OPINI Artikel Heri Solehudin
Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja*)
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, Minggu ini masyarakat Ibukota sedang menyemarakkan HUT Kota Jakarta yang ke 495, diusia yang hampir mencapai lima abad ini Jakarta terus berbenah menuju Kota Megapolitan berkelas International. Berbagai terobosan baru dilakukan Gubernur Anis Baswedan dari masalah infrastruktur jalanan, modernisasi transportasi, fasilitas publik yang aman dan nyaman hingga stadium berkelas international dengan fasilitas kelas dunia.

Karena itu pada HUT Kota Jakarta tahun ini suasana sangat terasa gegap gempita masyarakat Ibukota dalam menyemarakkan perayaan hari Jadi Kota Jakarta. Penggunaan Istilah “Jakarta Hajatan” Jakarta Hajatan merupakan nama berkelanjutan yang melingkupi ragam kegiatan perayaan ulang tahun Jakarta yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah, dengan Slogan “Celebrate Jakarta” Kolaborasi, Akselerasi, dan Elevasi” yang dicetuskan Gubernur DKI Jakarta Bapak Anis Rasyid Baswedan yang mengandung makna bahwa Kolaborasi yang artinya semangat Kota Jakarta sebagai Kota Kolaborasi, Akselerasi menunjukkan Kota Jakarta yang ingin terus maju, terakhir Elevasi adalah visi Jakarta yang terus bertumbuh di kancah global.

Sejarah Singkat Jakarta

Jika kita lihat sejarahnya lebih dari 400 tahun lalu, tepatnya pada 1527, pasukan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jakarta, yang saat itu masih bernama Sunda Kelapa.

Pasca kemenangan pasukan Fatahillah, nama Sunda Kelapa kemudian diganti menjadi Jayakarta. Kata “Jayakarta” sendiri diilhami dari Surat Al Fath ayat 1, yang berbunyi “Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan padamu, kemenangan yang tegas.” Kalimat “kemenangan yang tegas” itu kemudian dialih bahasakan menjadi “Jayakarta.” Sejak jatuh ke tangan Fatahillah, corak kehidupan masyarakat Jayakarta didominasi oleh kebudayaan Islam. Setelah kekuasaan Belanda berakhir dan berganti dengan penjajahan Jepang pada 1942, nama Batavia dihanguskan dan diubah kembali menjadi Jakarta.

Bangsa Indonesia adalah merupakan bangsa yang berbudaya, karena itu jika kita melihat kota-kota besar di Indonesia semuanya memiliki kekhasan budaya masing-masing. Sisi multikulturalisme pada masayarakat perkotaan seperti di Jakarta misalnya ditandai dengan keragaman agama, adat istiadat, budaya dan lain sebagainya, ini bisa menjadi aset yang sangat berharga bagi kelangsungan hidup bermasyarakat ketika dikelola dengan sangat baik, dan sebaliknya jika tidak dikelola dengan baik maka bisa menimbulkan petaka terutama jika terjadi kesalahpahaman dalam menyikapi dan menghadapinya.

Perspektif Sosial Ekonomi dan Budaya

Dari aspek sosial dan budaya, budaya Jakarta merupakan percampuran dari berbagai etnik seperti suku Betawi yang merupakan pribumi asli Jakarta, Suku Sunda, Jawa, Minang, Batak, Bugis, Arab dan Cina. Selain itu, Jakarta juga banyak dipengaruhi budaya Arab, Cina, India China dan Portugis. Suku Betawi yang diyakini sebagai penduduk asli Jakarta sebenarnya berasal dari hasil perkawinan antar etnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia.

Jakarta adalah kota yang menuliskan banyak cerita bagi warganya  dari persoalan ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Maka wajar jika upaya pemerintahan Jokowi memindahkan Ibukota banyak mendapatkan penolakan karena sebagai ibukota negara Jakarta juga merupakan bagian penting dari sejarah republik ini berdiri, memindahkan tonggak sejarah pendirian republik artinya sama saja dengan menghapus lembar sejarah perjuangan bangsa menuju kemerdekaan sejati. Kemerdekaan sejati adalah merdeka secara ekonomi yang artinya menjamin kesejahteraan warganya, merdeka secara politik yang artinya tidak bergantung dengan kekuatan-kekuatan oligarki, dan merdeka secara sosial budaya yang artinya bahwa identitas budaya kita menjadi warna  dalam kehidupan sehari-hari kita.

Selamat HUT yang ke 495 Kota JakartaMaju Kotanya Bahagia Warganya….

*)Penulis: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja (Pengamat Sosial Politik Pascasarjana Uhamka, Anggora Forum Doktor Sospol UI, Direktur Heri Solehudin Center).