Pakar Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman

RADARDEPOK.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat kebijakan yang cukup mengejutkan. Selasa (17/5), masyarakat sudah diizinkan tidak menggunakan masker di tempat terbuka. Kebijakan ini dikeluarkan seiring pengendalian Covid-19 yang semakin meningkat di Indonesia.

Menanggapi kebijakan tersebut, Pakar Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman angkat bicara. Menurutnya, pemerintah harus berhati – hati dalam mengeluarkan kebijakan pengunaan masker. Dengan kata lain, jangan sampai membangun euforia atau percaya diri berlebihan, sehingga membuat masyarakat abai dan merugikan diri sendiri.

Baca Juga : 2.359 Dites, 19 ASN Depok Positif Covid-19

“Karena begini, masker ini adalah satu perilaku yang selain mudah, murah, efektif dalam mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti halnya Covid-19,” kata Dicky kepada Harian Radar Depok, Selasa (17/5).

Apalagi, jika upaya ini dikombinasikan dengan akselerasi peningkatan cakupan vaksinasi. Hal ini menjadi satu kombinasi yang sangat signfikan berkontribusi dalam memperbaiki situasi pandemi.  “Yaitu menurunkan situasi penularan Covid-19 lewat udara. Kombinasi ini ditambah protokol kesehatan lain seperti perbaikan kualitas udara misal dengan ventilasi. Ini akan menjadi satu upaya keluar dari krisis pandemi ini,” papar Dicky.

Terkait apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi, menurutnya mungkin vaksinasi untuk dosis dua sudah meningkat. Namun ia mengingatkan jika masih ada konteks Omicron beserta sub varian. “Cakupan vaksinasi dua dosis tidak cukup dan harus tiga dosis. Di negara yang mulai melakukan pelonggaran tidak menggunakan masker di luar ruangan, karena cakupan dosis tiga vaksin Covid-19 sudah di atas 70 persen, sebut saja Australia,” bebernya.

Sedangkan saat ini capaian vaksin dosis tiga di Indonesia belum masih di bawah itu. Menurut Dicky, Indonesia harus berhati-hati. Terutama melihat situasi setempat. Seperti misalnya,  apakah cakupan vaksinasi tiga dosis sudah di atas 50 persen atau belum. Lalu outdoor, Dicky menyebutkan hal ini tidak menjamin aman. Menurutnya harus disertai sirkulasi udara yang bagus.

“Kalau bisa merasakan di dagu kita ada hembusan angin itu sudah relatif aman. Karena sirkulasi udara di outdoor bagus. Tapi outdoor dengan angin yang kurang, itu berbahaya,” tegasnya.

Artinya tidak serta merta di arah outdoor boleh tidak memakai masker. Namun jika masyarakat sudah divaksinasi penuh, maka cukup aman kalau tidak menggunakan masker di ruangan Outdoor.

Dicky pun menyarankan perlu adanya komunikasi risiko yang disampaikan pada masyarakat. Dan juga memberikan informasi yang memadai pada publik.

Publik bisa menilai sendiri. Apakah situasi di sekitarnya aman atau tidak menggunakan masker. Ini yang harus diterjemahkan dengan sangat detail oleh pemerintah.

“Karena betul ada kelompok rawan memakai masker iya. Tapi bagi yang tidak rawan, bisa saja terinfeksi dan bisa menularkan walau tidak bergejala parah. Ini yang harus diingatkan,” kata Dicky lagi.

Jika dia terinfeksi tanpa disadari kemudian membawa infeksi virus pada orang berisiko, maka dapat membawa kefatalan. Sekali lagi ia menekankan tentang penggunaan masker harus dilakukan secara bijak dan tidak terburu-buru.  “Saya kira sependapat dengan pernyataan pak Presiden yang sebelumnya. Dimana kita akan melakukan pelonggaran secara bertahap. Kita ada masa transisi 6 bulan dan itu harus lihat,” ucapnya.

Secara prediksi, Dicky menyebutkan jika akhir tahun ini situasi akan jauh lebih baik dan aman. Tapi jika banyak negara mengabaikan, maka dapat menimbulkan risiko besar.  “Jadi harus diingat sekali lagi. Kondisi belum cukup aman untuk betul-betul bebas dari masker ini. Jadi betul dikendalikan secara terukur dulu. Bersabar,” tegasnya.

Dia menambahkan, kemungkinan untuk merubah pandemi menjadi endemik di Indonesia sangat mungkin. Akan tetapi, cakupanya masih sebatas tingkat kota di satu daerah, belum sampai tingkat nasional.  “Kalau untuk tingkat kota di satu daerah mungkin saja bisa sudah mencapai status endemik ya. Tapi kalau untuk skala nasional saya rasa belum ya, tidak bisa secepat itu,” bebernya.

Perlu diketahui, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melonggarkan penggunaan masker di kalangan masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan atau area terbuka di tengah kondisi Covid-19 di Indonesia. Namun, Jokowi menegaskan pelonggaran itu tak berlaku untuk kegiatan di ruang tertutup dan transportasi publik. “Untuk kegiatan di ruangan tertutup dan transport publik tetap harus gunakan masker,” ujar Jokowi dalam pernyataan pers yang disampaikan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/5) petang.

Jokowi menerangkan keputusan pelonggaran itu diambil pemerintah setelah memerhatikan kondisi penanganan pandemi Covid di Indonesia yang semakin terkendali. “Pemerintah memutuskan melonggarkan kebijakan pemakaian masker. Jika masyarakat sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang maka boleh untuk tidak gunakan masker,” kata dia seperti disiarkan langsung via saluran Youtube Sekretariat Presiden.

Selain itu, bagi masyarakat yang masuk kategori rentan, lansia atau memiliki komorbid, pemerintah menyarankan tetap menggunakan masker dalam beraktivitas. “Juga masyarakat yang mengalami gejala batuk pilek maka tetap harus gunakan masker ketika melakukan aktivitas,” tandasnya.(dra/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar