MODEREN : Salah satu masyarakat suku Baduy Luar di Kampung Wisata Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidarma Kabupaten Lebak, Banten menyediakan pembayaran barang jualan dengan menggunakan scan barcode. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOKĀ 

RADARDEPOK.COM – Radar Depok yang masuk dalam Tim ekspedisi Gerakan Anak Negeri (GAN) mendapatkan kesempatan emas menghadiri pernihakan Suku Baduy Luar di Kampung Cibogo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidarma, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Gelarannya, masih sangat kental akan adat dan ritualnya tidak mudah dipahami masyarakat luar.

Laporan : Gerard Soeharly, Kota Depok

Mentari pagi belum datang menyapa, Minggu (26/6). Radar Depok dan tim ekspedisi GAN sudah mulai berkumpul di halaman depan Gedung Graha Pena Radar Bogor Group, di Kawasan Yasmin, Jalan Abdullah Binuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Masing-masing dari mereka sudah mempersiapkan keberangkatan seperti tas ransel berisikan pakaian ganti dan sleeping bag.

Tak terlalu lama menunggu, rombongan menyiapkan tiga mobil langsung bergegas menuju Kabupaten Lebak, Banten. Jalur selatan dipilih karena, lebih efektif, cepat dan tidak terlalu macet. Bahkan, tim dimanjakan dengan pemandangan alam bumi Banten yang begitu indah, ada hamparan sawah dan gunung yang berbaris menyapa sepanjang perjalanan.

Baca Juga : Tega Banget, Ibu Hamil di Depok Kena Begal

Berjalan selama tiga jam atau sekira 60 Kilometer (Km). Akhirnya, rombongan tiba di Kampung Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupten Lebak. Sebuah patung suami dan istri menunjukan ke arah Kampung Wisata Ciboleger. Di depannya, patung dua anak menyambut kedatangan dengan lambaian tangan.

Patung itu juga menandakan bahwa tim telah memasuki perbatasan antara desa luar Baduy dengan desa dimana Suku Baduy Dalam maupun Luar bermukim. Perlahan-lahan tim coba mengunjungi desa wisata tersebut. Ada banyak cinderamata yang dijual, seperti gula aren, totopo, kain khas baduy, gantungan kunci dan baju.

Langkah demi langkah kaki mulai menaiki anak tangga. Dari kejauhan sudah ada tiga anak lelaki yang menunggu. Masing-masing membawa dua bilah batang pohon yang telah dibersihkan. Mereka menamainya dengan sebutan tongkat yang berfungsi untuk membantu pengunjung memijaki satu per satu anak tangga.

Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija mengatakan, masyarakat Suku Baduy terluar itu memang telah mengikuti perkembangan jaman secara perlahan-lahan. Namun, mereka tetap membatasi diri berinteraksi dengan masyarakat luar. Terutama tentang identitas keadatan mereka sendiri. “Ada lokasi yang boleh dan tidak boleh di foto, karena di Baduy luar pun ada titik-titik yang tidak dibolehkan mengambil foto atau video,” sebut Jaro.

SERAHKAN : CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu ketika menyerahkan hadiah kepada mempelai wanita Suku Baduy di Kampung Cibogo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidarma, Kabupaten Lebak Banten yang akan melangsungkan pernikahan. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

Tidak begitu jauh melangkahkan kaki pada anak tangga, tim dibuat terkejut dengan penjual cinderamata di desa tersebut, yang notabene adalah Suku Baduy luar.

Bagaimana tidak, mereka menjual beraneka ragam cinderamata, namun pembayarannya dilakukan menggunakan dompet digital yang harus dilakukan dengan cara scan barcode qr.

Salah satu warga Baduy Luar yang menggunakan scan barcode untuk berjualan, Dani mengaku, sudah 10 bulan atau hampir setahun menggunakan kemajuan teknologi tersebut. Hal itu semata-mata untuk memanjakan pengunjung. “Karena yang belanja sekarang kan jarang bawa uang cash, biar tidak susah transaksi,” terangnya.

Masyarakat setempat yang bukan warga Suku Baduy melebeli mereka dengan sebutan Baduy Moderen. Meski tidak fasih berbahasa Indonesia, mereka sepertinya sudah hatam menggunakan smartphone. Bahkan, mereka juga dapat membedakan jenis smartphone seperti i-phone dan android. (Bersambung)

Editor : Fahmi Akbar