banpres
SELIDIKI : Dirkrimsus Polda Metro Jaya mengecek ditemukannya beras bantuan Presiden  terkubur di lahan kosong KSU, Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya Kota Depok, Rabu (3/8). ALDY RAMA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Temuan beras bantuan Presiden (Banpres) Joko Widodo (Jokowi) di lahan kosong Kampung Serab, Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya Kota Depok terus didalami kepolisian. Rabu (3/8), Polda Metro Jaya mengecek ke lokasi temuan beras tersebut kurang-lebih sekitar 3,4 ton. Derasnya isu adanya dugaan penyelewenagan sampai membuat pengacara kondang Hotman Paris turun tangan. Dalam kasus tersebut, Hotman Paris akan mendampingi pihak ekspedisi PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Auliansyah Lubis mengatakan, memang ada beras yang ditimbun setelah timnya melakukan pengecekan ke lokasi secara langsung. “Permasalahannya adalah itu beras penimbunan atau beras rusak dan lain sebagainya, sampai saat ini kami masih dalam proses penyelidikan,” ucapnya kepada Harian Radar Depok, Rabu (3/8).

Baca Juga : Beres Sudah, Interpelasi Ditarik, Kartu Depok Sejahtera Pakai Warna Putih

Auliansyah belum bisa menyampaikan beras itu beras apa, dan update dari hasil penyelidikannya akan disampaikan lebih lanjut. Kalau dari hasil sementara yang di dapat keterangan dari pihak JNE, kurang lebih yang tertanam sebanyak 3,4 ton. “Kami akan meminta ahli untuk mengetahui apakah itu hanya beras atau ada barang-barang lainnya, karena saya juga tidak bisa menjawab sekarang,” ungkap Auliansyah.

Kemudian, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih mendalam terkait ditemukannya beras yang berada di lahan kosong tersebut. “Pada intinya kami masih melakukan penyelidikan, tentang apa yang terjadi saat ini,” tegasnya.

Baca Juga  5 Hal Tentang Pencairan BLT untuk Karyawan Bergaji Dibawah Rp 5 Juta

Sementara, Kuasa Hukum JNE, Anthony Djono yang ikut hadir mengaku, akan mengadakan konferensi pers pada Kamis (4/8) pukul 14:00 WIB di Pantai Mutiara. “Kami memohon kepada media untuk hadir, kami akan sampaikan secara detail segala teknisnya, dan kami punya semua dokumen beserta bukti,” ucapnya tegas.

Anthony menerangkan, beras yang nampak dikubur saat di lahan kosong tersebut bukanlah beras bansos melainkan beras milik JNE. Menurutnya, beras itu dikubur karena kondisinya sudah rusak, setelah beras dari gudang Bulog diambil dalam perjalanan terkena hujan. Sehingga banyak yang basah tidak layak untuk dikonsumsi. “Tidak mungkin beras yang sudah rusak kami antar dan kami kasih kepada penerima manfaat,” terangnya.

Anthony mengungkapkan, awalnya memang beras tersebut ditujukan untuk dibagikan buat bansos, karena rusak akhirnya diganti. Diganti dengan barang yang setara, sehingga masyarakat tidak ada yang komplain. “Intinya adalah hak masyarakat di sini tidak ada yang berkurang sama sekali, besok secara teknis akan kami jelaskan secara detail,” tegasnya.

Pantauan Harian Radar Depok, pengecekan lahan yang menjadi lokasi beras bansos dikubur juga melibatkan beberapa pihak seperti Kemensos RI dan Polres Metro Depok, Polda Metro Jaya. Proses pengecekan lahan juga dilakukan seorang warga bernama Rudi Samin selaku pemilik lahan.

Baca Juga : Bharada E Tersangka Penembak Brigadir J, Pengusutan Dilanjut 

Pengacara kondang Hotman Paris akan mendampingi pihak ekspedisi JNE.
Pihaknya akan melakukan konferensi pers terkait kasus beras ditimbun yang ditemukan di Depok. Melalui konferensi pers itu, nantinya Hotman Paris akan menjelaskan beberapa hal terkait tuduhan penimbunan beras bansos oleh pihak JNE.

Baca Juga  Bukan Soal Murah atau Mahal, Wamentan : Yang Utama Masyarakat Mampu Membeli

“(Akan menyampaikan) hak jawab JNE atas pemberitaan tuduhan penimbunan beras berupa barang paket bantuan sosial Presiden RI (Beras Banpres) yang dikubur/ditimbun di kawasan Kampung Serab, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya Kota Depok,” ujar Hotman Paris dalam undangan konferensi pers yang dibagikan, Rabu (3/8).

Dirinya juga menyebut, akan melayangkan somasi kepada sejumlah pihak yang dianggap telah memfitnah kliennya terkait beras bansos yang dikubur di Depok tersebut. “Somasi terbuka terhadap pihak-pihak yang melakukan fitnah,” kata Hotman Paris.

Baca Juga : Tok! Guru Agama Cabul di Depok Dikurung 19 Tahun

Terpisah, Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini menjelaskan, penelusuran dari tim Kementerian Sosial (Kemensos) menunjukkan sembako bahwa beras yang ditimbun di Depok tersebut merupakan kejadian pada 2020.

Pengiriman bantuan dilakukan saat terjadi hujan deras, membuat kerusakan bahan makanan sehingga tidak layak konsumsi. Kerusakan telah diganti oleh penyedia jasa transporter yakni JNE.

“JNE telah membeli beras yang sama kepada Perum Bulog lalu menyalurkan kembali kepada KPM sesuai daftar penerima,” kata Risma dalam keterangan tertulis, Rabu (3/8).

Hasil ini merupakan hasil investigasi tim Kemensos yang dikirim untuk mengecek langsung ke lapangan dan melakukan uji petik. Tim ini dari Inspektur Jenderal (Itjen) Kemensos yang datang ke Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.

Baca Juga  Lapor Dulu Baru Ditindak

Dari pengamatan langsung di lapangan, tim mendapatkan dua catatan penting, yakni dari kemasan beras dan jenis sembako yang tertimbun. Mensos menyatakan, karung beras tidak ada label khusus sebagai kebijakan standar pada salur bansos tahun 2020.

“Jadi berasnya tidak ada labelnya. Selain itu, ditemukan pula ada tepung, dan telur. Padahal bansos waktu itu hanya beras,” kata Mensos. Apakah ketiadaan label pada karung beras karena dicopot atau bagaimana, tim belum bisa memastikan.

Setiap beras bantuan dari Kemensos diberikan label “Bantuan Presiden RI melalui Kementerian Sosial”. Ini merupakan kebijakan standar pada salur bansos tahun 2020.

Kedua, tim Itjen mencium aroma kurang sedap yang diduga telur busuk dan tepung terigu pada bahan makanan yang tertimbun.

Tanpa ciri tersebut, Kemensos menduga beras dan bahan makanan lain yang tertimbun tersebut bukan merupakan bantuan yang disalurkan melalui Kemensos untuk penanganan dampak Covid-19. “Jadi kami belum menemukan keterkaitan sembako tersebut dengan program Bansos Kemensos. Namun demikian, kami akan menunggu penyelidikan lebih lanjut yang dilakukan oleh Barekrim Mabes Polri,” kata Mensos.

Selain responsif, Kemensos juga kooperatif dengan memberikan akses kepada Polri untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk mengungkapkan lebih jauh terkait sembako tersebut. Sejak awal, Kemensos telah menjalin kerja sama dengan Satgas Pangan Bareskrim Polri.(ama/rd)

Jurnalis : Aldy Rama 

Editor : Fahmi Akbar