Urutan Kepangkatan Polisi
Tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J melibatkan anggota polisi berpangkat Bhayangkara Dua (Bharada) sampai dengan Inspekstur Jenderal (Irjen). FOTO: ISTIMEWA
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J melibatkan anggota polisi berpangkat Bhayangkara Dua (Bharada) sampai dengan Inspekstur Jenderal (Irjen). Sebagaimana diketahui, di internal kepolisian kepangkatan memang cukup banyak.

Polri membagi enam kategori untuk kepangkatan personelnya. Dimulai dari yang terbawah yakni Tamtama.

Pada kategori ini diawali dari yang terendah yaitu Bhayangkara Dua (Bharada), kemudian Bhayangkara Satu (Bharatu), Bhayangkara Kepala (Bharaka), Ajun Brigadir Polisi Dua (Abripda), Ajun Brigadir Satu (Abriptu), Ajun Brigadir Polisi (Abrigpol).

Kemudian setingkat di atasnya digolongkan sebagai Bintara. Terdiri dari Brigadir Polisi Dua (Bripda), Brigadir Polisi Satu (Briptu), Brigadir Polisi (Brigpol), Brigadir Polisi Kepala (Bripka). Setingkat di atasnya disebut sebagai Bintara Tinggi. Terdiri dari Ajun Inspektur Dua (Aipda) dan Ajun Inspektur Satu (Aiptu).

Selanjutnya kepangkatan polisi memasuki kategori perwira. Dimulai dari Perwira Pertama yakni Inspektur Dua (Ipda), Inspekstur Satu (Iptu) dan Ajun Komisaris Polisi (AKP).

Bergeser ke atasnya memasuki Perwira Menengah. Dimulai dari Komisaris Polisi (Kompol), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), dan Komisaris Besar (Kombes).

Terakhir sekaligus menjadi katagori teratas yaitu Perwira Tinggi. Dimulai dari Brigadir Jenderal (Brigjen), Inspektur Jenderal (Irjen), Komisaris Jenderal (Komjen) dan Jenderal dengan simbol bintang empat.

Diketahui, empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E.

“RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan.

“FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun. (jpc)