KESEHATAN HEWAN : Peternak sapi saat memantau kesehatan hewan ternaknya, di Jalan Jambu, Kelurahan Kedaung, Sawangan Kota Depok, Jumat (22/7). BAGUS/RADARDEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Masih ingat dengan penyakit mulut dan kuku (PMK). Selepas Idul Adha 1443 Hijriah, penyakit mematikan bagi hewan ini di Kota Depok bak ditelan bumi perkembangannya. Jumat (22/7), Dinas Pertahanan, Pertanian, dan perikanan (DKP3) Depok mencatat ada 61 hewan bergejala PMK. Sayangnya, belum dites lab 61 hewan tersebut sudah dipotong saat Idul Adha.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan DKP3 Depok, Dede Zuraida mengungkapkan, PMK terakhir terpantau sekitar 61 ekor sapi yang memiliki gejala PMK. Namun, 61 ekor ini masih gejala, belum diketahui positif PMK apa tidak. “61 ekor sapi ini yang mencengangkan sudah dipotong semua sebelum dicek laboratorium,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, Jumat (22/7).

Baca Juga : Laporan Radar Depok : Keluar-Masuk Irjen Sambo Pakai Pintu Samping

Dede Zuraida menambahkan, terkait vaksin Booster akan dilakukan rencananya Agustus. Jumlah yang menerima dosis sama seperti sebelumnya. “Agustus mendatang untuk tingkatan Booster,” ucap Dede Zuraida.

Baca Juga  Peran Besar Permintaan Domestik Terhadap Perbaikan Kinerja Emiten

Terpisah, Perternak Sapi di Jalan Jambu, Kelurahan Kedaung, Sawangan, Usman mengatakan, dampak PMK pengaruh ke omset penjualan. Sapi di pertenakannya merupakan sapi satu tahun yang lalu. Pembeli juga kerap meminta surat sehat dari dinas. “Untuk penjualan pengaruh. Apalagi, saat pemberitaan sedang gencar-gencarnya, ” tutur Usman.

Menurut dia, dari 153 jumlah sapi yang ada dipeternakannya. Saat Idul Adha tersisa 13 ekor. Terjual 140 sapi. Tiga pekan sebelum Idul Adha, sambungnya, memang hampir separuh hewannya bergejala PMK, tidak terlalu parah. “Hampir separuhnya kena PMK tapi tidak parah, apalagi sampai mati,” bebernya.

Usman menjelaskan, ketika puluhan sapinya bergejala PMK. Dia langsung melaporkan ke dokter hewan, dan juga berusaha melakukan pengobatan tradisional. Dokter memberikan vitamin, sementara dia memberikan air kunyit yang sudah diolah. Ramuan tersebut cara pembuatannya, kunyit diblender lalu disaring. Kemudian setelah itu dicampur dengan air mineral 250 mili liter (Ml). “Campuran itu untuk satu sapi,” katanya.

Baca Juga  Menilik Komunitas Gondrong Sepeda (1) : Maret 2021 Terbentuk, Ciri Khas Logo Tengkorak

Perlu diketahui, PMK pada hewan ternak telah menyebar ke 22 provinsi dan 262 kabupaten atau kota di Indonesia. Jumlah ini meningkat dari pekan lalu, yaitu wabah tersebut menyebar ke 22 provinsi dan 250 kabupaten atau kota.

Mengutip laman siagapmk.id pada Jumat (22/7) pukul 14:40 WIB, total kasus PMK secara kumulatif di Indonesia melewati lebih dari 400 ribu atau tepatnya 413.692 ekor hewan ternak. Jumlah hewan ternak yang sembuh dari PMK per hari ini sebanyak 175.360 ekor, dipotong bersyarat 4.636 ekor, mati akibat PMK 2.900 ekor, belum sembuh 175.360 ekor, serta jumlah ternak yang telah divaksinasi sebanyak 612.145 ekor.

Lima provinsi yang melaporkan kasus PMK tertinggi yaitu Jawa Timur (Jatim) dengan 165.223 kasus, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat (NTB) 85.427 kasus, Aceh 41.766 kasus, Jawa Barat (Jabar) 35.412 kasus, dan Jawa Tengah (Jateng) 34.856 kasus. Kelima provinsi itu sudah menggelar vaksinasi PMK, rinciannya yaitu Jatim sebanyak 361.087 ekor, NTB 3.596 ekor, Aceh 1.995 ekor, Jabar 62.127 ekor, dan Jateng 66.398 ekor. Kemudian, hewan ternak yang terkena wabah PMK yaitu sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba, dan babi. Jumlah sapi potong yang terjangkit PMK sebanyak 346.536 ekor: sembuh 151.605 ekor, belum sembuh 190.400 ekor, dipotong bersyarat 2.977 ekor, mati akibat PMK 1.554 ekor, dan yang sudah divaksinasi PMK sebanyak 487.119 ekor.(cr3/rd)

Baca Juga  Nyonya Tua Hanya Butuh Satu Angka

Jurnalis : Bagus 

Editor : Fahmi Akbar