MENIKAH : Mempelai wanita dan pria, Santi dan Agus ketika melakukan foto bersama usai melangsungkan pernikahan dengan tata cara yang berlaku dalam tradisi Suku Baduy Luar di Kampung Cibogo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Senin (27/6). GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Setelah bermalam tanpa listrik dengan cuaca yang cukup membuat tubuh menggigil. Radar Depok dan GAN tiba dipenghujung acara pernikahan sakral yang sudah pasti tidak mudah disaksikan begitu saja oleh masyarakat umum.

Laporan : Gerard Soeharly, Kota Depok

Malam gelap nan sunyi telah berlalu, mentari pagi sudah mulai menyapa. Udara dingin belum sepenuhnya menghilang masih terasa menyengat di kulit. Rombongan satu per satu bergantian mencari mata air di Kampung Cibogo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak untuk membersihkan diri.

Salah satu dari rombongan menginfokan ada mata air yang biasa digunakan mandi oleh masyarakat Suku Baduy Luar di Kampung Cibogo. Namun, airnya sangat dingin dan harus menempuh jalan menurun sekira 200 meter untuk sampai disana. Mereka bahkan tidak jadi mandi, hanya membersihkan diri atau sekedar menggosok gigi.

Baca Juga : Gerakan Anak Negeri (GAN) Susupi Kehidupan Suku Baduy Luar (3) : Tanpa Listrik, Air Bersih dan Kamar Mandi

Tak menyianyiakan kesempatan, Radar Depok memberanikan diri menjajal kucuran air tersebut. Tidak disangka dinginnya terasa sampai tulang belulang. Sesekali nyamuk kebun menggit tubuh yang setengah telanjang ini. Tetapi, semua dibayar tuntas usai membersihkan diri menggunakan handuk.

Setelah mandi, Radar Depok mencoba untuk mengunjungi kediaman Santi (20) yakni mempelai wanita yang akan melangsungkan pernikahan nanti. Suasana rumahnya sangat sibuk, tidak terlihat wajah cantik Santi. “Mempelai wanita lagi persiapan sedang dirias,” kata Kakak Laki-Laki Santi, Jidan, Senin (27/6).

Akhirnya, Radar Depok mempersiapkan diri untuk menyaksikan pernikahan Suku Baduy Luar secara langsung. Berbagai perlengkapan sudah dipersiapkan, termasuk dua buah smartphone.

Setelah itu, rombongan yang terdiri dari Tim ekspedisi Gerakan Anak Negeri (GAN) dan jurnalis Radar Depok bergegas menuju lokasi pernikahan. Jaraknya tidak begitu jauh hanya sekitar 100 meter dari tempat rombongan bermalam.

CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu memimpin barisan. Dia menenteng satu buah plastik merah besar. Isinya ada kerupuk udang dan berbagai makanan ringan yang masing berbentuk rencengan. Kemudian, dia dianjurkan oleh warga setempat untuk memisahkannya agar mudah dibagi-bagi dalam acara pernikahan nanti.

Sampai dilokasi, semua warga pada permukiman tersebut berkumpul pada sebidang lahan dengan luas sekira 7X7 Meter. Tidak ada lagi yang melangsungkan pekerjaan apapun. Rombongan dibuat kagum dengan suasana disana, wanita-wanita cantik yang sebelumnya tidak terlihat tiba-tiba muncul disana. Ada yang kulitnya putih bersih, ada yang memilki kulit berwarna kuning langsat, beberapa dari mereka memiliki kulit sedikit gelap dengan wajahnya yang manis. Sebagian dari semakin dipercantik dengan bola mata berwarna cokelat.

Seribu sayang, seluruh rombongan tidak diperkenankan mengabadikan momen sakral itu baik menggunakan smartphone, kamera maupun drone. Hal itu tidak mematahkan semangat rombongan yang telah terbakar sesampai disana. Diatas sebidang lahan itu telah digelar beberapa helai tikar anyaman bambu yang beralaskan daun pisang yang telah tersusun rapih. Disanalah, momen sakral bagi kaum Baduy Luar akan melangsungkan prosesi pernikahan.

Tiba-tiba Santi dan mempelai laki-lakinya, Agus (22) keluar dari sebuah rumah. Semua mata terpanah pada keduanya. Mereka kemudian memasuki altar yang terbuat dari tikar tadi, mereka berdua mengambil posisi duduk setelahnya. Santi terlihat sangat cantik dengan kain batik berwarna biru hitam yang Ia kenakan. Diatas kepalanya, ada sebuah mahkota yang terbuat dari kulit batang bambu.

Mata mahkota itu terbuat dari uang logam, disekelilingnya ada uang kertas dengan nilai yang berbeda. Mulai dari Rp2 ribu hingga Rp100 ribu. Begitu pun dengan Agus, dia mengenakan mahkota yang sama, bedanya hanya satu, tidak ranting yang membelah mahkota itu dari bagian belakang ke depan. “Ini adalah mahkota yang dikenakan adik saya Santi,” sebut Jidan sambil memamerkan mahkota tersebut.

Tak lama darisitu, sebuah rombongan datang dari atas permukiman tersebut. Mereka perlahan-lahan menuruni anak tangga. Ada pria mengenakan pakaian serba hitam dengan pengikat kepala atau totopo. ada juga yang mengenakan baju putih dengan pengikat kepala berwana putih, Celananya, adalah ikatan kain batik berwarna coklat. Mereka adalah perwakilan dari Suku Baduy Dalam.

Dibelakang mereka, ada tiga wanita yang cukup mencuri perhatian. Mereka hanya membungkus diri dengan sehelai kain berwarna hitam-biru, persis yang dikenakan Santi. Ditangan mereka, masing-masing menggendong satu anak bayi yang berumur sekitar 7 hingga 12 bulan. Bayi-bayi tersebut tidak mengenakan sehelai kain pun pada tubuhnya.

Laki-laki tadi memasuki area yang telah dialas tikar tersebut, rombongan yang telah berbaris rapih itu kemudian mengelilingi Agus dan Santi sebanyak satu putaran. Tidak diketahui persis makna dari putaran tersebut.

Tak lama dari situ, seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dengan totopo mulai mengurai satu per satu tali berwarna putih yang terlihat sepeti sumbu kompor. Dia disebut-sebut sebagai penghulu.

Kemudian, dia mengikat nya pada setiap orang yang berada diatas tikar tersebut. Santi dan Agus mendapat giliran pertama, tangan kirinya memegang kepala Santi, tangan kanannya memegang kepala Agus. Selanjutnya, dia menyatukan kepala tersebut dengan tiupan halus dari mulutnya. Momen ini, adalah titik tersakral, pada hembusan angin yang dia kelaurkan dari mulutnya itu terdapt lantunan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mereka berdua menjadi satu.

Seutas tali putih itu sebagai tanda pengikat cinta mereka. Rombongan yang berada diatas tikar itu adalah orang penting ada keluarga, penghulu dan perwakilan dari Suku Baduy Dalam.

Penghulu melanjutkan putaran selanjutnya, dia mengikat satu per satu lengan rombongan tadi dengan seutas tali putih tersebut. Pada bagian kahir rombongan, ada tiga wanita yang menggendong bayi tadi.

Penghulu meniupkan tangan bayi-bayi tersebut sebagai tanda kesucian supaya kelak mereka dapat hidup menjadi orang baik dan benar berdasarkan ajaran Suku Baduy Luar maupun Dalam. “Momen sakralnya adalah waktu penghulu menyatukan kepala Agus dan Santi terus membacakan doa,” ujar Jidan kepada Radar Depok.

Jidan mengaku, tidak tahu mantra apa yang dibacakan oleh penghulu tersebut. Karena, tidak sembarang orang yang mendapatkan anugerah tersebut. Tidak sampai semenit dari momen sakral tersebut berlangsung, langit pada permukiman tersebut dihujani uang logam dan makanan ringan. Mereka menyebutnya sebagai saweran yang juga merupakan ritual dalam momentum sakral tersebut.

Hazairin Sitepu mendapatkan kesempatan emas dalam momentum tersebut, dia diperbolehkan untuk menebar uang. Dia memilih uang kertas. Karena, dia tidak mempersiapkan uang logam.

Setelah saweran, suasana ramai disana menjadi hening seketika. Semuanya, mengunjungi kediaman Agus. Pada kesmepatan ini, kamera diperbolehkan aktif kembali. Dalam sekejap altar tersebut berubah menjadi tanah kembali. Panitia pernikahan, membagikan cocongot yang berisikan beras, ikan asin, sirih dan ayam panggang ke tiap-tiap rumah warga disana. (ger)

Editor : Fahmi Akbar