Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Barat, HM. Hasbullah Rahmad

RADARDEPOK.COM – Itikaf sebagai salah satu amalan sunah di bulan suci Ramadan, memiliki banyak sekali keutamaan. Apalagi dengan khusyuk untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT tanpa gangguan apapun, tentunya bisa membuat umat Islam semakin dekat dengan Allah SWT.

Itikaf berarti berhenti atau diam di dalam masjid dengan niat semata untuk beribadah kepada Allah SWT. I’tikaf bisa dilakukan kapan saja dan hukumnya sunah bagi seluruh umat Ramadan. I’tikaf harus dilakukan di masjid dan lebih utama dilakukan pada seppuluh hari terakhir di bulan Ramadan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang tercantum pada sebuah hadits:

Dari Ubay bin Ka’ab dan A’isyah, Rasulullah saw beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, hingga Allah menjemputnya (wafat).

Melaksanakan i’tikaf di masjid pada malam hari merupakan harapan dan semangat dalam menunggu turunnya lailatul qadar dengan membaca Alquran dan melantunkan berbagai doa malam lailatul qadar. Karena adanya keutamaan malam lailatul qadar inilah orang berbondong-bondong melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan di malam hari. Padahal sebenarnya Itikaf juga bisa dilaksanakan pada siang hari bulan Ramadan.

1. Menggapai Lailatul Qadar

Ibadah i’tikaf memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk menggapai malam lailatul qadar yang punya keutamaan ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan. Ada hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beritikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beritikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Setiap Saat Mendapat Pahala

Sebab diamnya di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Saat terjaga, ia mengisi waktunya dengan shalat, tilawah, dzikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakkur atau mengkaji ilmu. Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumahnya. Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian itikaf.

3. Sunnah Rasul

I’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan adalah sunnah Rasulullah. Beliau tidak pernah meninggalkannya. Bahkan di Ramadan terakhir sebelum wafat, Rasulullah beritikaf selama 20 hari. Demikian pula istri beliau dan para sahabat Nabi. Mereka beritikaf 10 hari terakhir Ramadan ini. Bahkan sepeninggal Rasulullah, istri-istri beliau juga beritikaf 10 hari terakhir Ramadan. Sebagaimana hadits di atas.

4. Tingkatkan Kekhusyukan Beribadah

Selama i’tikaf kita akan banyak berdiam diri di masjid dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga khusyuk dalam beribadah. Selama beri’tikaf kita akan fokus pada bagaimana beribadah menghadap Allah SWT bukan lagi masalah-masalah keduniawian. Untuk itu, ibadah i’tikaf membantu kita untuk bisa melaksanakan shalat, puasa, dan tadabur Alquran dengan tetap khusyuk dan tumaninah.

5. Evaluasi Diri

Evaluasi diri adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia walaupun itu terhadap dirinya sendiri. Akan sangat mudah kita mengevaluasi diri orang lain namun akan sulit jika kita mengevaluasi diri kita sendiri. Evaluasi diri seperti proses atau pegangan yang akan membawakan kita mencapai hikmah dan perbaikan diri. Tanpa evaluasi diri tentu saja manusia akan terjebak dan tersesat karena terbawa hanya oleh diri atau hawa nafsu pribadinya.

I’tikaf di bulan Ramadan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Dengan itikaf kita akan berfokus pada diri kita dan menjauhi Sifat sombong dalam islam dan Sombong dalam Islam yang merusak akhlak.(*)