boks 1 baduy (1)
BERBAUR : Rombongan Radar Depok dan GAN ketika melakukan foto bersama dengan Jidan, salah satu masyarakat Baduy Luar di Kampung Cibogo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Senin (27/6).  GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Usai meninggalkan Kampung Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di mana Suku Baduy terluar bermukim. Radar Depok yang tergabung dalam GAN langsung bergegas menuju permukiman masyarakat Suku Baduy di Kampung Cibogo.

Laporan : Gerard Soeharly, Kota Depok

Menjajaki anak tangga dan memanjakan mata pada Wisata Suku Baduy di Kampung Ciboleger, Desa Kanekes adalah sebuah pemanasan yang luar biasa bagi Radar Depok bersama tim ekspedisi GAN. Tidak terlalu lama disana, hanya sekitar 45 menit.

Setelah membeli sedikit cinderamata dan bertegur sapa dengan masyarakat Baduy. CEO Radar Bogor Group (RBG), Hazairin Sitepu mendapatkan pesan masuk dari seorang warga Suku Baduy di Kampung Cibogo yang bernama Jidan. Dia sudah menunggu kedatangan Radar Depok dan GAN sedari Minggu (26/6) pagi untuk memenuhi undangan pernikahan adik bungsunya, Santi yang berusia 20 tahun.

Baca Juga : Gerakan Anak Negeri (GAN) Susupi Kehidupan Suku Baduy Luar (1) : Disebut Baduy Moderen, Bayar Belanjaan Pakai Barcode

Dari Ciboleger, tim semakin diperkuat dengan kehadiran lima orang pria dewasa yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan totopo (Ikat kepala). Tim menyebut mereka sebagai pendamping. Yang tak lain tak bukan adalah sahabat karib, Hazairin Sitepu.

Tim kembali berjumpa dengan pemandangan nan indah yang menyapa di setiap perjalanan. Sekitar satu jam berjalan. Perjalanan harus terhenti. Kehadiran truk molen yang sedang membawa material semen, pasir dan batu berhenti pada jalan yang hanya dapat dilalui dua mobil saja. Ternyata, sedang ada perbaikan jalan kawasan Cirinten.

Tak jauh dari situ, tim disambut sebuah tulisan “Baduy Jero” yang menandakan bahwa sebentar lagi akan tiba pada permukiman warga Suku Baduy Luar di Kampung Cibogo, Desa Kanekes.

Sesampai di akses masuk Kampung Cibogo, tim memarkirkan kendaraan masing-masing. Kemudian mengecek kembali barang bawaan. Tim langsung disambut Jidan dengan senyum manis. Terlebih kepada Hazairin Sitepu yang dari awal sudah mempersiapkan kado kepada masyarakat Suku Baduy. Bukan pakaian atau barang elektronik, Hazairin Sitepu mennghadiahi masyarakat dengan kuali, panci, beras dan ikan asin.

“Jadi masyarakat Suku Baduy ini tidak terlalu suka diberikan pakaian, mereka lebih suka diberikan peralatan masak dan bahan makanan seperti beras dan ikan asin yang saya bawa,” ungkap Hazairin Sitepu.

Dari sana, tim melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer atau sekitar satu jam untuk sampai pada lokasi yang di nanti-nanti. Jidan dan dua temannya mengambil posisi paling depan, dia memimpin perjalanan sambil membantu membawakan barang bawaan rombongan.

Jalan terjal yang terdiri dari unsur tanah dan bebatuan memacu adrenaline rombongan. Licin adalah hal yang lumrah. Sesekali, satu-satu dari tim ada yang terjatuh. Namun, semua itu dibayar tuntas ketika memasuki pintu gerbang permukiman Suku Baduy Luar di Kampung Cibogo.

Senyum ramah dengan tatapan yang begitu sopan dari setiap pasang mata menyambut kedatangan tim. Rata-rata dari mereka mengenakan pakaian serba hitam. Ciri khasnya, kain batik dengan warna hitam-biru tua. Pria menggunakannya sebagai totopo atau pengikat kepala. Sementara, wanita menggunakannya untuk penutup tubuh.

Melewati satu per satu rumah yang beratap daun kelapa dengan dinding yang terbuat dari anyaman kulit bambu, rombongan tiba di kediaman Jidan. Disana, keluarganya sudah menunggu. CEO Radar Bogor Group langsung menyerahkan hadiah kepada Santi yang akan melangsungkan pernikahan pada keesokan harinya.

Saudara laki-laki Jidan, Sarta menyuguhkan piring berisikan gula aren kepada Radar Depok. Dia menyebutnya sebagai cemilan. Dari situ, dia perlahan-lahan mulai menceritakan kehidupannya disana yang masih kental dengan adat dan budayanya. “Dulu saya tinggal di Baduy Dalam, tapi keluar ke Baduy Luar waktu nikah,” terangnya.

Dengan wajah yang lugu, dia mengaku memilih keluar dari Suku Baduy Dalam. Sebab, dia menikah dengan orang yang bukan jodoh orangtuanya. Begitupun, dengan istrinya yang mengalami hal yang sama. Selanjutnya, dia memutuskan untuk pergi keluar dan melangsungkan pernikahan.

Kendati demikian, Sarta masih menjalin komunikasi dengan orangtua dan saudaranya yang tinggal di dalam Suku Baduy Dalam. Sesekali, dia menyempatkan untuk bersilaturahmi kesana. “Perbedaanya ada tetapi tidak begitu banyak,” kata Sarta.

Disana, masyarakat Suku Baduy Dalam maupun Luar tidak diperbolehkan untuk berpacaran. Pasangan hidup mereka akan ditentukan oleh orangtua masing-masing. Sarta mengungkapkan, Suku Baduy Dalam tidak memperbolehkan masyarakat untuk merokok, memakai sendal, memakan hewan berkaki empat dan menaiki kendaraan.  “Saya keluar dari Baduy Dalam karena gak kuat dengan peraturannya, bisa dibilang saya ini bandel kalau disana,” ungkapnya.

Menurut Sarta, masyarakat Baduy Luar boleh kembali tinggal di Suku Baduy Dalam tetapi dengan prosesi bokor atau pertobatan yang dilakukan oleh Kepala Suku (Puun).(Bersambung)

Editor : Fahmi Akbar