tugu batu bedahan
Tugu Batu Bedahan jadi bagian sejarah Sawangan.

RADARDEPOK.COM – Kini kawasan Sawangan di Kota Depok sudah berkembang menjadi daerah hunian yang padat penduduk. Sawangan tidak lebih tua daripada Depok yang sejarahnya terkait dengan pensiunan pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein, sang juragan tanah Depok tempo dulu.

“Negeri Sawangan muncul pada saat Belanda dan Belgia menjadi satu kesatuan, dan masih menjadi milik keluarga Belgia,” rilis koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (25-01-1939).

Berdasarkan catatan sejarah, Sawangan pernah dimiliki salah satu keluarga Aristokrat VOC keturunan Belgia. Sebelum dimiliki keluarga bangsawan Belgia itu, tanah ini dimiliki oleh seorang pedagang bernama Jan Frederik Heim.

Setelah 1860-an, kepemilikan tanah di Depok itu berubah. Sawangan, disebut Regerings Almanak van Nederlandsch Indië voor het Jaar 1867 Volume 40 (1867:236) adalah daerah penghasil padi, kopi, kacang dan kelapa milik dua bersaudara Bernard Amé Leonard du Bus de Gisignies dan Albéric du Bus de Gisignies.

Ayah keduanya adalah Leonard Pierre Joseph burggraaf du Bus de Gisignies (1780-1849) yang antara 1826-1830, ketika Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro meletus, menjabat Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Orang paling berkuasa di nusantara. Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-42 ini beragama Katolik, yang bukan agama mayoritas orang Belanda zaman itu.

Ketika du Bus de Gisignies menjadi Gubernur Jenderal, Belanda dan Belgia masih dalam satu kesatuan. Setelah Pangeran Diponegoro dilumpuhkan pada Maret 1830, pada Agustus 1830 revolusi kemerdekaan Belgia terjadi hingga merdeka dan baru pada 1839 Raja Belanda Willem I mengakui kemerdekaan itu.

Sementara itu ketika Belgia merdeka, du Bus de Gisignies sudah kaya raya di Hindia Belanda. Bart de Prins dalam Voor keizer en koning: Leonard du Bus de Gisignies (2002:220) memiliki 4.000 hektare tanah di Sawangan. Setelah kematiannya di tahun 1849, tanahnya di Sawangan jatuh ke tangan anak-anaknya.

Di masa-masa Sawangan dimiliki anaknya, sebetulnya masa-masa kejayaan para pengusaha perkebunan. Di tahun 1898, menurut Regeerings Almanak voor Nederlandsch-Indie 1898 Volume 1 (1898:420), Sawangan yang dimiliki B.D. du Bus de Gisignies menghasilkan padi dan teh dan dikelola Lim Tiang Hoeij. Kemungkinan ada sistem bagi hasil antara Lim Tiang Hoeij dengan keluarga du Bus de Gisignies.

Sebelum 1939, daerah itu sangat sulit dicapai. Jalan antara Bogor dengan Batavia kemudian dibuat juga melalui daerah Sawangan. Di tahun itu, nilai ekonomis Sawangan makin meningkat. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (25-01-1939) menyebut di kawasan yang dihuni 20 ribu jiwa itu ditanami karet, Aleuritus dan Derriswortcl. Alcuritus Montana adalah bahan pembuatan cat cepat kering, seperti Ducolak. Karet sawangan menurut para ahli kimia yang berkunjung ke sana getah karet dari sana bisa menyerap logam dengan sangat mudah. (rd/cnbci)

 

Editor : Pebri Mulya