RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kasus pencabulan anak di bawah umur berinisial DS (9) yang dilakukan pelaku S (14) yang juga di bawah umur telah melalui sidang putusan pada 22 April 2022.

Hakim Pengadilan Negeri Depok memutus 4 tahun 3 disertai dengan restitusi sebesar Rp. 15.350.000.

Forum Bantuan Hukum untuk Kesetaraan, Wide afriandy menegaskan, yang terpenting bukan soal hukuman pidananya melainkan kasus ini bisa terungkap, dan korban mendapatkan hak-haknya.

“Ini mengingat kedua belah pihak sama sama di bawah umur,” ungkapnya kepada Radar Depok, Selasa (24/05).

Dirinya juga menilai sejauh ini yang telah dilakukan aparat serta penegak hukum sudah benar, meski ada kelambatan dalam pengungkapan kasusnya.

Namun yang menjadi target bukan terkait lama hukuman yang diterima pelaku. Melainkan, mencegah hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari, bukan hanya di Kota Depok tapi wilayah lainnya.

Bahkan, pendampingan paling penting juga diberikan yaitu psikolog untuk memulihkan psikologis korban dan keluarganya yang diketahui berlatar belakang kurang mampu.

Wide juga mengharapkan, seluruh pihak harus lebih peduli untuk mengedukasi lingkungan anak-anak dari keluarga, tetangga, sekolah, hingga sanak keluarga.

“Memang ini yang menjadi kunci prilalu orang dewasa disekitarnya. Kebiasan orang dewasa mau didengar saja, tapi tidak mau mendengar. Jadi harus lebih komunikatif kepada anak yang disertai edukasi untuk mencegah kejadian semacam ini,” harap Wide.

Sementara, Staf Biro Pemenuhan Hak Saksi dan Korban LPSK RI, Ali Imran membenarkan, dalam melakukan pencegahan tersebut bukan semata dengan hukum pidana semata, sebaiknya ada proses wajib untuk dijalankan sebagai efek jera.

“Tapi selama menjalani hukuman pidana, terdakwa juga mendapatkan pembinaan dan bimbingan,” jelasnya.

LPSK juga memberikan pendampigan secara langsung kepada korban serta keluarga dari awal hingga saat ini, yang tujuannya untuk memulihkan psikologis korban.

Terkait pencegahan, kuncinya pada seluruh pihak, terutama ketahanan keluarga. Hal ini karena orang terdekat adalah keluarga seban begitu mengenal tumbuh kembang anak-anak.

“Pencegahan harus ada komitmen sama sama. Peduli kepada masa depan anak-anak,” tandas Ali. (rd/arn)

 

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Pebri Mulya