Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Anggapan liar masih berkecamuk di pikiran publik. Setelah Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman mati, memerintahkan Bharada E atau Richard Eliezer membunuh Brigadir Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Motif aksi nekat jenderal bintang dua itu belum terjawab, Selasa (9/8). Polri kini terus menggali saksi dari istri Irjen Ferdy Sambo, soal pemicu rekayasa tembak menembak pada Jumat (8/7) lalu.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan, pihaknya saat ini masih mendalami kepada para saksi soal motif Irjen Ferdy Sambo memberi perintah tersebut, termasuk ke istrinya, Putri Candrawathi.

Baca Juga : Irjen Ferdy Sambo Terancam Pidana Hukuman Mati

“Tadi sudah saya jelaskan bahwa terkait dengan motif saat ini sedang dilakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan terhadap Ibu Putri,” kata Sigit saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8).

Jenderal Sigit menyampaikan, saat ini belum bisa menyimpulkan apa motif Irjen Sambo memerintahkan pembunuhan itu. Namun dia memastikan motif itu akan jadi pemicu utama terjadinya pembunuhan tersebut. “Jadi saat ini belum bisa kita simpulkan, namun yang pasti ini menjadi pemicu utama terjadinya peristiwa pembunuhan. Untuk apa kesimpulannya, tim saat ini terus bekerja. Ada beberapa saksi yang saat ini sedang diperiksa. Tentunya nanti akan kita informasikan,” ucapnya.

Kemudian Sigit membantah terjadinya tembak-menembak antara Bharada E dan Brigadir J. Dia menegaskan peristiwa ini merupakan pembunuhan. “Namun yang paling penting peristiwa utamanya apakah tembak-menembak atau yang terjadi penembakan ini saya kira tadi sudah dijelaskan secara terang,” ujarnya.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menduga, motif mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdy Sambo menembak Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J relatif sensitif. Mahfud menyebut, motif tersebut mungkin hanya bisa didengar oleh orang dewasa.

“Soal motif kita tunggu hasilnya biar nanti di konstruksi hukumnya, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa,” kata Mahfud di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (9/8).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menyerahkan sepenuhnya kepada tim khusus Polri untuk mengusut kasus dugaan pembunuhan terhadap Brigadir J. Memang hingga kini, Polri belum membuka secara gamblang terkait motif dugaan penembakan terhadap Brigadir J.

Polri sejauh ini baru membuka tabir bahwa tidak ada peristiwa tembak menembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang berlokasi di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Melainkan, Ferdy Sambo diduga menembakan ke dinding agar diduga ada peristiwa tembak-menembak.

Meski demikian, Mahfud mengapresiasi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah mengungkap secara terang pelaku pembunuhan terhadap Brigadir J. “Pemerintah mengapresiasi Kepolisian Republik Indonesia, Polri khususnya Kapolri Bapak Listyo Sigit Prabowo yang telah serius mengusut dan membuka kasus ini secara terang,” ucap Mahfud.

Terpisah, Kuasa hukum Putri Candrawati, Arman Hanis memastikan, kliennya saat ini tidak akan diungsikan ke tempat lain setelah suaminya ditetapkan sebagai tersangka.

“Putri dipastikan tetap berada di rumah pribadinya di Jalan Saguling III, Komplek Pertambangan, Duren Tiga, Jakarta Selatan,” kata Arman Hanis di Jalan Singuling III, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Arman mengatakan, saat ini Polri masih melakukan penggeledahan di kediaman tersebut.  “Kami tim kuasa hukum mendukung sepenuhnya agar penyidik dapat bekerja secara maksimal bekerja mendampingi anggota keluarga yang ada di dalam,” ujarnya.

Proses penggeledahan, kata Arman, berlangsung lancar dan aman.  Selain itu, kondisi rumah pribadi Sambo hingga pukul 21:47 WIB, masih dijaga ketat belasan anggota Brimob dengan menggunakan laras panjang.(JPC/det/dis/rd)