Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM – Semua umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan suka cita. Sekalipun lapar dan dahaga, tapi tetap dijalani dengan sungguh-sungguh. Dengan cara menahan tidak makan, tidak minum dan menahan nafsu biologis sepanjang hari-hari berpuasa. Bahkan lebih dari itu ditambah dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti memperbanyak bacaan al-Qur’an atau tadarus, memperbanyak sedekah, dzikir-dzikir dan lain-lain.

Amalan-amalan baik yang dilakukan oleh umat muslim ini memang mengikuti perintah Allah swt. dan Rasul-Nya yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an. (Q.S.Al-Baqarah : 183-186). Sehingga kegiatan puasa menjadi kebiasaan yang melekat dengan identitas kemusliman seseorang. Bahkan kegiatan di masyarakatpun juga tercermin nuansa puasa (Ramadhan). Semakin semaraknya masjid-masjid dan mushalla di setiap wilayah muslim. Hal ini mencerminkan kehusyu’an dalam menjalankan ibadah puasa. Maka tidak ada satu orang muslimpun (yang ta’at) membatalkan puasanya semata-mata karena malas.

Baca Juga  SMRC : Jokowi Terlihat Nyaman Bekerjasama dengan Airlangga Hartarto

Dengan femomena maraknya umat muslim berpuasa ini sudah seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas ibadah puasa. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, tapi juga menahan diri dari segala nafsu buruk. Seperti menahan diri untuk tidak marah , tidak kecewa, tidak dendam, tidak berkata kasar, tidak ghibah, tidak memfitnah, tidak adu domba dan hal-hal buruk lainnya. Karena hal-hal buruk tersebut akan mencederai hubungan vertical kepada Allah swt. Misalnya saja tentang marah yang menyebabkan gangguan ruhani baik bagi yang marah maupun bagi orang yang dimarahi. Maka cederanya ruhani itu bagian dari gangguan komunikasi dengan Tuhannya. Karena komunikasi dengan Tuhan Yang Maha Suci membutuhkan kesucian lahir batin.

Baca Juga  Laptop untuk Pelajar dalam Digitalisasi Sekolah, Berikut Spesifikasinya

Ibadah puasa tidak saja merupakan ibadah biasa, tapi merupakan ibadah yang memerlukan keterlibatan hati nurani. Tanpa melibatkan batin, maka puasanya hanya menjadi ibadah yang sekedar menggugurkan kewajiban, tapi tidak memperoleh pahala atau hikmah yang lebih. Ibarat orang dagang hanya kembali modal saja, tanpa memperoleh laba. Padahal puasa adalah ibadah sirriyah yang akan diberi balasan berlipat ganda oleh Allah swt.

Maka dampak dari ibadah puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh berpuasa jasmani dan rohani, adalah menjadikan seseorang merasakan kenikmatan yang bersifat jasmaniyah, seperti menjadikan badannya lebih sehat dan lebih baik. Dan ruhaniyah/ batinnya pun bisa lebih fresh lebih senang, lebih sehat. Sehingga tidak mudah sedih atau stress. Karena orang yang berpuasa merasa dekat dengan Allah swt. Dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah saw : “Shumu tashihhu”; berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.

Wal hasil puasa yang berdaya guna adalah puasa yang dilandasi rasa keimanan kepada Allah swt (Imanan) dan percaya bahwa puasa itu adalah benar-benar perintah Allah swt yang membawa manfaat di dunia maupun di akhirat. Begitu juga puasa yang dilakukan dengan ikhlas (ihtisaban), maka akan memperoleh Ridha Allah swt yang bisa membuat orang lebih nyaman dan tenteram. Jadi semakin tinggi kesadaran seorang muslim yang berpuasa, maka akan meningkatkan kelancaran hubungan antara hamba dengan Tuhannya (transenden). Wallahu a’lam.(*)