TERJARING : Anggota Satlantas Polrestro Depok saat melakukan penindakan penilangan terhadap pelanggar di Jalan Raya Margonda, beberapa waktu lalu. DOK RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Jangan kaget di Juni mendatang puluhan ribu plat nomor kendaraan di Kota Depok ‘disulap’ menjadi putih. Aturan yang tertuang  dalam Peraturan Kepolisian nomor 7 tahun 2021 tentang registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor, menggantikan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 5 Tahun 2012 tentang Registrasi Kendaraan dan Identifikasi Kendaraan Bermotor, itu. Tak lain guna mendukung program tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enformcement (ETLE).

Adanya aturan tersebut, Ketua Komunitas Motor Classic Depok (MCD), Samsul Bahri menilai, menjadi percuma peraturan tersebut diberlakukan dalam waktu dekat, bila teknologi kameranya tidak mendukung. “Menurut saya, kalau teknologi kameranya yang kurang mendukung akan sia-sia. Harusnya, kameranya yang diperbaharui dengan yang lebih canggih, bukan justru platnya yang diganti,” tegasnya kepada Harian Radar Depok, Senin (23/5).

Baca Juga : Pelat Nomor Kendaraan Berubah, Jadi Latar Putih Tulisannya Hitam

Penerapannya, kata Samsul, akan terasa sulit karena ratusan ribu motor bahkan jutaan motor yang tersebar di seluruh Indonesia. Soal sosialisasi juga kurang jelas kepada masyarakat, baik secara tujuan dan lainnya. Jika tujuannya untuk lebih memudahkan penindakan pelanggar lalu lintas, apa kemungkinan plat warna merah juga mudah terlihat pada kamera bila melanggar. “Kalau tujuannya itu, apa plat merah juga bisa terbaca kamera,” tanya Samsul.

Dia juga meyakini, akan ada biaya yang cukup besar untuk merubah plat dari hitam ke putih. Karena ada pengeluaran untuk plat, warna, dan angka yang timbul. “Jadi buat saya tidak mungkin gratis. Meski dibilangnya gratis dari informasi yang masyarakat dapat,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk menegakan pengendara agar tertib berlalu lintas kembali pada individu, baik pengendara maupun petugas kepolisian. Harus bisa membangun kesadaran dan keselamatan. “Masyarakat mah kan kalau di buat aturan yang ketat malah justru makin ngelawan. Asal dari penegak hukumnya mengayomi secara harmonis, bukan tidak mungkin masyarakat akan tertib dengan sendirinya,” tegas Samsul.

Sementara, Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno menjelasan, peraturan ini sudah tepat karena plat putih untuk memudahkan kamera membaca pelanggar lalu lintas. Putih lebih terlihat jelas dari plat hitam. “Jadi nanti yang terbaca platnya bukan wajahnya. Itu akan mengefektifkan dalam tertib berlalu lintas,” terangnya kepada Radar Depok, Senin (23/5).

Sudah cocok dilakukan di Indonesia, karena bila ada pengendara yang melanggar akan lebih mudah diketahui dan ditindak. Jadi tidak perlu prosedur yang berbelit sampai persidangan. Tak hanya itu, meski denda yang dikenakan sesuai pelanggarannya mungkin tidak begitu besar, pastinya dapat membuat efek jera pada pengendara. “Karena prosedur cepat, langsung ditindak, semoga buat jera pengendara,” tambahnya.

Bagi pengendara yang platnya masih hitam, ketika mengurus pajak atau balik nama lebih baik sekaligus merubah plat menjadi putih, sebab Juni sudah penerapan. Nantinya juga, bila kendaraan sudah berplat putih agar tidak mudah meminjamkan kepada orang lain, karena nanti yang akan dihubungi dan ditindak adalah pemiliknya. “Sudah banyak kasus seperti itu. Yang punya merasa tidak melanggar tapi ternyata orang lain waktu kendaraannya dipinjam,” ungkap Djoko.

Menurutnya, sosialisasi yang tepat untuk peralihan plat tersebut bisa dilakukan ketika pengendara ingin membayar pajak setiap tahunnya. Terkait biayanya, kata Djoko, akan dibebankan pada pemilik kendaraan tapi dipastikan dengan harga yang terjangkau karena ini kebutuhan seluruh masyarakat. “Saya tidak tahu biaya pastinya berapa. Yang penting jangan mahal, jangan sampai mengambil untung banyak,” tegasnya.

Saat penerapan, juga berdampak pada kamera yang akan diletakam setiap jalan. Sehingga akan ada pengeluaran yang besar agar bisa berjalam secara efektif. Namun, Djoko menyarankan agar menggunakan kamera yang bisa berkeliling (mobile). Misalnya diletakan di motor atau helm petugas saat melakukan patroli. “Jadi biayanya akan lebih murah dari kamera yang ada di jalan. Tapi tidak perlu sampai ke kampung-kampung, cukup di jalan protokol saja,” sarannya.

Perlu diketahui belum lama, Dirregident Korlantas Polri Brigjen, Yusri Yunus mengatakan, sebagai tahap awal kebijakan penggantian pelat nomor akan diterapkan pada beberapa jenis kendaraan. “Pelat kendaraan berwarna putih akan diprioritaskan untuk kendaraan baru dan yang habis masa berlaku lima tahunan,” kata Yusri.

Dengan kata lain, kendaraan pelat hitam yang masa berlakunya belum habis tahun ini tetap akan seperti biasa, atau tak perlu melakukan pergantian lebih dulu. “Kami prioritaskan adalah kendaraan baru dan kendaraan yang sudah waktunya ganti pelat lima tahunan,” kata Yusri.

Kendati pelat berwarna putih akan diterapkan, tapi penggunaan pelat dengan kelir hitam pada masa transisi dipastikan tetap legal. Dengan catatan, pemilik menjalankan semua kewajiban yang berkaitan dengan kepemilikan kendaraan bermotor, contohnya membayar pajak.

Perubahan warna pelat kendaraan berkaitan dengan efektivitas pelaksanaan tilang elektronik atau ETLE. Karena dengan warna dasar hitam dan tulisan putih, kerap terjadi salah baca. Kebijakan penggantian pelat nomor kendaraan putih sebelumnya diatur dalam Perpol Nomor 7 Tahun 2021 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor. Pada Pasal 45, dijelaskan bahwa pelat nomor untuk kendaraan bermotor perseorangan, badan hukum, PNA, dan Badan Internasional akan berubah menjadi warna putih dengan tulisan hitam.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar