boks 1
DRONE : Salah satu spot terbaik jalan menuju Desa Salukanan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan (Sulsel).
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Bermalam di pemukiman suku Baduy Luar menjadi pengalaman yang sangat luar biasa bagi Kami (Gerakan Anak Negeri). Apalagi, tujuan kami bermalam bukan hanya sekedar berwisata tapi memenuhi undangan pernikahan adik salah satu sahabat kami, Jidan.

Laporan : Iqbal Muhammad, Depok

Bagaimana perjalanan menuju suku baduy luar dan proses pernikahannya sudah di ulas oleh wartawan Radar Depok Gerard Soeharly, di edisi Selasa (28/6) hingga Jumat (1/7). Setelah selesai proses adat pernikahan Santi (adik Jidan/ Sahabat kami warga suku baduy Luar) tim bergegas pulang menuju Graha Pena, di Jalan Abdullah bin Nuh No30, Kota Bogor Jawa Barat. Perjalanan pulang bukan perkara mudah, membutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk tiba di Graha Pena.

Baca Juga : Gerakan Anak Negeri (GAN) Susupi Kehidupan Suku Baduy Luar (1) : Disebut Baduy Moderen, Bayar Belanjaan Pakai Barcode

Belum lagi, kami harus berjalan kaki di bebatuan yang licin setelah diguyur hujan sehari sebelumnya sejauh +-2 Kilometer (KM). Setelah menempuh 2 jam perjalanan pulang dari Baduy Luar menuju Graha Pena. Direktur RBG, Nihrawati AS menunggu rombongan untuk membahas ekspedisi Tana Toraja yang direncanakan berbarengan  perjalanan ke Baduy pada Jumat (24/6). “Sudah dimana? Nanti setibanya di Grapen kita meeting persiapan ekspedisi Tanah Toraja ya,” komennya dalam grup Whatsapp (Wa) Forum GM, Senin (27/6).

Saya yang saat itu sedang nyetir hanya membalas, “2 jam lagi kita diperkirakan tiba di Grapen,” jawab saya yang saat itu masih di sekitaran Leuwiliang pukul 15:00.

Tepat pukul 17:30, kami tiba di Grapen. Setelah memenuhi kebutuhan lambung yang sedari tadi berteriak. Sambil menikmati kopi Baduy dan sebatang rokok diskusi persiapan ekspedisi Tana Toraja dipimpin langsung  CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu membahas time schedule dan teknis perjalanan.

Tim Gerakan Anak Negeri (GAN) yang berjumlah 10 orang berangkat menuju Makasar Rabu (30/6) menggunakan pesawat pukul 4:45 dari  Bandara Soekarno Hatta. Hanya butuh satu hari untuk mempersiapkan perjalanan ekspedisi Tana Toraja pasca bermalam di Baduy.

Tiba di Kota Daeng (sebutan Lain Kota Makasar) sekitar pukul 07:00. Setelah bersilaturahmi dengan para penggiat media online dan cetak di kota yang dulu disebut Ujung Pandang itu. Tim bergerak menuju Kabupaten Enrekang. Tepatnya di Desa Salukanan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang.

Ada dua hal yang sangat istimewa di Kecamatan Baraka. Pertama di Desa yang kita singgahi yaitu Desa Salukanan merupakan desa penghasil Beras varietas lokal terbaik dan termahal di Indonesia. Bayangkan 1 liternya dihargai Rp60 ribu jika beli langsung ke petani, tapi kalau beli di pasar bisa tembus diangka Rp70rb se-liternya. Keistimewaan kedua, ada desa yang warganya dilarang merokok, padahal desa tersebut berada di ketinggian 1350 MDPL.

Edisi ini saya mau membahas beras Pulu Mandoti, salah satu varietas padi lokal yang memiliki keistimewaan dari wanginya. Beras tersebut sejenis beras ketan berwarna merah. Pulu’ Mandoti secara bahasa terdiri dari dua kata “Man (Mang)” dan “doti” artinya melakukan ritul “doti” (santet).

MENIKMATI : CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu menunjukan beras ketan Pulu Mandoti.

Konon beras jenis ini dulu sering dipakai sebagai sarana santet ke pihak lawan akhirnya namanya sampai sekarang dikenal sebagai mandoti. Bisa juga Pulu Mandoti dimaknai beras yang memiliki aroma yang sangat tajam. Pulu Mandoti juga hanya bisa tumbuh di sawah desa yang tingginya 700 Mdpl.

“Beras ini pernah juga dicoba ditanam di daerah lain, tapi tidak berhasil. Jadi beras Pulu Mandoti hanya bisa di tanam di Desa Salukanan oleh suku duri,” kata salah satu petani.

Desa Salukanan, merupakan desa yang berada di kaki Gunung Latimojong. Menuju desa tersebut bukan perkara mudah, kita harus melakukan perjalanan selama 6 jam melintasi poros Pinrang Enrekang yang jalurnya sempit dan berlubang.

Beras Pulu Mandoti ini aromanya bisa tercium dari jarak 100 meter. Bahkan, bila dicampurkan dengan beras biasa, 1 liter beras Pulu Mandoti bisa mengharumkan 40 liter beras biasa.

Keunikan lainnya, Beras Pulu Mandoti hanya bisa tumbuh secara sempurna di Desa Salukanan, beberapa kali beras itu di budidayakan di desa lain, tumbuh tidak sempurna. Bahkan,  daerah lain di Pulau Jawa pun sempat mengembangkan varietas padi Pulu Mandoti, tapi aroma yang dihasilkan tidak sama dengan dari daerah asalnya.

“Sudah ada beberapa penelitian yang dilakukan untuk mencoba mengembangkan varietasnya agar bisa sama dengan dari desa salukanan namun sampai saat ini belum bisa menyamai kualitasnya. Kemungkinan besar jenis tanah, pengaruh unsur hara yang terjandung didalamnya yang mempengaruhi kualitas berasnya,” kata sahabat kami yang juga warga Desa Salukanan, Hasbi.

Proses tanam dan pemeliharaan yang membutuhkan perhatian khusus juga menjadi salah satu faktor mahalnya beras Pulu Mandoti. Untuk mencapai panen dari masa tanam, panen beras Pulu Mandorti membutuhkan waktu 1 tahun. Tentunya, biaya pemeliharaannya juga sangat besar. Di desa tersebut ada sekitar 350 hektar lahan perswawahan, namun hanya 250 hektar yang bisa di tanam oleh varetas padi Pulu Mandoti. “Konon dulu jaman Pak Soeharto presiden. Beras ini sering dikirim ke Istana,” kata Hasbi.

Untuk mencari petani beras Pulu Mandoti, saya bersama CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu, Kameramen Jonathan dan di pandu sama warga sekitar menggunakan sepeda motor melintasi gugusan bukit pegunungan Latimojong. Dan menysuri ratusan hektar persawahan dengan teknik terasering yang sangat apik, ditambah aliran sungai ditengah tengah lembah.

“Gila keren banget ini pemandangan,”ucap saya dalam hati. Baru saja saya berucap, dihadapan saya ada aliran air yang melintasi jalan, setelah mendekat  aliran air itu berasal dari air terjun di samping kanan jalan yang saya lewati. “Lengkap sudah keindahan alam di Desa Salukanan,” (bersambung)