Pakar Kriminologi dan Kepolisian, Prof Adrianus Meliala
yamaha-nmax

RADARDEPOK.COM – Pembunuhan Brigadir J dikit lagi terang benderang. Kapolri Jendral Listyo Sigit sudah mengumumkan mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan ajudannya.

Masyarakat sempat dibuat bingung dengan versi kematian Brigadir J yang kerap berubah-ubah, awalnya pengungkapan kasus tembak–menembak yang dikatakan sebagai keladi kematian Brigadir J.

Baca Juga : 320 ASN Depok Masuk Masa Pensiun

Setelah Mabes Polri membuat Tim Khusus untuk menyelidiki kejanggalan penyebab kematian Brigadir J, akhirnya terkuak jika tidak ada aksi tembak menembak apalagi pelecehan seksual seperti yang dituduhkan terhadap Brigadir J. Bahkan, salah satu pelaku penembakan Brigadir J, Bharada E yang merupakan ajudan Irjen Ferdy Sambo sudah mengaku Brigadir J sengaja ditembak atas perintah atasannya.

Menanggapi hal ini, Pakar Kriminologi dan Kepolisian, Prof Adrianus Meliala mengatakan, skenario tembak menembak antara Bharada E dengan Brigadir J merupakan skenario yang dilakukan Irjen Ferdy Sambo untuk menutupi kejahatannya. “Ini termasuk pembunuhan biasa. Akan tetapi karena pelakunya polisi lalu berusaha merancang skenario agar dia terbebas dari hukuman,” kata Prof Adrianus kepada Harian Radar Depok, Selasa (9/8).

Menurut Prof Adrianus ada alasan kuat yang mendorong para pelaku melakukan pembunuhan terhadap Brigadir J. “Terlihat suasana hati pembunuh yang emosional,” tegasnya.

Dalam proses penetapan tersangka baru atas penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, tim khusus yang dibentuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, melakukan penggeledahan di tiga lokasi di rumah Irjen Ferdy Sambo.
Penggeledahan itu berlangsung pada Selasa (9/8). Kadivhumas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, melakukan penggeledahan dan penyitaan di tiga lokasi rumah eks Kadivpropam Irjen Ferdy Sambo.

Penggeledahan itu tepatnya di rumah pribadi Sambo. Yakni rumah dinas, Jalan Duren 3 nomor 58, dua rumah di kompleks kepolisian, dan satu di rumah mertua Ferdy Sambo, di Jalan Bangka, Jakarta Selatan.
“Sudah dapat izin dari ketua PN Jaksel untuk mencari barang bukti yang terkait kasus penembakan yang terjadi di TKP,” ujar Dedi Prasetyo, Selasa (9/8).

Namun, mantan kapolda Kalteng itu belum merinci hasil penggeledahan tersebut. “Hasilnya apa? Karena masih proses, nanti juga akan disampaikan,” katanya.
Dedi menyebut, kehadiran pasukan Brimob yang berjaga di titik lokasi penggeledahan untuk antisipasi terjadinya gangguan saat penggeledahan. Selain itu merupakan permintaan dari penyidik. “Ya itu diskresi dari penyidik. Kalau penyidik menilai seperti itu, penyidik minta bantuan untuk back up,” pungkasnya.

Hingga kini penggeledehan di tiga rumah tersebut masih berlangsung. Hanya satu rumah di Jalan Bangka yang sudah selesai digeledah dan dibawa beberapa barang bukti.
Irwan Irawan selaku k uasa Hukum Ferdy Sambo dan istri membenarkan, terjadinya proses penggeledahan dan penyitaan dari rumah mertua Ferdy Sambo di Jalan Bangka XI, Kemang, Jakarta Selatan hari ini, Selasa (9/8).

Irwan mengatakan, penyidik dari kepolisian telah menyita enam barang yang ada di rumah tersebut. “Sepatu, baju, dan ada beberapa hal lagi yang disita. Enam itemlah,” ujarnya.(dra/JPC/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar