PENJUAL :  Pedagang daging sapi di Pasar Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas Kota Depok, Minggu (29/5). ALDY RAMA/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Dear emak-emak di Kota Depok, ada kabar gembira nih. Minggu (29/5), harga daging sapi mengalami penurunan harga yang drastis Rp20 ribu perkilogram (Kg)-nya. Turunnya harga dampak dari wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang kini sudah merebak di 20 kota dan kabupaten di Jawa barat (Jabar).

Pedagang daging sapi di Pasar Depok Jaya, Kelurahan Pancoranmas, Rusmin Nuryadin mengaku, merasakan betul dampak dari PMK yang merebak. “Sebelumnya daging sapi yang bisa saya pasok dari ternak bisa sebanyak 50 kilogram, tapi untuk sekarang hanya 20 kilogram saja,” ucapnya kepada Harian Radar Depok, kemarin (29/5).

Baca Juga : Waduh 622 Ternak Jabar Positif Penyakit Mulut-Kuku, Depok Cek Disini

Rusmin mengatakan, daging sapi yang ia pasok berasal dari peternakan sapi yang berada di Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Saat ini harga daging lagi turun. Sebelumnya daging Rp160 ribu perkilogra, kini menjadi Rp140 perkilogram. PMK menjadi kemungkinan terbesar yang menyebabkan pasokan daging sapi dan harganya mulai turun. “Tidak Cuma harganya saja yang turun, pendapatan juga menurun, akhir-akhir ini jarang orang yang mau beli daging sapi,” kata Rusmin.

Baca Juga  Melihat Geliat JCI Chapter Depok

Terpisah, pedagang daging sapi di Pasar Agung Depok Timur, Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya, Akbar Afriansyah juga merasakan dampak PMK yang sedang mewabah. Harga daging sapi sekarang sedang turun. Perkilogram hanya Rp140 ribu. “Mungkin bisa turun lagi, tergantung harga dari peternakannya” ungkap dia.

Akbar mengatakan, mengambil pasokan daging dari peternakan sapi di Blitar, Provinsi Jawa Timur. “Harapan saya sih semoga harga daging sapi segera kembali normal dan PMK ini segera usai, karena sangat berpengaruh dengan pendapatan saya,” bebernya.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat Mohamad, Arifin Soedjayana mengatakan, wabah PMK telah menyebar di 20 kota/kabupaten. Secara persentase, 74 persen daerah di Jabar terjangkit wabah PMK. “Terhitung sejak 6-7 (Mei) kita ambil sampel, tanggal 9 Mei kita sudah dapat (hasilnya). Yang positif itu adalah Garut, kemudian tanggal 10 Kabupaten Banjar. Posisinya sekarang sudah ada 20 kabupaten/kota yang sudah terjangkit,” kata Arifin, Minggu (29/5).

Baca Juga  Imam Musanto Ingin di Komisi D

Namun, menurut Arifin, situasi wabah PMK di Jabar masih terkendali. Ia pun mengatakan kebutuhan hewan ternak untuk kurban di Hari Raya Idul Adha masih bisa terpenuhi. Arifin menuturkan Pemprov Jabar juga mendatangkan ribuan hewan ternak sehat dari berbagai daerah. Hewan ternak itu dikarantina terlebih dahulu di Tanjung Priok, Jakarta.

“Kami yakin aman karena Balai Karantinanya ada di Tanjung Priok, jadi kebutuhan untuk 70 ribu mudah-mudahan itu bisa tercapai. H-14 hewan yang dipersiapkan untuk kurban bisa aman dan sehat,” ujar dia.

Menurut Arifin penyebaran wabah PMK di Jabar disebabkan lalu lintas kedatangan hewan dari daerah lain. Pengecekan di titik-titik tertentu pun diperkuat.

Selain itu, ia mengatakan Pemprov Jabar akan bekerja sama dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia untuk menerjunkan dokter hewan membantu penanganan wabah di daerah yang masih minim dokter. “Kemudian kita turunkan juga teman-teman dokter hewan dari provinsi kerja sama dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia, ada delapan komisariat di Jabar kita turunkan untuk membantu teman-teman karena dokter hewan di kota/kabupaten sedikit,” katanya.

Baca Juga  Katar Duren Mekar Depok Kuatkan Kelembagaannya

Divisi PKP Pertanian dan Ketahanan Pangan Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jawa Barat Rochadi Tawaf mengatakan meski kematian disebabkan PMK di Jabar rendah, tetapi mengancam produktivitas sapi terutama pada sapi perah hingga menjadi 25 persen.

Ia pun berharap, ada anggaran dari pemerintah untuk melakukan potong paksa hewan-hewan yang terjangkit PMK. “Saya harap ada biaya dari pemerintah untuk tanggap darurat pengganti stepping out, apalagi jumlah sapi yang tertular masih sedikit,” ucap Rochadi.

Sementara itu, Kepala Balai Veteriner Subang Kementerian Pertanian Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Sodirun mengimbau masyarakat yang ingin berkurban agar membeli hewan ternak yang sudah memiliki sertifikat kesehatan hewan.(cr2/rd)

Jurnalis : Aldy Rama 

Editor : Fahmi Akbar