Heri Solehudin Idul Adha
Oleh: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja*)
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam yang jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Pada hari ini umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan Shalat Ied bersama-sama di tanah lapang atau di Masjid. Idul Adha juga disebut Hari Raya Haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Esoterisme dan Eksoterisme

Dalam perspektif Esoteris Islam “Idul Adha” mengandung  ajaran yang sangat fundamental. Pertama adalah ketaatan Nabi Ibrahim yang bahkan sampai merelakan putra kesayanganya untuk dikorbankan sebagai bentuk kepatuhannya terhadap perintah Allah SWT. Esoterisme inilah yang pada perkembangan selanjutnya melahirkan eksoterisme dalam wujud ajaran berkurban sampai kepada ummat Nabi Muhammad SAW, yang dalam tataran praktisnya memiliki dua makna sekaligus yaitu Makna Vertikal  yang berarti sebagai wujud ketaqwaan kepada Allah (Qurban sebagai ibadah taqorrub), dan pada saat yang sama juga memiliki Makna Horizontal yang melahirkan kesalehan sosial dalam wujud kepekaan terhadap lingkungan sosial terutama fakir miskin, kawan, kerabat dekat dan masyarakat disekitarnya yang sangat membutuhkan dalam bentuk pembagian daging kurban.

Karena itulah maka Ibadah Qurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun dari keikhlasan dalam berqurban, sebagaimana disebutkan dalam quran surat Al-Hajj ayat 37:

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kehidupan Harmoni dan Sosial

Peristiwa tersebut setidaknya memuat hikmah yang harus menjadi perenungan kita bersama, yang pertama adalah bahwa Islam mengemas kehidupan secara harmoni seperti halnya kehidupan dunia-akhirat. Bahwa meraih kehidupan baik (hasanah) di akhirat kelak perlu melalui kehidupan di dunia yang merupakan ladang untuk memperbanyak kebajikan dan memohon ridhoNya agar tercapai kehidupan dunia dan akhirat yang hasanah. Sehingga kehidupan di dunia tidak terpisah dari upaya meraih kehidupan hasanah di akhirat nanti. Tingkat ketakwaan seseorang dengan demikian dapat diukur dari kepeduliannya terhadap sesamanya. Kesiapsediaan Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesaat yang sesat. Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba.

Kedua bahwa setiap ibadah yang diperintahkan Allah senantiasa mengandung dua aspek yang tak terpisahkan, yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah (hablumminnalah) dan hubungan dengan sesama manusia atau hablumminannas. Dengan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada kaum yang membutuhkan merupakan salah satu bentuk kepedualian sosial seorang muslim kepada sesamanya yang tidak mampu. Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam.

Ketiga adalah memperkokoh empati, kesadaran diri, pengendalian dan pengelolaan diri yang merupakan cikal bakal akhlak terpuji seorang muslim. Akhlak terpuji dicontohkan Nabi seperti membantu sesama manusia dalam kebaikan, kebajikan, memuliakan tamu, mementingkani orang lain (altruism) sebuah prinsip dan praktik moral kepedulian terhadap kebahagiaan orang lain sehingga menghasilkan kualitas hidup baik material maupun spiritual.

Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahun yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tabah yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H. Taqabbalallahu minna waminkum shiyamanaa washiyamakum, kullu‘aamin waantum bikhair.

Wallahua’lamu matasna’uun.

*)Penulis: Dr. H. Heri Solehudin Atmawidjaja (Pengamat Sosial Politik Pascasarjana Uhamka Jakarta, Anggota Forum Doktor Sospol UI, Wakil Ketua PDM Kota Depok).