artikel bidan
Saat kami foto bersama dengan Bidan Hanifah pada Rabu, 15 Juni 2022.
yamaha-nmax

Oleh : Muhamad Yazid Zidan

Mahasiswa Universitas Pakuan

 

HANIFAH ADDIENI, seorang bidan muda lulusan dari AKBID Bunda Auni Bogor. Ia berasal dari kota solo dan kini telah berhasil menjadi seorang bidan muda di BPM Miftah Wahyudi, Jatijajar, Depok. Menempuh pendidikan D3 kebidanan selama 3 tahun, membuatnya merasa punya tanggung jawab untuk bisa membantu dan mengabdi pada masyarakat sehingga akhirnya ia pun bertekad untuk terjun dan berperan langsung dalam upayanya menolong masyarakat khususnya para ibu hamil.

“Tujuan saya menjadi bidan sebenarnya ingin bisa menolong banyak orang, terlebih lagi saya sering melihat banyak sekali ibu-ibu hamil yang masih belum teredukasi soal kehamilannya, oleh karena itu saya bertekad untuk bisa membantu masyarakat supaya membuat mereka sadar akan pentingnya penanganan yang baik pada ibu hamil agar kondisi kandungannya tetap terjaga.” Ujarnya, saat kami mewawancarainya pada Rabu, 15 Juni 2022.

Perjalanannya dalam menempuh pendidikan sebagai seorang bidan tidaklah mudah, lahir dari keluarga yang biasa saja membuat dirinya cukup kesulitan dalam menuntaskan pendidikannya tersebut. Bahkan hampir setiap semester ia sempat ingin keluar lantaran biaya dan kondisi ekonomi orang tuanya yang saat itu tidak stabil, terlebih lagi adanya kasus Covid kemarin yang membuat orang tuanya sempat di PHK, hal itu membuat dirinya semakin tertekan karena merasa memberatkan orang tuanya. Dengan kondisi ekonomi yang seperti itu, ia merasa sangat stress dan kacau secara psikis sehingga membuat dirinya berpikir ingin keluar saja, beruntungnya orang tuanya tidak mengizinkan untuk dia keluar bahkan sempat menasehati dan mendorongnya untuk tetap bertahan serta bersungguh-sungguh dalam menjalani proses pendidikannya tersebut.

“Melihat kondisi kedua orang tua seperti itu, saya merasa sangat sedih dan bahkan merasa bersalah kepada orang tua, hampir saja saya keluar karena tidak tahan dengan kondisi saat itu. Alhamdulillahnya, orang tua masih tetap meyakinkan dan mendukung sehingga saya pun memutuskan untuk tetap lanjut dan berharap ada jalan terbaik pada permasalahan yang saya hadapi ini” katanya, sambil matanya terlihat berkaca-kaca mengenang hal tersebut.

Baca Juga  Di Bojongsari, Kasus Kematian Isolasi Mandiri Terus Bertambah

Menjadi harapan keluarga agar bisa sukses, membuat dirinya tetap bertahan dan belajar terus menerus. Banyak pengalaman yang menjadikan dirinya semakin kuat dan tetap tegar dalam mencapai apa yang ia perjuangkan tersebut. Sebetulnya ia tidak pernah berpikir akan menjadi bidan, bahkan ketika kecil pun cita-citanya adalah menjadi seorang penyiar radio. Dalam masa pendidikannya pun, ia menceritakan bahwa dirinya masih terbilang setengah-setengah karena memang tujuan utamanya adalah ingin menolong banyak orang bukan menjadi bidan. Menurutnya, menjadi bidan adalah bonus, tidak menjadi bidan pun tidak masalah. Apa yang saat itu ia lakukan adalah karena dirinya ingin bisa memiliki skill dalam membantu masyarakat sehingga dirinya bisa berguna dan bermanfaat bagi banyak orang. Hal itu ia jadikan sebagai motivasi dan keyakinan dalam menjalani hal tersebut, sampai ketika ia benar-benar memiliki keyakinan penuh bahwa bidan adalah bagian dirinya dan bidan juga adalah pilihan serta takdir yang harus ia jalani saat ia mengambil sumpah untuk mengabdi pada masyarakat khususnya dalam pelayanan kesehatan.

“Sebenarnya, saya tidak pernah berpikiran untuk bisa menjadi bidan. Saya bahkan sempat bercita-cita dari kecil ingin menjadi seorang penyiar radio, cuman karena ada beberapa hal, impian tersebut tidak bisa saya wujudkan. Sampai akhirnya takdir menuntun saya untuk memilih bidan dari sekian banyak pilihan hidup yang bisa saya pilih dan pada saat itu pun bisa dibilang masih ada keraguan di dalam hati saat masa pendidikan, karena saya merasa kurang yakin, istilahnya setengah hati gitu hingga semuanya berubah saat saya mengambil sumpah. Sumpah itu memang benar berat adanya, setelah sumpah itu entah kenapa ada semacam panggilan dalam hati untuk mengabdi sebagai seorang bidan serta merasa diberikan suatu amanah untuk bisa melayani masyarakat, hal itulah yang membuat saya akhirnya benar-benar yakin dan percaya bahwa bidan adalah sebuah pilihan yang tepat.” Katanya.

Baca Juga  Indonesia U17 (3) Vs UEA U17 (2) : Kudeta Puncak Klasemen

Setelah menjadi bidan pun, tidak mudah bagi dirinya bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Masih banyak hal-hal yang belum sempat ia pelajari dan ia dapatkan dari proses pendidikan yang selama 3 tahun itu ia jalani, dalam realitanya banyak permasalahan baru yang ia temukan pasca pendidikan yang tentunya menjadi pembelajaran bagi dirinya. Misalnya, sulitnya dalam meyakinkan masyarakat khususnya para ibu hamil untuk mau berkonsultasi dan menangani kondisi kehamilannya ke bidan karena mereka yang masih percaya pada dukun beranak dalam proses persalinan misalnya.

“Saya kira setelah berhasil mendapatkan title bidan, semua itu telah selesai, artinya tinggal terjun saja untuk menangani masyarakat. Ternyata, justru perjalanannya baru saja dimulai, saya masih harus banyak belajar terlebih lagi saya yang masih cukup baru, kurang lebih sekitar setahunan berprofesi sebagai bidan, sehingga masih banyak kasus yang sebelumnya tidak pernah saya pikir akan saya temukan. Belum lagi, mereka yang masih percaya ke dukun beranak misalnya, sehingga saya pun harus pandai dalam memberikan edukasi ke ibu hamil untuk mau berkonsultasi ke saya. Intinya bagaimana saya bisa membuat mereka yakin, dengan pendekatan yang baik tentunya sehingga saya bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat.” Katanya.

Baca Juga  Dunia Sandang

Kemudian ia juga menyampaikan pesan-pesan khususnya kepada generasi muda agar mau belajar dan berjuang mencapai apa yang memang dicita-citakan. Belajar dari pengalaman dirinya, bagaimana ia bisa mencapai tujuannya yang mulia untuk bisa menolong banyak orang, tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak sekali rintangan yang mesti ia hadapi dalam proses perjalanannya tersebut. Pada kenyataannya, seberapa banyak pun rintangan yang menghadang akan selalu ada akhir indah yang menanti. Ia juga menuturkan sampai saat ini ia masih harus banyak belajar, sehingga ia masih belum cukup puas dengan pencapaiannya saat ini.

“Saya sangat senang dengan pengalaman saya ini bisa menjadi pembelajaran bagi banyak orang. Pembelajaran agar siapapun yang memang memiliki mimpi teruslah untuk berjuang dalam menggapainya. Kalau saya bisa pasti kalian juga bisa. Bermimpilah setinggi langit, kalau saya yang berawal dari bukan siapapun bisa menjadi seorang bidan, maka kalian pun pasti bisa asal ada kemauan dan tekad yang bulat untuk bisa meraih kesuksesan. Saya sendiri pun saat ini masih banyak belajar terutama dengan teman-teman yang satu profesi juga senior untuk bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi, karena saya pribadi masih belum puas dengan pencapaian saya saat ini, masih banyak hal yang ingin saya lakukan khususnya dalam membantu para ibu hamil dan masyarakat untuk lebih peka terhadap kesehatannya sebagai tujuan utama saya sebagai seorang bidan. Jadi tetaplah semangat, semoga dengan cerita yang saya sampaikan bisa menjadi penguat untuk kalian agar tetap semangat juga.” Katanya. (*)