fanatik KPOP
Ilustrasi
yamaha-nmax

Oleh : Wahyda Nareswari, Bilqis Tsabita Salsa, Zahra Nurhaliza, Naufal Zufar R, M Adam Sobari, M latif, Sofia Az-zahra, Naura Adelia, dan Raihan Airlangga P

Mahasiswa Universitas Pakuan

 

MUNCULNYA K-Pop yang tengah digemari oleh khalayak luas memunculkan sebuah perilaku fanatis pada sekelompok orang yang cukup terobsesi pada idolanya. Fanatisme mereka terhadap idolanya sering dianggap berlebihan oleh masyarakat umum.

Fanatik adalah perwujudan dari sikap fanatisme, biasanya berupa perbuatan dan tingkah laku, orang yang telah fanatik pada suatu hal tertentu biasanya akan melakukan apa saja untuk memuaskan keinginannya. Efek dari fanatisme tersebut dapat dilihat dari perilaku para penggemar musik tersebut, yang biasanya memuja pada vokalisnya, yang biasanya dilakukan oleh para penggemar.

Berdasarkan data postingan di twitter secara global jumlahnya mencapai 7,5 miliar twit sejak juli 2020 hingga juni 2021. Jumlah tersebut naik 22,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sepanjang Juli 2019 hingga Juni 2020, twit tentang K-Pop tercatat sebanyak 6,1 miliar. Bangtan Boys (BTS) menjadi artis K-Pop yang paling banyak dibicarakan di Twitter dalam setahun terakhir. Artis K-Pop lain yang juga banyak dibicarakan di platform tersebut dalam setahun terakhir adalah NCT, Blackpink, EXO dan Treasure. Adapun, Indonesia menjadi negara dengan jumlah twit terbanyak mengenai K-Pop sejak Juli 2020 hingga Juni 2021. Posisi setelahnya ditempati oleh Filipina, Thailand, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga  Bahaya Bullying, Rasis Serta Kekerasan di Lingkungan Sekolah dan Cara Mencegahnya

Fenomena kpop di Indonesia sempat melonjak beberapa tahun terakhir, dampaknya banyak remaja di Indonesia yang terlalu denial terhadap hal sekitar atau bisa juga dibilang terlalu berlebihan dalam mengidolakan idolanya. Terlebih ketika idolanya terkena sindiran di media sosial atau saat terkena nyinyiran oleh orang yang tidak bertanggung jawab, mereka cenderung membela, mengolok balik orang yang menghina idolanya, bahkan ada beberapa fans yang sampai menangis ketika idolanya dihina oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Ternyata masih banyak orang yang merasa bahwa dirinya tidak merasa fanatik terhadap idolanya seperti yang dikatakan Lita, “karena mereka sumber hormone dopamain saya menguar, saya tidak akan membiarkan perasaan bahagia saya diganggu orang. Lalu jika mereka (idol) dihina saat tidak melakukan kesalahan apapun, apakah pantas mereka dihina?.” Tanpa ia sadari hal tersebut menurut pandangan orang lain sudah termasuk fans yang fanatik.

Baca Juga  Bapera Depok Sebar 3.850 Takjil

Ketika sang idol dihina oleh orang lain, para fans tersebut akan berkumpul satu sama lain untuk membela idolnya. “ kalau idol kita dihina atau dijelek-jelekan oleh orang lain, Fandom kami akan mencari cara supaya kita bisa membela idol kami. Kami akan berdiskusi hal apa yang harus kami lakukan agar idol kami tidak dihina Kembali.” Ujar Lita.

Tetapi masih banyak fans diluar sana yang membela idol nya dengan cara yang tidak wajar, seperti hal nya saat idol nya di hina, fans yang fanatik biasanya memberikan hinaan kembali kepada orang yang menghina nya bahkan bisa lebih parah. “Saya dan teman-teman saya pernah melakukannya, Kami menyerang kembali orang yang menghina idol kami, kami tahu itu sudah termasuk ke dalam pelecehan verbal tetapi karna sangat kesal idol kami dihina seperti itu kami tidak terlalu memikirkan bagaimana keadaan orang itu. Bodoamat sih ya kalau dia sakit hati, siapa suruh menghina idol kami duluan” ujar Lita.

Baca Juga  Rumah Kita

“sebenarnya siapa sih yang gak marah kalo idolanya dihina? Tapi apa kita harus membalas orang yang menghinanya? Harusnya kita sebagai fans cukup memberikan semangat dan support apa yang mereka lakukan.” Ujar fans yang tidak terlalu mengikuti permasalahan idolnya.

Fans yang fanatik biasanya akan memberikan komentar pembelaan pada idol nya tanpa melihat bahwa artis idola nya mereka benar atau salah dan memberikan komentar tajam yang menjatuhkan idol lain. Fanatisme sebenarnya adalah hal yang wajar dan memiliki dampak positif jika mampu memilah latar belakang di balik fanatismenya. (*)