mojang dan jajaka SMA Putra Bangsa
BUDAYA : Salah satu pasangan siswa SMA Putra Bangsa yang menjadi perwakilan kelasnya dalam lomba fashion dalam ajang Mojang dan Jajaka, Jumat (20/05). FOTO : PEBRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – OSIS SMA Putra Bangsa mengadakan kegiatan Mojang dan Jajaka, Jumat (20/05). Dalam kegiatan yang bertemakan ‘Signature of Nonoman Panutan’ untuk mengenalkan karakter budaya tradisional kepada generasi muda.

Wakil Kesiswaan SMA Putra Bangsa, Ropiyadi mengatakan, Mojang dan Jajaka yang diadakan pihaknya menjadi wadah kreativitas dari siswa-siswanya dalam hal kebudayaan, terutama budaya Sunda.  Pesertanya adalah siswa kelas X dan XI.

“Mojang dan Jajaka untuk menghasilkan kualitas generasi yang mengerti dan memahami akar budaya di Jawa Barat,” ucapnya.

Ropi-sapaannya-menuturkan, ada tiga kegiatan yang diadkan dalam Mojang dan Jajaka, yakni fashion show, kawih, dan ngadongeng.  Dengan melibatkan tiga juri, yakni Sri Lestari, Sevi Er Irawati, dan Agustin Mulyati.

“Setiap kelas wajib untuk mengirimkan satu perwakilan dalam tiap lombanya,” tuturnya.

Di lomba fashion show, tiap peserta diwajibkan mengenakan pakaian khas Jawa Barat, kebaya untuk siswa putri dan bedahan untuk siswa putra. Peserta akan diuji tentang pengetahuannya dalam hal makna dan sejarah dari pakaian yang mereka kenakan.

Pada lomba kawih, tiap peserta memilih salah satu judul kawih bahasa Sunda yang telah disiapkan panitia, yani ada Bandung Lembang, Tanah Sunda, Ngalalana, Cing Cangkeling, dan Panon Hideung.

“Lomba ngadongen, pesertanya diberikan kebebasan untuk memilih judul dongeng yang berasal dari Jawa Barat. Mereka juga diberikan kebebasan jika ingin menggunakan properti yang menunjang penampilan,” jelasnya.

Ropi berharap, dengan adanya kegiatan tersebut maka siswa bisa lebih mengenal tentang seni dan budaya yang ada di Kota Depok. Dimana, Kota Depok adalah bagian dari Jawa Barat yang didalamnya ada seni dan budaya Sunda.

“Siswa sebagai generasi bangsa, tentunya harus bisa mengetahui dan mengenal seni dan budaya tradisional di lingkungannya, yakni Sunda. Karena, mereka juga yang akan melestarikannya di masa depan nanti,” tuturnya. (rd)

 

Jurnalis/Editor : Pebri Mulya