vihara
SEMBAHYANG : Seorang pengunjung Vihara Gayatri ketika memandikan diri pada permandian Sumur Tujuh yang diyakini memiliki sejumlah khasiat. GERARD SOEHARLY/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

Vihara Gayatri yang terletak di Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok, kini telah berevolusi menjadi sebuah klenteng yang kaya akan unsur plural. Begitu pula kisha dibaliknya, ada sejumlah cerita menarik yang belum banyak diketahui masyarakat.

Laporan : Gerard Soeharly

RADARDEPOK.COM, Tapak kaki wanita cantik bermata sipit mulai melangkah masuk dari arah luar Vihara Gayatri menuju kedalam. Angin yang cukup kencang di hari itu perlahan menerbangkan sebagian rambut hitamnya.

Wanita keturunan Indo-Cina itu menggenggam beberapa batang hio yang telah dibakar menyala. Asap hio teramat wangi jika asapnya terhirup oleh hidung. Langkah kakinya sangat cepat.

Dia memilih memasuki salah satu ruangan disebelah kanan, Vihara Gayatri. Ruangan itu cukup untuk puluhan orang melakukan senming atau sinbeng, kata itu lebih akrab dengan sebutan sembayang.

Baca Juga  Tanah Baru Depok Gencarkan Motivasi Perempuan Kepala Keluarga

Dalam ruangan itu terdapat tiga patung macan, jika dilihat sekilas hampir tidak beda dengan aslinya. Patung tersebut ternyata, merupakan penjaga pada ruangan yang dipercayai sebagai tempat mampirnya, Prabu Siliwangi.

Pengurus Vihara Gayatri, Wira mengungkapkan, ruangan itu biasanya digunakan Linawati selaku Pemilik Klenteng tersebut untuk melakukan komunikasi dengan Prabu Siliwangi.

“Jadi karena punya kemampuan spritual, biasanya ibu sembayang disini untuk komunikasi dengan Eyang Prabu,” ujarnya saat disambangi Radar Depok, beberapa waktu lalu.

Selain petilasan Prabu Siliwangi, kata Wira, setidaknya ada sekitar 50 tempat untuk sembayang. Setiap spot, tentu berdiam dewa yang berbeda pula. Bagi pengunjung, dipersilahkan untuk menyembah setiap dewa yang mereka percayai. Namun, identitas dari klenteng itu adalah Dewa Kuan Im. Dewa kebahagiaan itu dipercayai berdiam diri di Klenteng tersebut dan menjaga setiap pengikutnya.

Baca Juga  Gerindra Panaskan Mesin Partai

Geser kedalam Klenteng sekitar 20 meter, pengunjung akan disambut patung Kwan Kong yang telah diangkat menjadi dewa. Dia dikenal sebagai dewa perang. Patung tersebut memiliki tinggi sekira tiga meter. Tangan kanannya, memegang sebilah tongkat panjang yang diujungnya terdapat mata pisau.

“Kalau Dewa Kwan kong itu dia angkat menjadi dewa karena sikap satya dan setianya,” tutur Wira.

Paling menarik, Klenteng itu terdapat spot permandian yang dinamakan Sumur Tujuh. Tempat tersebut paling diminati setiap pengujung. Ada yang datang untuk berswafoto. Ada pula yang ingin membuang sialnya.

“Sumur Tujuh ini tempat umum jadi siapa saja bisa mandi disini, semua tergantung kepercayaan masing-masing saja, kalau kita percaya akan berbalik ke kita,” ujarnya.

Baca Juga  SMKĀ Kusuma Bangsa Gelar Ujian Praktik dengan Prokes Ketat

Sebenarnya, sumur itu berjumlah 10 unit yang terdiri dari tujuh sumur sejajar, sumur kedelapan adalah kolam, sumur kesembilan adalah sumur ditengah kolam. Sedangkan, sumur kesepuluh ada dibagian paling pojok Klenteng tersebut.

Tentunya, setiap sumur itu memiliki fungsi yang berbeda. Misalnya untuk mempeoleh rejeki, membuang kesialan, menyembuhkan penyakit, hingga mendapatkan jodoh.

Namun siapa sangka, sumur ini merupakan wujud nyata dari mimpi sang pemilik Vihara Gayatri. Saat itu dalam mimpi Linawati, dia mendapatkan perinah untuk membuat sumur tersebut pada area klenteng.

Dalam setiap sumur itu diberi nama Sri Ningsih. Nama itu dianggap sakral dan memiliki peran sampai sumur itu benar-benar dibuat oleh Linawati. Kendati demikian, Wira tidak mengetahui secara pasti. (Selesai)

Editor : Junior Williandro