Artikel Heri Solehudin
Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja*)
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM, Hari ini kita bangsa Indonesia memperingati HUT Republik Indonesia yang ke 77, yang artinya di usia yang sudah cukup umur untuk sebuah bangsa dari kelahirannya sejak 77 tahun yang lalu bangsa ini merdeka. Sebuah cita-cita luhur dan kesepakatan seluruh anak bangsa dalam memperjuangkan dirinya, rakyaknya dan bangsanya dari cengkeraman kolonial Belanda, yaitu perjuangan meraih keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (bidang hukum), memperjuangkan tercapainya kesejahteraan umum (bidang ekonomi), mencerdaskan kehidupan bangsa (bidang pendidikan). Pertanyaan kemudian adalah dalam usianya yang sudah mendekati satu abad ini apakah tiga hal yang dicita-citakan oleh para founding father kita  telah tertunaikan ?

Dinamika Perjalanan Bangsa

Memperingati HUT Kemerdekaan dapat menjadi momentum bagi kita untuk melakukan review perjalanan bangsa dengan segala dinamikanya, baik dinamika sosial, dinamika ekonomi dan dinamika politik. Pergantian kekuasaan, Orde Lama ke Orde Baru, Orde Baru ke Orde Reformasi dan Orde Reformasi ke Orde Pasca Reformasi saat ini telah menorehkan sejumlah catatan penting bagi bangsa kita. Tumbangnya sistem otoritarianisme Orde Baru telah membuka kran demokrasi yang pada giliranya kemudian merubah seluruh tatanan kehidupan berbangsa. Dalam konteks pemerintahan saat ini HUT Kemerdekaan seharusnya merupakan momentum tertunaikannya janji-janji kemerdekaan yang telah terikrar sebagai sebuah kesepakatan bangsa.

Pada hakekatnya belumlah merdeka sebuah negara yang individu masyarakatnya saja masih merasakan adanya penindasan, teror, himpitan kemiskinan dan berbagai kegelisahan seperti sekarang ini. Apa yang menjadi cita-cita luhur pada pendiri bangsa juga masih terlalu jauh untuk dikejar, tiap hari, tiap jam dan tiap menit kita mendengarkan keluhan rakyat kecil yang kurang beruntung secara ekonomi. Harga-harga  sembilan bahan pokok terus melambung dan pemerintah kurang mampu untuk mengendalikannya, meskipun sudah berkali-kali berganti Menteri. Pada saat yang sama pemerintah terkesan berbisnis dengan rakyatnya melalui BUMN, subsidi BBM terus dikurangi, Tarif Dasar Listrik terus mengalami kenaikan, Gas LPG untuk rumah tangga naik tajam. Muncul pertanyaan apakah BUMN harus untung besar pada saat rakyatnya kesusahan? Lalu dimana kehadiran negara yang seharusnya melindungi rakyatnya dan mencukupi hajat hidupnya, bukankah BUMN hadir untuk Negara dan Negara ada karena rakyat?

Merdeka Dalam Seremonial

Jika hari ini bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan, lalu apa makna kemerdekaannya ketika negara belum mampu menghadirkan keadilan bagi rakyatnya, belum mampu memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa untuk menempuh pendidikan. Pada tahun ke 77 sejarah perjalanan bangsa ini masih mencatatkan cerita kepahitan bagi rakyat Indonesia, negara belum hadir dalam menunaikan janji-janji kemerdekaan yang sejati, dan sebaliknya selalu menampilkan pencitraan-pencitraan untuk menutup-nutupi setiap kegagalan dalam tata kelola pemerintahan. Jangan merdeka hanya dalam seremonial saja.

Terkadang bangsa ini lalai, jika kemerdekaan Indonesia dapat tercapai atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya bangsa ini lupa mensyukuri dan merenungi akan makna kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan 77 tahun silam. Maka sebaiknya mari sejenak kita berefleksi, mencoba merenungi dan mentasbihkan kembali makna dari kemerdekaan bangsa ini. Sebagai umat beriman kita tentu harus menyadari bahwa semua ini adalah karunia dari Allah Yang Maha Kuasa, sebagai sebuah karunia besar untuk bangsa ini kemerdekaan harus kita syukuri dengan  cara yang baik. Sebagai Pemimpin tunaikan janji-janjinya kepada rakyat, sebagai Guru kita tidak boleh lelah untuk selalu menyiapkan generasi masa depan bangsa, sebagai Pengusaha mari kita bantu bangsa ini keluar dari problematika ekonomi yang semakin tidak menentu, sebagai Akademisi dan Cendekiawan mari kita berikan kontribusi pemikiran yang cerdas dan bermanfaat agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 2022.

*Penulis: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja (Pemerhati Sosial Politik Pascasarjana Uhamka Jakarta, Wakil Ketua Forum Doktor UI, Direktur Heri Solehudin Center).