pelaku curanmor
BEBERKAN : D sedang menjelaskan saat beraksi membobol motor dan menjualnya kepada Harian Radar Depok. DANA/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Aksinya yang menakjubkan dengan waktu persekian detik, bisa memetik motor. Kini jadi pilihan bagi penganggur. Hanya dengan kunci Leter T para pelaku mudah membobol kunci yang belum smart. Fenomena ini sudah menahun dan belum ada solusi.  Jargon Bang Napi : Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi ada kesempatan. Perlu dingiang pemilik kendaraan di Kota Depok.

Tim Laporan Khusus (Lapsus) Harian Radar Depok, menelusuri keberadaan si pencuri motor (Ranmor) hebat ini yang bisa dalam sekelibat bisa menggondol motor. Di perbatasan Kota Depok dengan Kabupaten Bogor, sebut saja D sudah siap membeberkan saat dia beraksi dan menjual kemana motor tersebut, Selasa (19/7) sore.

Baca Juga : Depok Sudah Lima Kali dapat KLA Nindya, Tahun Depan dapat Utama Ya

Tim kecil bentukan D, bukan komplotan bersenjata tajam (Sajam) maupun senjata api (Senpi). D beraksi hanya berdua dengan teman sejolinya. Sudah empat kali bertindak sebagai eksekutor ranmor di Kota Depok maupun Bogor. Alat yang dibutuhkan D untuk melancarkan aksinya, hanya satu buah kunci Leter T. Karena sudah terlatih dengan dunia ranmor, dia hanya butuh waktu 2 sampai 5 menit agar dapat membobol motor.

Pria bertopi ini tidak perlu persiapan atau membuat strategi dan menggambar suatu wilayah. D selalu menanti kesempatan selama beraktivitas. Bila ada motor yang berpotensi untuk disikat. Tak pikir waktu lama, pria berusia 22 tahun itu langsung menggasak motor santapannya. Motor jenis matik, sangat mudah dicuri dan lebih cepat dijual. “Seluruhnya motor matik, kaya beat, mio. Paling sering beat, karena gampang dijebol kuncinya,” jelasnya.

Selama empat bulan mencuri, D selalu melancarkan aksinya di siang hari. Karena disaat itu, banyak masyarakat yang tidak memperhatikan. Dia bisa leluasa menggasak sepeda motor. Rasa was-was memang selalu timbul saat merobek kunci motor. Kendati demikian, tidak membuat D ketakutan. Justru sebaliknya, mentalnya lebih kuat bila menghadapi hal tersebut.

Baca Juga  Mursinah Korban Angin Puyuh di Depok Dapat Bantuan

Saat beraksi, bapak anak satu ini mengaku sebagai pelaku utama yaitu eksekutor. Satu temannya menanti di motor, sambil memantau situasi dan keadaan. “Saya tidak pernah bawa sajam atau lainnya untuk membekali diri. Saat ‘main’ motor, saya juga tidak ada ketakutan,” terang pria yang memiliki tato di beberapa bagian  tubuhnya itu.

Seluruh motor yang berhasil digasak D, semua dijual dalam waktu kurang dari 24 jam, lokasinya berada di Kabupaten Bogor. Setiap motor yang dijual harga bervariatif, mulai dari Rp2 sampai Rp3 juta. “Paling gampang dijual itu matik, karena peminatnya banyak. Saya kalau jual motor curian di Bogor,” ungkap D.

D sendiri, kini berstatus sebagai ayah. Dia memiliki istri dan satu orang anak yang berusia tiga tahun. Ranmor itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jadi kalau ditanya apa alasannya, yaitu kebutuhan ekonomi.

Dari pengakuannya, sebelum berprofesi jadi pelaku curanmor. Pria asal tanah Jawa ini berjualan makanan sambil berkeliling. Dan uang itu tidak mampu mencukupi kebutuhannya sebagai seorang kepala keluarga.

Kejadian apes dialaminya saat beraksi. D tertangkap basah ketika memetik motor di kawasan Kota Depok. Temannya justru pergi terbirit-birit ketika dia dikepung warga. Perristiwa itu membuatnya D harus jera. Ini merupakan hukuman D yang kedua kalinya setelah jadi residivis pertama ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta.

D meminta seluruh predator curanmor untuk berhenti melakukan permainan ini. Kembali ke jalan yang sesuai dan benar, sebab hanya ada penyesalan yang membayangi setiap hari jika sudah mendekam di hotel prodeo itu. “Tobat aja sekarang mah. Untungnya nggak seberapa, tapi hukumnya parah. Kalau kita di dalam (penjara) nggak bisa nafkahin keluarga, yang pasti bikin susah keluarga,” lanjut D dengan nada lesu.

Bukan  hanya pada sesama pelaku, D juga menyarankan kepada masyarakat atau pemilik motor agar lebih telaten saat meninggalkan motornya. Saran dari pelaku ranmor ini, untuk setiap motor dikunci stang ke arah kanan dan menggunakan kunci ganda. “Itu akan lebih buat kita sulit mengambilnya. Pelaku Ranmor juga tidak akan memilih motor kalau yang diparkir seperti itu,” tegas D.

Baca Juga  Vokasi-FIA UI Gelar Diskusi RUU Konsultan Pajak
Kriminolog UI, Prof Muhammad Mustofa

Dikonfirmasih terpisah, fenomena ini mendapat perhatian dari Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Prof Muhammad Mustofa. Pengamat kelahiran Temanggung , 21 Januari 1951 ini mengatakan, aksi curanmor terjadi karena kelalaian pemilik dalam mengamankan kendaraanya.

“Ada data yang menunjukkan bahwa curanmor terjadi karena keteledoran pemilik. Misalnya tidak pasang kunci pengaman, bahkan membiarkan kunci tetap menempel di motor,” ucap Prof Muhammad Mustofa kepada Harian Radar Depok.

Dia mengungakpkan, alasan pelaku curanmor kerap membawa senjata tajam atau bahkan senjata api saat melakukan aksinya. Demi meningkatkan potensi keberhasilan mereka dalam melaksanakan aksinya. “Karena saat melakukan aksinya modus mereka masuk ke pemukiman, atau tempat publik saat melakukan aksi, mereka kemungkinan besar akan bawa senjata. Agar kalau kepergok saat beraksi  mereka bisa mengancam orang lain dengan senjata agar bisa melarikan diri,” tuturnya.

Dia mengakui, ada perubahan tren dalam aksi curanmor saat ini. Saat ini pelaku curanmor terkesan lebih berani, karena kerap beraksi di siang hari, bahkan di tempat yang terbilang ramai. “Perubahan modus itu juga dipengaruhi oleh semakin sulitnya melakukan curanmor di malam hari. Karena banya warga yang memasang CCTV, dan upaya keamanan di lingkungan warga melalui Siskamling,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kegiatan mencuri adalah salah satu alternatif dalam mencari nafkah. Sehingga tidak sedikit orang yang memilih jalan pintas dalam mencari nafkah dengan melakukan aksi pencurian. Bahkan, sekalipun seorang pelaku pencurian pernah ditangkap polisi, tidak lantas menggugurkan niatnya untuk kembali melakukan aksi serupa. “Kalau sudah sering melakukan pencurian, walaupun pernah tertangkap, bagi pelaku mencuri dianggap lebih menguntungkan,” bebernya.

Baca Juga  Bapera Depok Sebar 3.850 Takjil

Dia menyebutkan, maraknya aksi pencurian ini juga tidak lepas dari kehadiran penadah hasil curian, sehingga pencuri bisa dengan mudah menjual barang curiannya. Di dalam dunia kejahatan ada semacam pembagian kerja. Yang satu kerjanya hanya mencuri, yang lain sebagai penadah, dan ada yang bertindak untuk membuat dokumen palsu bagi barang hasil curian yang membutuhkan surat – surat. “Hal itu menunjukkan ada jaringan yang harus diberantas, tidak hanya pelakunya saja,” terangnya.

Menurutnya, aksi kriminalitas khususnya curanmor tidak dapat dicegah. Akan tetapi, hal itu masih dapat dikendalikan agar frekwensinya menjadi rendah. Caranya, dengan meningkatkan keamanan kendaraan, menambah kunci pengaman, memasang aplikasi agar mesin mati bila dicuri orang.  “Satu lagi, bila parkir di tempat publik dan ditinggalkan, amati kendaraan sampai dengan 10 menit pertama, sebab biasanya jika ada indikasi curanmor akan terlihat di menit – menit tersebut,” tutupnya.(dra/arn/rd)

Fakta dan Data Curanmor di Depok :

Pengakuan Pelaku :

Nama :

  • D (22)

Motor Dicuri :

  • 4 Unit

Kurun Waktu ‘main’ :

  • 4 bulan

Waktu Membobol Motor :

  • 2 hingga 5 menit

Area ‘main’ :

  • Depok dan Bogor

Harga Jual :

  • Rp2 – 4 juta

Lokasi Jual :

  • Bogor

Saat Memetik Motor :

  • Kunci T selalu siap
  • Aksi pencurian siang hari
  • Tim terdiri dari 2 orang

Saran Aman :

  • Motor dikunci stang ke arah kanan
  • Gunakan kunci ganda

Data Curanmor :

  • 156 perkara

Periode Perkara :

  • Januari-pertengeah Juli 2022

Rata-rata Umur Pelaku :

  • 16 tahun dan 17 tahun

Motif :

  • Niat dan kesempatan
  • Kebutuhan ekonomi

Rata-rata kendaraan dicuri :

  • Automatik

Jumlah CCTV di Depok :

  • 49 titik

CCTV Milik :

  • Dishub 25 titik
  • Diskominfo 24 titik

Fungsi CCTV :

  • Melihat arus lalu lintas kendaraan
  • Membantu Kepolisian melihat laka lantas
  • mengusut kejahatan jalanan yang marak

Kedepanya :

  • CCTV yang dikelola Dishub dintegerasikan ke Diskominfo

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar, Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar