Artikel Heri Solehudin
yamaha-nmax

Oleh: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja*)

RADARDEPOK.COMBBM Naik Tinggi, Susu Tak Terbeli, Orang Pintar Tarik Subsidi, Mungkin Bayi Kurang Gizi. Itulah sebait lagu Iwan Fals yang hits di sekitar tahun 1982an pada saat puncak kejayaan orde baru.

Paska pemerintah kembali menaikkan harga BBM minggu ini lagu itu layak untuk kita suarakan kembali sebagai bentuk keluh kesah rakyat kecil akan ketidak pekaan penguasa saat ini terhadap nasib Wong Cilik.

Alasan bahwa subsidi salah sasaran, APBN jebol hanya untuk subsidi BBM dan segala macam argumen yang diberikan pemerintah untuk membenarkan kebijakan yang akan berdampak pada semakin tingginya angka kemiskinan dan berbagai problematika sosial ekonomi kita ke depan.

Jika kita ingat bahwa dulu Presiden Jokowi dipilih sebagai bagian dari kekuatan rakyat kecil (Wong Cilik) akan tetapi hari ini kita semua tahu bahwa kebijakannya justru sangat melukai hati Wong Cilik.

Gejolak protes masyarakat saat ini baru terjadi di kalangan mahasiswa meskipun jumlahnya semakin massif di berbagai daerah di tanah air, akan tetapi tidak menutup kemungkinan jumlah ini akan terus bertambah dan masyarakat terdampak juga ikut mendukung aksi demonstarsi mahasiswa dalam menolak kenaikan harga BBM.

Maka untuk menekan gejolak semakin melebar biasanya akan merilis hasil survey terakhir terkait kenaikan harga BBM, dimana yang keberatan kenaikan BBM hanya kurang dari 25% sementara yang setuju kenaikan harga BBM dengan bahasa pengalihan subsidi BBM mencapai 65-70%. Sebuah upaya pembodohan yang semakin sistematis dan terstruktur.

Dampak Kenaikan BBM

Dalam konteks masyarakat kita saat ini adalah suatu kebohongan besar jika rakyat baik-baik saja dengan kenaikan harga BBM ini, mengingat bahwa kenaikan harga BBM pasti akan selalu diikuti dengan naiknya semua kebutuhan pokok masyarakat terutama sembilan bahan pokok (sembako), dan sejumlah barang kebutuhan pokok lainnya.

Kondisi inilah yang semakin membuat masyarakat terhimpit kesulitan karena baru saja mencoba bangkit setelah terdampak pandemik Covid 19 kini pemerintah kembali menaikkan harga BBM. Menteri Keuangan Sri Mulyani secara terang-terangan menyatakan bahwa jika BBM tidak dinaikkan maka kita tidak akan mampu membayar bunga, sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, meskipun pemerintah selalu menyatakan bahwa rasio hutang kita masih dalam keadaan aman.

Istilah penyesuaian harga sebagaimana yang sering kita dengar adalah bagian dari pembodohan publik, mengingat bahwa dalam sejarahnya ketika minyak dunia naik BBM dinaikkan dan ketika harga minyak dunia turun belum ada sejarahnya pemerintah turunkan harga BBM sebesar menaikkannya, maka rasannya tidak tepat menggunakan istilah menyesuaikan.

Akan lebih bagus kalau pemerintah bersifat terbuka, apa adanya jangan ditutup-tutupi, bukankah pemerintah saat ini sedang all out dalam pembangunan IKN, kenapa pemerintah tidak jujur saja bahwa pencabutan subsidi BBM akan dialokasikan untuk pembangunan IKN.

Berkaca pada Post Truth Amerika Serikat

Maka tidak berlebihan rasanya jika untuk menggambarkan kondisi saat ini sebagai era kebohongan (Post-truth). Istilah   Post Truth atau era pasca-kebenaran digunakan secara luas untuk mendefinisikan cara masyarakat modern yang cenderung mengkonsumsi dan menyikapi informasi.

Menurut kamus Oxford, post-truth adalah kata sifat yang didefinisikan sebagai “berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding daya tarik emosional dan kepercayaan pribadi”.

Istilah ini pertama kali digunakan dalam sebuah artikel yang ditulis dramawan Serbia-Amerika Steve Tesich yang dipublikasikan di majalah The Nation pada Januari 1992 dengan judul A Government of Lies.

Dalam artikel tersebut, Steve Tesich mengungkapkan pandangannya mengenai serangkaian skandal pemerintahan Amerika Serikat yang pada akhirnya mendorong rakyat Amerika untuk memilih “berlindung” dari kebenaran.

Sebagai penutup marilah kita mengingat kembali akan potensi bangsa yang besar ini, Bapak Presiden coba ingatlah janji-janji kampanyenya bahwa kita punya banyak potensi, baik potensi SDM maupun SDA kita yang melimpah, kenapa kita tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri, juga kenapa ketergantungan terhadap minyak dunia begitu tinggi.

Banyak ladang minyak yang bisa kita gali di bumi kita ini, banyak sarjana ahli perminyakan yang faham tentang hal itu, akan tetapi kenapa semua hanya menjadi diskusi saat debat capres, kenapa setelah 8 tahun berkuasa semua itu hanya pepesan kosong.

Semoga kita dapat terhindar dari era kebohongan ini… Wassalam.

*)Penulis: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja (Pemerhati Sosial Politik Pascasarjana Uhamka Jakarta, Wakil Ketua Forum Doktor Sospol UI, Direktur Heri Solehudin Center).