PTM : Suasana siswa-siswi di SMP Triguna, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong ketika hari pertama masuk sekolah usai libur panjang Idul Fitri 1443 H. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Setelah melewati libur Idul Fitri 1443 Hijriah yang cukup panjang pada tahun ini. Kamis (12/5), seluruh siswa-siswi di Kota Depok kembali bertatap muka tuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Meski bahaya hepatitis akut yang menyerang anak belum ditemukan. Pemkot Depok berencana akan mengeluarkan surat ederan (SE) walikota terkait kewaspadaan penyakit mematikan tersebut. Apalagi, hingga kemarin penyakit yang menyerang organ hati itu sudah ada tujuh anak yang meninggal.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Wijayanto menyebutkan, belum ada langkah pencegahan yang dilakukan pihaknya. Kendati demikian, dia tetap menekankan agar satuan pendidikan tetap menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19. “Ga ada, biasa aja. Tetap prokes,” singkatnya saat dikonfirmasi Harian Radar Depok, Kamis (12/5).

Berbeda, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Mary Liziawati mengungkapkan, saat ini tengah menyosialisasikan bahaya dari hepatitis akut melalui, infografis yang bermuatan tentang langkah pencegahan penyakit tersebut. “Besok (Hari ini) dilaksanakan sosialisasi dan edukasi melalui webinar,” terang dia.

Saat ini, ungkap dia, Pemkot Depok tengah mempersiapkan proses pembuatan Surat Edaran (SE) Walikota Depok, Mohammad Idris mengenai penyakit mematikan tersebut. Kendati demikian, Mary enggan membocorkan isinya. “SE Walikota sedang proses pembuatan,” tutur Mary.

Selanjutnya, Mary meminta masyarakat terkhusus siswa-siswi di Kota Depok untuk waspada dan jangan panik atau merasa resah terhadap penyakit yang telah memakan korban itu. “Pesan kepada masyarakat tetap waspada, tapi tidak panik atau meresahkan,” tegasnya.

Sementaa itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengonfirmasi adanya tambahan dua orang pasien hepatitis akut misterius yang meninggal dunia. Kedua pasien tersebut berasal dari DKI Jakarta dan Kalimantan Timur. “Sudah 7 orang, 4 di DKI Jakarta, 1 Sumatera Barat, 1 Jawa Timur, dan 1 Kalimantan Timur,” kata Nadia, Kamis (12/5).

Menurutnya, kedua pasien baru yang meninggal dunia masing-masing berumur 7 dan 10 tahun. Nadia menjelaskan, gejala yang dialami pasien-pasien tersebut rata-rata sama, yaitu penyakit kuning, urin berwarna coklat teh, dan tinja berwarna dempul. Namun, kondisi pasien tersebut ketika dibawa ke rumah sakit rata-rata sudah terlambat dan kritis. Terkait adanya temuan 21 kasus baru di DKI Jakarta, pihaknya masih belum bisa memastikannya. Hingga saat ini, Nadia menyebut sudah ada 18 kasus hepatitis akut misterius yang dilaporkan. “9 pending klasifisikasi, 7 tidak memenuhi kriteria hepatitis akut, dan 2 masih dalam proses pemeriksaan laboratorium,” tandasnya. (ger/rd)

Jurnalis : Gerard Soeharly

Editor : Fahmi Akbar