WASPADA PANAS : Seorang warga Depok sedang menggunakan payung menghalau panas yang terik, di kawasan Pancoranmas, Depok. ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Pantas saja saat ini suhu di Kota Depok sedang panas-panasnya. Ditambah Senin (9/5) sorenya, terjadi hujan disertai puting beliung di Kecamatan Sawangan. Tanda tersebut periode peralihan musim. Diprediksi Kota Depok akan memasuki musim kemarau pada Juni mendatang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Indra Gustari menuturkan, setelah melewati puncak musim penghujan Januari-Februari lalu, wilayah Bogor dan Depok akan memasuki fase musim kemarau pada Juni 2022. “Di wilayah Jawa Barat umumnya musim kemarau mulai terjadi April hingga Juli 2022. Untuk wilayah Bogor dan Depok diprediksi terjadi pada Juni,” papar Indra

Menurutnya, ada perbedaan awal musim kemarau pada tahun ini dibanding awal kemarau pada 2021 yang terjadi pada April di wilayah Bogor. Mundurnya awal musim kemarau, lanjut Indra, dikarenakan kondisi La Nina lemah dan diprediksi berangsur menuju netral pada periode Maret–April-Mei 2022 dan saat ini. Kondisi suhu muka air laut di perairan Jawa dan hampir seluruh Indonesia relatif lebih hangat dibanding normalnya. “Puncak musim kemarau untuk wilayah Bogor diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus-September 2022,” kata Indra.

Perlu diwaspadai periode peralihan musim April hingga Mei 2022 berpeluang terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan hujan es. “Pada umumnya setiap masa peralihan musim terjadi cuaca ekstrem dan masyarakat perlu mewaspadainya,” terangnya.

Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat melakukan penyimpanan air pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau dengan memenuhi danau, waduk, embung kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya. Indra juga menambahkan, untuk menekan risiko penurunan hasil pada lahan sawah. “Pengelolaan air bagi kebutuhan pertanian harus dilakukan lebih hemat dan penggunaan varietas yang toleran kekeringan,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok, Denny Romulo menyebut, belum ada informasi dari BMKG Bogor dan BPBD Jawa Barat terkait musim kemarau dan waspada kekeringan. Memang di DKI Jakarta sudah ada warning terkait musim kemarau. “Kota Depok masih mengikuti surat BPBD Jawa Barat terkait mitigasi bencana banjir, longsor dan tanah bergerak,” ujarnya singkat kepada Harian Radar Depok, Selasa (10/5).

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk mewaspadai kondisi suhu panas atau terik pada siang hari hingga pertengahan Mei 2022.

“Masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan tertulisnya yang di terima Radar Depok.

Dari data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terukur selama periode tanggal 01 – 07 Mei 2022 di Indonesia berkisar antara 33 – 36.1 °C dengan suhu maksimum tertinggi hingga 36.1 °C terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan Utara.

Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38.8°C di Palembang pada tahun 2019, sedangkan di bulan Mei sekitar 38.8 °C di Temindung Samarinda pada tahun 2018.

Guswanto menjelaskan, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari tersebut dipicu oleh beberapa hal yakni posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator yang mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau, dimana tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang, sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

“Dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan Bumi, sehingga menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup terik pada siang hari,” tandas Guswanto.(rd)

Editor : Fahmi Akbar