kepala sd mampang 2
INTERAKSI : Kepala SDN Mampang 2, Heny Herawati, bersama para siswanya.

Perjalan sebelum menjadi kepala sekolah, Heny ternyata aktif di masyarakat. Turut meluangkan waktu untuk berkegiatan di Pembinaan Kesejatraan Keluarga (PKK) di berbagai Kelurahan dan Kecamatan. Ada juga omongan orang tua yang menjadi bagian penting perjalanan karirnya.

Laporan : Bagus Burchansyah

RADARDEPOK.COM, Di dalam ruang kerjanya, antara tiga sofa dan satu meja, ditengah-tengah perbincangan hangatnya  dengan seorang tamu. Cahaya matahari yang masuk kedalam kaca terlihat begitu lemah, menandakan sore pun mulai tiba.

Suara decitan antara pintu yang bergesekan dengan kramik, secara perlahan rekan kerja dari Heny pun masuk ke ruang kerja, berniat untuk berpamitan.

Heny dengan senyuman, bersenda gurau dengan rekan kerjanya, berniatan untuk mengajak rekan kerjanya bergabung didalam obrolan. Mereka berdua tertawa perlahan, entah apa yang sedang mereka bahas.

“Saya pamit duluan ya bu,” ucap rekan kerja Heny.

Dia kembali duduk di atas sofa berwarna merah, dia memperkenalkan rekan kerja yang baru saja pamit kepada tamunya. Heny kembali bercerita tentang kisah semasa hidupnya dulu sebelum menjadi Kepada SDN Mampang 2, aktif menjadi PKK di berbagai kelurahan dan Kecamatan.

Baca Juga  Dijatahi 1.200 Sertifikat, Baru 18 Sertifikat Diberikan

“Pada saat saya menjadi guru di SDN Rangkapan Jaya Baru, sampingan saya PKK,” ujarnya.

Secangkir kopi di atas meja dan 2 air mineral diatas meja menjadi pelengkap obrolannya. Dia kembali bercerita dahulu pada saat menjadi guru di SDN Rangkapan Jaya Baru, aktif PKK di kelurahan Tugu, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, dan di Kecamatan Limo.

“Saya aktif di PKK untuk kelurahan sekitar 2008-2014, aktif PKK kecamatan 2019-2021,” ucapnya.

Decitan pintu kembali terdengar, pintu kembali terbuka. Dengan senyuman dibibir, staf kantin mengantarkan satu piring pisang goreng yang masih hangat. Membuat obrolan menjadi semakin dalam. Dia bercerita ketika menjalankan tugas PKK di salah satu komplek perumahan, ia pernah disangka peminta sumbangan oleh asisten rumah tangga.

Baca Juga  Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir J !

“Saya di bilang maaf ya ibu. Mungkin karena saya bawa map kali ya,” ujarnya sambil tertawa.

Aktif PKK membuat Heny yang pendiam, jadi belajar banyak hal. Karena banyak bersosialisai dengan orang-orang, dan menemui karakter-karakter yang berbeda.

“Saya sebenarnya orang pendiam,” ucapnya sambil tertawa

Suami tersayang, Ahmad Ubaidillah, selalu mendukung segala kegiatan saya selagi positif. Tempat bercerita apapun. Salah satu support sistemnya.

Berkat aktif di PKK pula, dia pernah menyelesaikan suatu masalah. Saat itu murid yang diwalikan tidak ikut Ujian Nasiona (UN). Dia  berkerjasama dengan salah satu RT bertemu dengan siswanya di suatu wilayah.

“Gara- gara ikut PKK, saya ketemu dengan salah satu murid yang tidak UN. Saya memberi nasehat kepada dia, akhirnya besoknya ikut UN,” ucapnya.

Baca Juga  Roam Universitas Indonesia : Balance Bike Khusus Balita, Latih Sensor Motorik Anak

Ada satu hal yang paling berkesan ketika menjadi anggota PKK. Pada saat itu, sedang gencar-gencarnya penyakit kaki gajah. Ia menjadi penyuluh kepada warga untuk rutin minum obat. Bekerja dari pagi hingga petang menjelang.

“Saya mulai dari pagi sampai malam, mengontrol para warga hanya  buat minum obat,” ucapnya.

Diluar itu semua, merujuk perjalanan karir. Bagi Heny, orang tua adalah salah satu sosok yang paling berperan penting. Benar kata orang-orang kalau bilang ke anak yang bagus-bagus saja. Jangan yang jelek-jelek. Seperti yang dirasakan Heny.

Ia menjadi  kepala sekolah sepertinya karena doa dari bapaknya, Abdurahman Anwar. Ketika ia masih menjadi seorang  guru, lalu berkunjung ke rumah orang tuanya, ia selalu digoda oleh sang bapak, ‘bu kepala sekolah pulang’.

“Omongan bapak itu mungkin sugesti ya. Alhamdulillah sekarang saya menjadi kepala sekolah beneran,” pungkasnya. (Bersambung)

Editor : Junior Williandro