female plus
KOMPAK : Tim Female Plus di Kota Depok ketika melakukan audiensi dengan sejumlah kalangan. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

Sejak pertama berdiri pada Tahun 2004 silam, Female Plus terus membuktikan konsistensinya dalam menaggulangi permasalahan HIV/AIDS. Dalam menjalankan misinya di Kota Depok mereka memiliki dua program andalan yakni yakni CSSHR dan pendampingan terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Laporan : Gerard Soeharly

RADARDEPOK.COM, Diskriminasi bukan satu-satunya kendala yang ditemui pengidap HIV/AIDS. Masih ada berbagai persoalan lainnya yang ditemui mereka salah satunya kebutuhan logistik seperti obat Antiretroviral (ARV).

Program yang digadang-gadang Female Plus di Kota Depok diharapkan menjadi jawaban dari doa pengidap HIV/AIDS. Pasalnya, hingga saat ini obat itu dapat mengobati ketakutan ODHA.

Dimana, terdapat 27,5 juta orang yang mendapatkan pengobatan dari estimasi orang dengan HIV sebanyak sebanyak 37,7 juta orang pada akhir tahun 2020. Infeksi baru HIV telah menurun secara signifikan sebesar 52% sejak tahun 1997, 1,5 juta infeksi baru di tahun 2020. Sedangkan, kematian akibat AIDS juga telah menurun sebesar 64% sejak puncaknya di tahun 2004, dimana terdapat 680.000 kematian.

Kami bekerja atas sepengetahuan dan ijin dari Dinkes. Bahkan, kami jadi sedang berproses melakukan MoU dengan Dinkes untku kegiatan-kegiatan yang kami lakukan,” kata Advocacy Officer CSSHR Kota Depok, Widya Risnawati.

Tidak berjalan sendiri, tim Female Plus di Kota Depok terus menggandeng berbagai pihak dalam menjalankan programnya. Audiensi menjadi kegiatan rutin yang mereka jalankan.

Sedikit demi sedikit, kesuksesan mereka sudah mulai tergambar tatkala mendapatkan sambutan dari berbagai pihak seperti Dinkes Kota Depok, KPA, DP3AP2KB, Disdukcapil, PPA, RS dan Puskesmas PDP serta mitra NGO.

Setidaknya, apa yang mereka lakukan telah menjadi dukungan bagi ODHA. Termaksud dalam memasok obat ARV. Female Plus secara tidak langsung telah memanjangkan umur mereka.

Kegiatan yang kami lakukan diantaranya melakukan sensitisasi dan diskusi terkait HIV/AIDS kepada beberapa organisasi masyarakat seperti Yapma Pemuda Pancasila, Pemuka agama, CEP-FTUI, kader pendamping, pendukung sebaya dan masih banyak organisasi masyarakat lainnya, audiensi juga sudah kami lakukan dengan media seperti Radar Depok dan IJTI Kota Depok,” paparnya.

Berawal dari lima orang perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS. Dari saat itu hingga sekarang, mereka berkomitmen untuk memberikan kontirbusi terhadap persoalan tersebut. Tak hanya Depok, ada beberapa Kota di Jawa Barat yang mereka jadikan sasaran dalam menjalankan program untuk menanggulangi HIV/AIDS. (*)

Editor : Junior Williandro