CEK : Petugas kesehatan hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) DKP3 Kota Depok saat melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan sapi di Peternakan ADH Farm, Kecamatan Cimanggis, Kamis (12/5/22). ISTIMEWA

RADARDEPOK.COM – Penyakit mulut dan kuku (PMK) sudah mengkhawatirkan di Jawa Barar (Jabar). Kendati di Kota Depok belum ditemukan. Setidaknya, ada enam kota dan kabupaten di Jabar yang sudah terpapar PMK. Kamis (19/5), Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar menemukan sedikitnya 622 hewan ternak positif PMK.

“Di Jabar ada enam kabupaten atau kota yang sudah tertular. Jumlahnya sekitar 622 ekor, tapi sudah ada 200 ekor yang sembuh dari PMK,” kata Kepala DKPP Jabar Moh Arifin Soedjayana di Gedung Sate, Rabu (18/5).

Baca Juga : Depok Cek 75 Sapi dari Penyakit Mulut dan Kaki, Ini Hasilnya

Arifin menambahkan, 622 hewan ternak yang tertular itu tersebar di Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Kuningan, Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar. Hewan ternak yang rentan positif PMK antara lain, sapi, domba, kambing dan babi.

Arifin mengatakan tak sedikit hewan ternak yang positif PMK dipotong paksa. Ia juga tak menampik adanya hewan ternak yang mati karena positif PMK. Namun, Arifin tak menyebut secara rinci jumlah hewan ternak yang mati karena PMK. “Tingkat kesembuhan saat ini sudah di angka 30 persen lebih. Treatment sama seperti Covid-19. Bagaimana kota mengupayakan kesembuhan, karena vaksin belum ada,” ucap Arifin.

Lebih lanjut, Arifin mengatakan, saat ini pihaknya hanya melakukan perawatan melalui obat dan vitamin. Ia menjelaskan, hewan ternak yang positif PMK tak memiliki nafsu makan. Sehingga perlu adanya vitamin.

Pemprov Jabar pun memberlakukan lockdown di tingkat mikro untuk mencegah penularan PMK. Arifin menyebutkan kondisi demikian sudah diterapkan di Garut. Lebih lanjut, Arifin menegaskan hewan ternak yang terkena PMK sejatinya layak dikonsumsi. Namun dengan perlakukan khusus.

“Boleh, syaratnya hewan belum mati. Dan bisa dipotong paksa. Daging bisa dimakan melalui direbus, digoreng dan dibakar. Atau dilayukan 24 jam. Jadi si virusnya mati,” kata Arifin.

DKPP Jabar kini tengah berupaya mencairkan dama belanja tak terduga (BTT) untuk penanganan wabah PMK. Sudah minta arahan ke gubernur agar dana BTT bisa cair untuk monitoring ke lapangan. “Lalu dokter hewan kunjungan ke lapangan, untuk obat, vitamin, dan operasional dengan instansi terkait seperti polda atau polres setempat supaya [hewan ternak] yang masuk ke Jabar clear dari sisi kesehatan,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, Kepala DKP3 Kota Depok, Widyati Riyandani mengatakan, belum ada penemuan kasus penyakit tersebut di Kota Depok. Ini setelah pihaknya melakukan pemeriksaan ke sejumlah titik peternakan hewan. “Telah dilakukan pemeriksaan sampai dengan hari ini belum ditemukan,” kata dia kepada Harian Radar Depok, Kamis (12/5).

Dia menuturkan, kini tengah menggencarkan pemeriksaan dan pengawasan ke sejumlah tempat peternakan. Poin utamanya adalah mengenai masuknya hewan ternak yang berasal dari luar Kota Depok. “Pemeriksaan dan pengawasan di peternakan sedang berjalan dan tim masih terus melakukan pengawasan dan pemantauan, terutama terkait masuknya ternak dari luar Kota Depok,” papar Wid –sapaannya-.

Petugas dari DKP3 Kota Depok baru saja melakukan pemeriksaan terhadap 75 ekor sapi baik perah dan pedaging di Peternakan ADH Farm, Kecamatan Cimanggis. “Dari pendataan masuk satu ekor sapi tapi berasal wilayah Jabodetabek tidak berasal dari episentrum wabah PMK,” terang dia.

Selanjutnya, beber dia, pada pemeriksaan yang dilakukan itu tidak ditemukan PMK di peternakan tersebut. “Sampai sekarang PMK belum ditemukan di Kota Depok dan kita berharap jangan sampai masuk,” jelas mantan Camat Cinere ini.

Lebih dalam, Wid menyebutkan, PMK adalah penyakit virus ternak yang penularannya ke ternak lain cukup cepat, yakni melalui udara. Penyakit ini menyerang hewan ternak berkuku genap atau belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi. “Dampak PMK dapat berpengaruh pada penurunan produksi susu, penurunan berat badan ternak, penurunan fertilitas sampai kepada penolakan pasar,” tegasnya.(rb/hmi)

Editor : Fahmi Akbar