTO) Motor Gesits Indonesia, yang ahli dibidang otomotif hingga terciptalah impian untuk membuat rekayasa motor berdaya listrik.

Dalam proses pembuatannya, Oneal tidak sendiri, dia dibantu para siswa SMK Izzata yang memang bersekolah di jurusan Teknik Otomotif Kendaraan Ringan. “Kami buatnya mengajak siswa dari SMK Izzata, kami bebaskan siapa saja yang ingin berkontribusi untuk program ini,” ujar Wakil Ketua Tim Konversi Motor Listrik, Oneal Ibrahim.

Walau anggaran awal didapat dari dana pribadi, Tim Konversi Motor Listrik tidak menyerah, mereka percaya apa yang mereka buat dapat membantu meringankan pekerjaan masyarakat. “Awalnya kami uji coba lewat motor vespa hibahan dari teman, ketika suskes, kami coba ke motor merek Beat yang kemarin dipersentasikan ke Pemkot Depok,” ujar Oneal.

Teknologi ini, lanjut dia, mengonversi motor yang berbahan bakar bensin menjadi listrik. Dengan menggunakan batre yang dikontrol oleh Krontroller unit untuk menggerakan dinamo, sehingga listrik tecipta dengan kekuatan daya sebanyak 72 volt, 20 AH dan 30 KWH. Setiap batre full jika di charger memerlukan waktu tiga jam. “Satu kali pakai higga batre habis itu bisa mempuh perjalanan sampai 50 km,” ujar Oneal.

PERSENTASI : Tim konversi motor listrik SMK Izzata dibawah naungan Yayasan Nurussyamsi sedang mempersentasikan teknologi hasil rekayasa otomotif di Pemkot Depok, belum lama ini.

Tim konversi motor listrik dalam pembuatannya, masih menaati aturan PP No 65 tentang batas regulasi kecapatan motor yaitu, 80 km perjam. “Kapasitas batre sekali ngecharger itu mengabiskan nominal sebesar 2.500 rupiah,” ujar Oneal.

Jika dihitung, tentu teknologi ini lebih ekonomis dibanding motor berbahan bakar bensin. Untuk perawatannya sendiripun dibilang tidak rumit, hanya perlu memaintenaince rantai supaya tidak gampang karatan. “Paling cek rantai saja sih, supaya tidak karatan dikasih pelumas,” ucap Oneal.

Rupanya dirangkaian prototype konversi motor listrik ini terdapat dua baterai, satunya sudah habis, baterai bisa diganti ke baterai lainnya. “Menurut saya untuk dua baterai total 100 km ini sudah cukup untuk dibawa ke kota,” tutur Oneal.

Teknologi ini rupanya sudah di uji coba oleh tim konversi untuk tahan kepada segala halangan salah satunya hujan, jalanan menanjak dan jalanan rusak. “Sudah kami coba dan alhamdulillah sudah lulus uji coba,” ujarnya.

Saat ini tim konversi motor listrik sedang mengembangkan inovasi lanjutan dari teknologi yang sudah dibuatnya. “Kami ingin menambahkan GPS di kilometer motor karena banyak pengemudi motor melihat HP untuk buka GPS lewat HP,” tutur Oneal.

Hal itu tentu membahayakan keselamatan pengemudi, untuk itu tim konversi motor listrik sedang mengambangkan inovasinya tersebut dengan harapan. Agar Pemkot Depok dapat mensupport secara full teknologi yang mereka buat dan saat ini dalam proses pengembangan. “Kami butuh support karena kalau soal sumber daya manusianya kami memadai dan sangat memadai,” beber Oneal.

Oneal berharap, pemerintah dapat membuat charger station di titik wilayah yang ada di Kota Depok, agar pengguna motor listrik tidak perlu lama-lama mengcharger daya baterai yang habis. “Kalau setiap habis mesti nunggu tiga jam kan lama, jadi kami berharap agar pemerintah membuat itu agar jika baterai habis, pengguna konversi motor listrik hanya tinggal membayar 2500 rupiah saja per baterai,” ujar Oneal.

Tim konversi motor listrik percaya apabila teknologinya diimplemantasikan didalam kehidupan masyarakat Kota Depok. Kota Depok akan lebih terbebas dari polusi udara dan kelangkaan BBM. “Karena ini kan menggunakan listrik, jadi tidak ada pembakaran, alhasil tidak ada asap,” ujar Oneal.

Untuk segi harga Oneal memaparkan dari segi nominal lebih murah dan menguntungkan. “Kalau beli motor baru bisa diatas Rp10 juta, kalau dikonversikan ke motor listrik hanya menambahkan komponen dengan biaya Rp10 juta,” ujarnya.

Waktu pengerjaan pun bisa dilakukan dalam satu hari. “Lima jam sudah selesai jadi, motor berbahan bakar bensin menjadi listrik,” tutupnya. (ati/rd)

Editor : Fahmi Akbar