PERIKSA : Petugas dari DKP3 Kota Depok ketika melakukan pemeriksaan kesehatan terkait PMK di Peternakan ADH Farm, Kecamatan Cimanggis. ISTIMEWA
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terkait Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) pada hewan yang sejalan dengan Covid-19. Kamis (12/5), Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Depok sudah melakukan pemeriksaan terhadap 75 hewan. Dan hasilnya masih belum ditemukan PMK.

Kepala DKP3 Kota Depok, Widyati Riyandani mengatakan, belum ada penemuan kasus penyakit tersebut di Kota Depok. Ini setelah pihaknya melakukan pemeriksaan ke sejumlah titik peternakan hewan. “Telah dilakukan pemeriksaan sampai dengan hari ini belum ditemukan,” kata dia kepada Harian Radar Depok, Kamis (12/5).

Dia menuturkan, kini tengah menggencarkan pemeriksaan dan pengawasan ke sejumlah tempat peternakan. Poin utamanya adalah mengenai masuknya hewan ternak yang berasal dari luar Kota Depok. “Pemeriksaan dan pengawasan di peternakan sedang berjalan dan tim masih terus melakukan pengawasan dan pemantauan, terutama terkait masuknya ternak dari luar Kota Depok,” papar Wid –sapaannya-.

Petugas dari DKP3 Kota Depok baru saja melakukan pemeriksaan terhadap 75 ekor sapi baik perah dan pedaging di Peternakan ADH Farm, Kecamatan Cimanggis. “Dari pendataan masuk satu ekor sapi tapi berasal wilayah Jabodetabek tidak berasal dari episentrum wabah PMK,” terang dia.

Baca Juga  3.365 Pinjol Ilegal Diberantas OJK

Selanjutnya, beber dia, pada pemeriksaan yang dilakukan itu tidak ditemukan PMK di peternakan tersebut. “Sampai sekarang PMK belum ditemukan di Kota Depok dan kita berharap jangan sampai masuk,” jelas mantan Camat Cinere ini.

Lebih dalam, Wid menyebutkan, PMK adalah penyakit virus ternak yang penularannya ke ternak lain cukup cepat, yakni melalui udara. Penyakit ini menyerang hewan ternak berkuku genap atau belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi. “Dampak PMK dapat berpengaruh pada penurunan produksi susu, penurunan berat badan ternak, penurunan fertilitas sampai kepada penolakan pasar,” tegasnya.

Terpisah, Kepala DKPP Jabar, M Arifin Soedjayana mengatakan, setelah muncul laporan kasus PMK dari Dinas Peternakan Jawa Timur, pihaknya langsung berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota di Jabar untuk mencegah dan mewaspadai temuan kasus tersebut.

“Jawa Timur itu melaporkan 5 Mei 2022. Dari informasi tersebut, besoknya kami langsung koordinasi dengan daerah agar meningkatkan kewaspadaan karena ada laporan dari Garut bahwa ada suspek PMK di sana,” katanya.

Baca Juga  Jokowi Setujui Beli Mobil Bebas PPnBM

DKPP Jabar bersama Tim Balai Veteriner Subang pun langsung mengambil sampel suspek PMK di Garut, pada 7 Mei lalu. Kemudian, pada hari berikutnya sampel juga diambil di lokasi suspek PMK di Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Banjar. “Sejumlah sampel terkonfirmasi 100 persen positif PMK,” ucapnya.

Adapun rincian temuan kasus PMK di Jabar, yakni di Garut terdiri dari 25 ekor sapi potong, 3 ekor sapi perah, dan 3 ekor domba. Sedangkan di Tasikmalaya, 18 ekor sapi dinyatakan positif PMK, termasuk 11 ekor sapi di Kota Banjar. “Sebelum ada temuan positif pada 7 Mei, kami sudah membentuk tim respons cepat PMK,” ucap Arifin.

Arifin mengaku, pihaknya juga sudah menyiapkan strategi dan rencana penutupan di jalur ternak dan pasar ternak, termasuk pengawasan lalu lintas ternak, terutama di dua check point, yakni di Losari dan Banjar. “Dari 1 April-10 Mei, ada 5.025 sapi potong, 294 domba, 578 kambing, dan 11 kerbau masuk lewat dua check point itu yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali,” ujarnya.

Baca Juga  2.330 Susu Rusak Dibakar

Arifin menambahkan, pihaknya aktif melakukan penelusuran dan pencegahan di sejumlah titik sekaligus memperkuat informasi dan sosialisasi terkait PMK hingga vaksinasi dan pengobatan suportif. “Strategi lain adalah biosecurity dan dekontaminasi,” cetusnya.

Guna memperkuat pencegahan dan kewaspadaan PMK di Jabar, pihaknya juga tengah menyusun surat edaran Gubernur Jabar untuk bupati dan wali kota terkait penanganan PMK. “Selanjutnya akan ada rapat koordinasi penanganan PMK dengan bupati dan wali kota,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga langsung mengeluarkan surat edaran pada kepala dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di kabupaten/kota di Jabar untuk mewaspadai penularan PMK. “Kami sudah menggelar rapat koordinasi dengan stakeholder peternakan di Jawa Barat sekaligus inspeksi ke pasar hewan di Tanjungsari, Sumedang dan Manonjaya, Tasikmalaya,” ucap Arifin menambahkan.

Arifin juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang menghadapi fenomena kemunculan PMK pada hewan mengingat PMK bukan penyakit zoonosis. “Jadi tidak bisa menular dari hewan ke manusia. Aman mengonsumsi produknya selama dimasak dengan benar,” tutupnya.(ger/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Fahmi Akbar