SINERGI : Liptanu saat foto bersama dengan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kota Depok, di lokasi Kandang Sapi Rumah Rakyat Berdikari, di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas.
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Baru ini Indonesia terpukul secara ekonomi yang efeknya bisa dirasakan dalam jangka panjang dengan hadirnya virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dampak ekonomi wabah PMK terhadap hewan ternak makin nyata dan mengkhawatirkan.

Hal ini diungkapkan Pengusaha Sapi sekaligua Ketua Umum Liga Pengusaha dan Tani Nusantara (Liptanu) Indonesia, Reza Andreansyah Nusantara, Selasa (31/05).

“Saat ini banyak peternak, pengepul dan pengusaha ternak serta daging olahan resah pasalnya sektor usaha mereka praktis berhenti,” jelasnya saat menghubungi Radar Depok.

Katanya, kebijakan karantina kandang dan tertutupnya jalur distribusi ternak antar daerah atau wilayah, menyebabkan ketersediaan daging dan hewan ternak yang sehat terancam. Itu menyebabkan masyarakat kebingungan, dimana daging dari pemotongan ternak suspect PMK berpotensi terus beredar di provinsi asal karena para peternak berusaha menyelamatkan masing-masing pendapatannya.

Baca Juga  Hak Karyawan Giant Dijanjikan Sesuai UU Cipta Kerja

Meksipun terjual murah dan jangka waktu yang cepat akan terus membuat dampak harga ternak dan daging semakin mahal karena jumlah populasi akan menurun dan ketika barang langka akan terjadi inflasi yang signifikan, karena kebutuhan pasar bukan hanya masyarakat tetapi ada industri olahan makanan, hotel, restoran, catering, dan lainnya.

Dibeberkan Reza, menurut data bank dunia 2022 terjadi inflasi di pasar Internasional sebesar 33,85 persen ketika harga meat boneless pada Januari 2021 sebesar 4,82 USD/kg menjadi 5,97 USD/kg pada Januari 2022.

Untuk Sapi Bakalan terjadi Inflasi sebesar 60 persen dari 2,8 USD/kg pada Februari 2021 menjadi 4,2 USD/kg pada Februari 2022, ketika ada regulasi Repopulasi sapi di Australia sehingga ada batasan ekspor, kemungkinan akan terjadi Inflasi yang cukup signifikan karena meningkatnya kebutuhan pasar dengan terbatasnya jumlah barang akibat bertambah luas daerah yang terjangkit PMK.

Baca Juga  Pilkada 2020 Penentu Arah Kemajuan Depok

“Agak aneh ketika Indonesia dinyatakan bebas virus PMK pada 20 tahun yang lalu dan sekarang muncul kembali, jangan lupa Import daging yang masuk Indonesia cukup deras ketika keadaan bebas virus,” bebernya warga Cipayung ini.

Bahkan, saat ini Indonesia melakukan Import besar-besaran dengan harapan dapat menstabilkan harga daging dalam negri, tercatat selama tahun 2021 kebutuhan daging mencapai 700 ribu ton atau setara 3,6 juta ekor sapi sedangkan produksi dalam negri hanya mampu menyediakan 353.474 ton.

Dipastikan, Liptanu siap bekerja sama dengan pemerintah terutama kementerian pertanian RI, Kemenpar, dan pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan dan energi yang berkesinambungan.

“Saat ini di Provinsi Jawa Barat Liptanu sedang melakukan program ‘Integrated Farming’ yang tertata, terdata, terpola, dan terkoordinasi yang dilakukan kelompok Tani dibawah Liptanu dalam pengerjaan pemaksimalan lahan pertanian yang di integrasikan dengan peternakan, perikanan, biogas, biolistrik, dan kegiatan produksi gerabah serta batu bata dari limbah peternakan,” ungkap Reza.

Baca Juga  Gudang Tenda di Sawangan Dilahap Sijago Merah

Ia menerangkan, dengan konsep pertanian integrasi yang mengedepankan Agrobisnis dan Agrowisata, dalam beberapa tahun kedepan Indonesia dapat memodernisasi sistem dan meningkatkan produksi pertanian dari Hulu sampai Hilir serta kestabilan harga pangan dalam negri karena terkoordinasi dengan baik.

Selain untuk percepatan populasi sapi potong, Integrated Farming dapat menghasilkan value besar serta menjadi ujung tombak kedaulatan pangan dan energi Nusantara. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya