Kuasa Hukum Korban, Megawati
Kuasa Hukum Korban, Megawati

RADARDEPOK.COM – Dunia pendidikan agama di Kota Depok lagi-lagi dibuat gempar. Lembaga pendidikan agama di Kelurahan Beji Timur, Beji Kota Depok diduga telah merudapaksa belasan muridnya. Rabu (29/6), Megawati yang mengaku sebagai kuasa hukum dari tiga murid perempuan mendatangi Polda Metro Jaya.

Kedatangan perempuan bijab hitam motif putih ini untuk melaporkan empat guru agama di salah satu lembaga pendidikan agama di Depok atas dugaan rudapaksa. Laporan tersebut diterima di SPKT Polda Metro Jaya terbagi dalam 3 Laporan Polisi terpisah. Yakni laporan nomor: LP/B/3082/VI/SPKT/PMJ; LP/B/3083/VI/SPKT/PMJ; dan LP/B/3084/VI/SPKT/PMJ.

Baca Juga : Anggaran Perbaikan SDN Pancoranmas 3 Belum Ada

Dalam ketiga laporan itu, terduga pelaku dituding melanggar pasal yang sama yakni Pasal 76 E Jo Pasal 82 dan atau Pasal 76 D Jo Pasal 81 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak.

“Pelakunya ada lima orang dari lembaga pendidikan agama itu. Empat guru agama, satu kakak kelas mereka yang di bawah umur,” kata kuasa hukum korban, Megawati kepada wartawan di Polda Metro Jaya.

Megawati menyebut, diduga aksi para pelaku itu telah berlangsung selama satu tahun terakhir. Namun, aksi tersebut baru terungkap sepekan yang lalu. Karena para korban sempat mendapat ancaman dari pihak lembaga pendidikan agama, jika melaporkan apa yang mereka alami.

“Anak-anak itu sudah lapor ke pihak lembaga pendidikan agama, ke kepala lembaga pendidikan agama perempuan. Tanggapannya malah dapat ancaman. Dibilang bahwa ‘jangan kasih tahu sama ibu kamu ya, kasian nanti ibu kamu malah kepikiran’,” ujar Megawati.

Menurutnya, kasusnya baru diketahui setelah murid pulang dari lembaga pendidikan agama setelah di jemput orang tuanya. Para murid perempuan mengaku mendapatkan perlakuan bejat dari para pelaku di salah satu ruangan di lembaga pendidikan agama itu. Mereka awalnya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. “Jadi setiap malam mereka datang ke kamar itu dan dibekap dan dilakukan rudapaksa. Ada yang di kamar mandi, ada yang di ruangan kosong,” beber dia.

Hingga saat ini, sambung Megawati, baru ada tiga orang yang berani membuat laporan polisi terkait hal tersebut. Megawati sendiri belum mengungkap identitas terduga pelaku. Dari 11 orang yang dilecehkan, yang berani untuk speak up hanya lima orang, tapi sekarang yang diperiksa baru tiga orang. “Potensi korban lain ada. Ada dua korban lain insyallah akan diselidiki. Besok (Hari ini) dengan tim lawyer baru mau merapat ke rumah korban, kebetulan baru dapat alamatnya,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi atas laporan tersebut ke Kabid Humas Polda Metro Jaya, tapi belum ada jawaban.

Sementara itu, Anna Surti Ariani seorang Psikolog keluarga dan anak dari Lembaga Psikolog Terapan UI (LPTUI) membagikan kiat- kiat praktis untuk memberikan edukasi seksualitas. Anna menilai, edukasi harus dimulai sedini mungkin kepada buah hati agar dapat menghindarkan potensi terjadinya pelecehan seksual.

“Pendidikan seksualitas pada anak memang harus dimulai dari usia dini. Dimulai dari usia 0-2 tahun. Kita sebagai orang tua harus menyampaikan dengan benar anggota- anggota tubuh anak sesuai dengan nama aslinya dan tidak memakai nama- nama kiasan,” kata Anna.

Baca Juga : Dibegal di Kecamatan Tapos, Motor dan Handphone Diambil

Dengan begitu anak dapat mengetahui nama asli dari masing-masing anggota tubuh, dan nantinya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, anak dapat memberikan laporan kepada orang tuanya.

Anak bisa mulai diajarkan untuk menghargai tubuhnya sendiri mulai dari usia diatas dua tahun, dimulai dari hal yang sederhana seperti membiasakan anak mengganti pakaian di ruang atau tempat yang tertutup.

“Ini sering terjadi nih di tempat liburan, misalnya lagi di pantai terus mau mandi. Anaknya disuruh buka baju di tempat umum, terus akhirnya dilihat semua orang saat mandi, Ini bisa membuat anak tidak biasa untuk menghargai tubuhnya,” tutur Anna.

“Jadi ajari anak untuk menghargai tubuhnya dan salah satu caranya membiasakan diri ganti baju di tempat tertutup,” ujarnya.

Pemahaman sentuhan yang baik dan buruk juga wajib diajarkan kepada anak-anak. Anak harus memahami bahwa yang boleh menyentuh hanya orang tua dan juga pengasuhnya. Dengan kondisi pengasuhnya tersebut tengah meladeninya.

Anna juga menganjurkan agar anak-anak harus memberanikan diri untuk menceritakan hal yang membuatnya tidak nyaman. “Orang tua pun harus membiasakan diri menerima laporan anaknya dan harus bisa menyamankan bagi anaknya,” ujar Anna

Dalam memberikan edukasi mengenai seksualitas ini, orang tua dapat menggunakan metode Role Play atau bermain peran. Dengan begini anak dapat memahami lebih mudah, dalam mengambil keputusan apabila ada kondisi yang tidak menguntungkan.

Contohnya orang tua dapat memerankan sebagai orang asing, yang tiba-tiba memegang tubuh anak anak anda.

Jika hal itu terjadi maka yang harus dilakukan anak adalah melaporkan kepada orang tua, atau segera meminta pertolongan orang lain. Dengan demikian, anak memiliki proteksi terhadap dirinya dan juga ia memiliki pengetahuan agar terhindar dari pelecehan seksual.(JPC/net/rd)

Editor : Fahmi Akbar