istri sambo
ANGKAT BICARA : Istri Mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo, Putri Chadrawati angkat bicara mengenai, penahanan suaminya di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Minggu (7/8). GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Sang suami tercinta Irjen Ferdy Sambo sudah ditetapkan tersangka sebagai otak pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Jenderal bintang dua ini juga tengah ditempatkan khusus (Patsus) di Mako Brimob Kelapa Dua, Kota Depok. Seiring Bareskrim Polri mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3), atas  laporan Putri Candrawathi kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J. Putri disebut-sebut bisa dijerat Pasal 220 KUHP.

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar berpendapat, Putri Chandrawathi berpeluang menjadi tersangka. Sebab, tidak ditemukan bukti adanya peristiwa pelecehan seperti laporan yang dibuatnya. Menurutnya, Putri telah memberikan laporan palsu kepada Polres Jakarta Selatan terkait dugaan terjadinya pelecehan seksual tersebut. “Laporannya dapat dikualifikasi sebagai laporan palsu yang juga dapat diproses secara pidana,” ucap Abdul Fickar.

Baca Juga : Ruko Empat Lantai di Margonda Depok Terbakar, Kerugian Capai Rp2 Miliar

Fickar menuturkan, Putri bisa saja dijerat dengan Pasal 220 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). “Ya kalau kejadiannya tidak ada, artinya laporannya palsu, ya. Obstruction of justice. Pasal pidananya Pasal 220 KUHP,” jelas dia.

Guru Besar Hukum Pidana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Supanto mengatakan Putri Candrawathi juga berpeluang ikut terjerat dalam kasus ini. “Dia bisa terjerat kasus laporan palsu atau membuat kabar bohong,” kata Supanto saat dihubungi, Minggu (14/8).

Menurut Supanto, perbuatan itu juga tidak terlepas dari kasus utama yang sedang ditangani oleh penyidik, yaitu mengenai pembunuhan terhadap Brigadir J. “Dalam hukum pidana disebut dengan istilah penyertaan,” katanya.

Baca Juga  Lokmin PKK Kelurahan Pondok Jaya : Gandeng UPF Puskesmas Cipayung, Wujudkan Ketahanan Keluarga

Dia beralasan, berdasarkan keterangan dari penyidik, laporan tersebut sengaja dibuat untuk menghalang-halangi penyidikan terhadap kasus pembunuhan itu. Hal tersebut membuat laporan palsu itu menjadi satu rangkaian dengan kasus pembunuhan yang sedang ditangani.

Sementara, Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi menyebutkan laporan palsu dugaan pelecehan yang dibuat Putri Candrawathi masuk dalam kategori upaya menghalang-halangi proses penyidikan atau obstruction of Justice.

Selain laporan Putri soal dugaan pelecehan seksual, laporan lainnya terkait dugaan percobaan pembunuhan terhadap Bharada Richard Elizier atau Bharada E oleh Brigadir J, juga masuk kategori yang sama.

Menurut Andi Rian, dua laporan itu menjadi satu bagian yang sama masuk dalam kategori upaya menghalangi proses penegakan hukum. “Kami anggap dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori obstruction of justice, menjadi bagian dari upaya menghalangi-halangi pengungkapan dari pada kasus 340 (pembunuhan berencana Brigadir J),” ucap Andi.

Andi menambahkan, penyidik Polri yang menangani laporan polisi tersebut saat ini juga sedang menjalani pemeriksaan etik oleh Inspektorat Khusus (Itsus) Bareskrim Polri. Pemeriksaan tersebut sebagai konsekuensi atas laporan yang tidak terbukti ada dugaan pelecehan maupun ancaman pembunuhan.

Kabareskrim Polri, Komjen Agus Andrianto mengatakan, belum menentukan apakah laporan palsu yang dibuat oleh Putri Candrawathi dapat dipidana atau tidak. Komjen Agus meminta kepada semua pihak untuk menunggu perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh Tim Khusus atau Timsus Polri. “Nanti kami serahkan kepada Timsus Polri mengenai keputusannya seperti apa,” tegas Agus.

Baca Juga  Tidak Terima Dibilang Bau Badan, Seorang Pria Bunuh Perempuan di Hotel Picasso Inn

Perlu diketahui, Putri Candrawathi sebelumnya melaporkan ajudan suaminya, Brigadir J, ke Polres Metro Jakarta Selatan atas dugaan pelecehan seksual. Dugaan pelecehan itu dilaporkan terjadi di rumah dinas suaminya Irjen Ferdy Sambo, di Duren Tiga Jakarta Selatan pada Jumat, 8 Juli 2022 yang akhirnya berujung pada penembakan Brigadir J.

Menurut keterangan awal polisi, Putri disebut teriak dari kamar sehingga membuat ajudan lainnya, termasuk Bharada E dan saksi lainnya yang berada di lantai dua, terkejut dan langsung turun ke sumber suara. Di saat itulah disebutkan terjadi insiden tembak-menembak.

Namun, seiring berjalannya penyidikan yang dilakukan Tim Khusus Polri, terbukti bahwa hal itu hanyalah skenario yang dibuat oleh Ferdy Sambo untuk menutupi kematian Brigadir J.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan tidak bisa memberikan perlindungan kepada istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan, keputusan tersebut diambil lantaran Polri menghentikan penyidikan laporan dugaan pelecehan kepada Putri Candrawathi.

“Sekarang setelah (status kasus Putri) jelas ya tentu saja LPSK tidak bisa memberikan perlindungan karena status hukumnya jadi membingungkan ini, apakah Ibu PC itu korban atau dia berstatus lain,” ucap Hasto kepada media, Sabtu (13/8).

Hasto menduga, Putri Candrawathi memiliki status lain selain korban maupun saksi pelecehan. Sama seperti keterangan polisi, dia meyakini kasus pelecehan terhadap Putri tidak ada. “Kemungkinan besar (tidak diberikan perlindungan) karena kasusnya sendiri tidak ada, jadi pidananya kan tidak ada itu. Tindak pidana yang dia laporkan di mana dia mengaku sebagai korban itu tindak pidananya tidak ada, jadi tentu LPSK enggak bisa memberikan perlindungan,” ungkap Hasto.

Baca Juga  Ini Daftar Produk Israel yang Diserukan untuk Diboikot

Akhirnya, wajah cantik Istri Mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo tampil didepan publik. Kali ini, Putri Chandrawati mendatangi Mako Brimob, Kelapa Dua, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Minggu (7/8). Sekitar 17:50 WIB, Putri bersama tiga mobil rombongannya keluar dari Markas Koprs Brimob tersebut.

Dengan mata yang sembab, Putri turun dari Mobil berjenis kijang Innova berwarna hitam dengan nomor polisi B 3 UTI, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dia yang mengenakan pakaian batik berwarna coklat itu didampingi putri sulung, kuasa hukumnya Arman Hanis, dan ajudan bertatonya Bripka Matius Marey.

Kepada Harian Radar Depok, Putri mengungkapkan, dia beserta keluarga mempercayai proses hukum yang tengah berjalan terkait dengan kasus kematian Brigadir J. Yang menjadi korban dalam tragedi tembak-menembak di rumah dinas suaminya, Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. “Saya Putri bersama anak-anak saya mempercayai dan tulus mencintai suami saya,” ungkapnya di halaman Mako Brimob, Kelapa Dua.

Putri meminta, doa dan dukungan masyarakat terkait peristiwa naas yang menewaskan ajudannya, Brigadir J yang juga ikut menyeret namanya beserta suami. “Saya mohon doa biar kami sekeluarga dapat menjalani masa yang sulit ini, dan saya ikhlas memaafkan segala perbuatan yang kami dan keluarga alami,” katanya, Minggu (7/8) petang. (JPC/det/kom/rd)

Editor : Fahmi Akbar