DISKUSI : Suasana saat Halal Bihalal yang digelar PCM Sukmajaya Depok, Minggu (29/05). Istimewa

RADARDEPOK.COM – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukmajaya Kota Depok menggelar Halal Bihalal sekaligus diskusi dengan mengusung tema ‘Ber-Muhammadiyah dan Penguatan Amal Usaha Muhammadiyah Sukmajaya’. di Perguruan Muhammadiyah Citanduy, Minggu, (29/05).

Kegiatan tersebut turut hadir Dr. Muhtadin Tyas dari PD Muhammadiyah Kota Depok, Pengurus PCM Sukmajaya, PC Aisyiyah Sukmajaya, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se kecamatan Sukmajaya serta anggota dan simpatisan Muhammadiyah.

Pada kesempatan ini hadir  narasumber,  Ketua PWM Jawa Barat, H. Suhada dan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Dr. Zamah Sari, M.Ag, dengan moderator Fahlan Nian Akbar dari Lazismu PP Muhammadiyah.

Ketua Panitia, Sanuri Abdul Latip mengucapkan terima kasih kepada undangan yang telah hadir dalam acara Halal Bihalal Muhammadiyah Sukmajaya.

“Kami panitia tak lupa memohon maaf sebesar-besarnya jika dalam penyelenggaraan acara Halal Bihalal ini jika ada yang kurang berkenan,” ucap Sanuri.

Dirinya juga menyampaikan dengan Halal Bihalal diharapkan masing-masing pribadi senantiasa menyadari jika sebagai manusia tentu tak luput berbuat khilaf, berupaya melapangkan dada, membuka hati dengan sabar dan ikhlas dengan ridho Allah SWT, meminta dan memberi maaf.

“Dengan Halal Bihalal diharapkan tercipta ukhuwah islamiyah, tergalangnya persaudaraan yang lebih akrab antar anggota Muhammadiyah,” katanya.

Ketua PCM Sukmajaya, Muhammad Fikri menambahkan bahwa Muhammadiyah termasuk yang merintis sejak awal silaturahmi Idul Fitri ini yang kemudian diberi nama Halal Bihalal.

Merujuk sumber dari Suara Muhammadiyah, Muhammadiyah telah menggunakan istilah Halal Bihalal sejak Idul Fitri 1 Syawal 1344 H atau tahun 1926 Masehi.

Berangkat dari data tersebut, sambung dia, telah mematahkan yang menyebut bahwa istilah Halal Bihalal baru muncul di Indonesia pada tahun 1945.

Selain itu, Fikri menyampaikan duka cita atas meninggalnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif yang dikabarkan wafat pada Jumat (27/5/2022) pagi.

Menurutnya, Buya Syafii merupakan sosok pribadi yang sangat sederhana dan memiliki komitmen kebangsaan yang sangat kuat.

Terakhir, Fikri mengucapkan terima kasih kepada panitia, para narasumber serta pengurus, anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang telah hadir di acara Halal Bihalal ini.

Pada sesi acara puncak, Ketua PWM Jabar, H. Suhada narasumber pertama menyampaikan 7 sistem sentralisasi yang dilakukan PCM Sukajadi.

“Sentralisasi di bidang management dan kepemimpinan, bidang keuangan, bidang Sumber Daya Manusia (SDM), bidang perencanaan dan audit, bidang pembangunan sarana dan prasarana, bidang purchasing (pembelian) dan unit produksi dan bidang ekonomi,” jelasnya.

Dalam konteks amal usaha, maka perlu dipisahkan atau dibuat presentase berapa dan mana yang murni komersial, lalu berapa dan mana yang ada sisi sosialnya.

“Ini penting, apalagi jika melihat tantangan dunia usaha saat ini yang sudah go digital, amal usaha mau tidak mau harus dikelola secara profesional,” tuturnya.

Selain itu, Suhada mengungkapkan bahwa Amal-amal usaha yang dimiliki Muhammadyah harus diletakan secara betul, mana yang profit oriented dan mana yang sosial oriented atau mana yang blended (profit sekaligus sosial oriented) dengan persentase yang mengutamakan kesehatan alur keuangan.

Wakil Rektor II UHAMKA, Dr. Zamah Sari narasumber kedua menjelaskan Muhammadiyah sebagai suatu organisasi memiliki budaya organisasi yang kuat.

“Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan Muhammadiyah paling tidak memiliki tiga fungsi utama. Fungsi yang pertama sebagai institusi pendidikan, kemudian sebagai intitusi dakwah, dan yang terakhir sebagai tempat untuk beramal,” ujarnya.

Zamah Sari juga menyampaikan, jumlah Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit yang semakin bertambah bukan merupakan tujuan dari Organisasi Muhammadiyah, namun tujuan yang sebenar-benarnya adalah Muhammadiyah mengamalkan Al Qur’an yang sebenar-benarnya. Manifestasi dari Al Qur’an di implementasikan dengan menjaga dan merawat amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah.

“Driving Force (Kekuatan Penggerak) dimana Dakwah dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus tetap hidup di tengah masyarakat. Sinergi antara Amal Usaha Muhammadiyah dan Persyarikatan Muhammadiyah harus tetap terjalin dengan baik,” pungkasnya. (cky)

Editor : Ricky Juliansyah